
***
Acara berjalan sesuai rencana. Baik keluarga Jenna atau pun keluarga Zayn, keduanya sama sama bahagia dan juga senang karena acara siang ini benar benar sukses, berjalan tanpa adanya kendala. Mereka semua tinggal menantikan acara resepsinya saja.
Sejak tadi, beberapa keluarga bergantian untuk berfoto bersama dengan kedua pengantin. Sampai saat ini, Jenna masih dengan diam seribu bahasanya. Entah mengapa, bahkan sejak tadi beberapa orang yang ikut berfoto juga mengucapkan selamat pada Jenna juga Zayn. Zayn mengucapkan terima kasih sedangkan Jenna hanya mengangguk dan tersenyum saja.
Semua tamu undangan sedang gembira menikmati hidangan sembari bercanda tawa. Jenna ikutan senang juga. Apalagi melihat semua keluarganya yang terlihat sangat sangat senang.
"Apa kamu masih dengan mode diam kamu?" Tanya Zayn.
"Aku malu mas," ucap Jenna pelan.
"Kenapa malu? Kamu adalah pemilik acara ini," ucap Zayn.
"Kamu juga," ucap Jenna.
Zayn mengangguk, "Iya kita berdua. Jadi kita harus berbicara dengan tamu undangan sayang. Jangan terus diam begini."
"Ya tapi malu mas," ucap Jenna kekeuh.
Rona merah diwajahnya semakin memerah. Bahkan hawa panas menyerangnya. Bahkan Jenna merasa udara di dalam sini cukup panas sekali, padahal disini disimpan banyak pendingin ruangan.
"Apa kamu malu karena menikah dengan ku?" Tanya Zayn.
"No. Bukan itu mas," ucap Jenna.
"Lalu?"
"Aku malu karena disini banyak sekali orang. Iya memang aku sudah sering melihat banyak orang, tapi konteksnya beda lagi. Sekarang aku menikah dengan kamu, tapi bukan berarti malu menikah dengan kamu. Enggak sama sekali mas. Aku hanya malu karena teruss ditatap semua orang sejak tadi," ucap Jenna.
__ADS_1
"Salahkan diri kamu yang terlalu cantik. Makanya orang orang disini melihat ke arah kamu," ucap Zayn.
Jenna melirik ke arah Zayn dan mencubit pelan paha suaminya ini. Bukannya kesakitan Zayn justru malah terkekeh dan menarik tangan Jenna lalu menggenggamnya.
"Akhirnya," ucap Zayn.
"Akhirnya apa?" Tanya Jenna mengernyit.
"Akhirnya aku menikahi kamu, menjadikan kamu milik ku seutuhnya. Rasanya terlalu cepat, tapi jika dipikir pikir butuh waktu dan drama untuk mendapatkan kamu," ucap Zayn.
"Kamu saja yang terlalu berdrama. Kamu kan bisa mendekati ku secara normal seperti orang biasa. Kenapa harus melibatkan wanita lain di hubungan kita?" Tanya Jenna.
"Karena jika aku tidak bertindak seperti itu, hidup kamu dalam bahaya sayang," ucap Zayn.
"Bahaya bagaimana, aku aman mas. Penjagaan papi sangat ketat," ucap Jenna.
"Tapi terkadang mereka lengah sayang," ucap Zayn.
Zayn menggelengkan kepalanya. Ada ada saja wanitanya ini.
***
Dilain tempat, Eliza sedang kocar kacir mencari tiket tercepat menuju ke Indonesia. Sudah siang hari namun dia tidak mendapatkan satu tiket pun. Heran sekali, tiket penerbangan Paris Indonesia selalu habis dan tidak tersedia.
Eliza benar benar heran, bagaimana bisa itu semua terjadi. Apa iya tiket habis, memangnya semuanya pergi ke Indonesia? Kan tidak mungkin. Ini sudah bandara kedua yang Eliza datangi, namun hasilnya nihil. Tidak ada lagi bandara, paling ada juga sangat jauh.
"Sudahlah Liz, biarkan saja Zayn menikah," ucap Vocky. Pria itu sejak tadi sudah membantu Eliza mencari tiket penerbangan menuju ke Indonesia, namun bukannya mendapatkan tiket, dia malah mendapatkan lelahnya saja.
"Kamu gila?! Aku gak akan pernah sudi membiarkan Zayn menikah dengan wanita gatal itu!" Ucap Eliza emosi.
__ADS_1
"Lalu kau mau apa? Tiket tidak ada, jet ku sedang dalam pemeliharaan. Bagaimana kau bisa terbang ke Indonesia?" Tanya Vocky.
"Entahlah Vock, aku juga bingung. Bagaimana caranya aku kesana?! Semua tiket habis terjual bahkan untuk memakai kapal laut pun tidak memungkinkan akan sampai hari ini. Aku bingung, kenapa jet milik mu tidak bisa dipakai? Harusnya kan bisa Vock," ucap Eliza.
"Pakai saja jika kau mau kehilangan nyawa mu. Aku masih sayang dengan nyawa ku," ucap Vocky.
Eliza mendesah kesal. Dia bahkan sudah kebingungan harus bagaimana lagi caranya dia mencari tiket penerbangan ke Indonesia. Kesempatannya sudah benar benar hilang. Zayn sudah menikah dengan Jenna.
Kabar pernikahan Jenna dan Zayn tentu saja sudah sampai ke telinganya. Apalagi internet dan media lainnya sedang gembor gembornya membicarakan hal tersebut. Awalnya Eliza benar benar tidak percaya dengan berita itu semua. Ia kira kedua manusia itu masih di paris. Ternyata mereka sudah kembali ke Indonesia dan melangsungkan acara pernikahan. Salahnya juga yang terus menerus menerima klien di club. Dia bahkan melupakan hal itu.
"Ayo pulang. Meskipun mereka sudah menikah masih banyak cara untuk memisahkannya. Kau memang gagal hari ini, tapi jangan sampai gagal di kemudian harinya," ucap Vocky.
Wait, kenapa Vocky mengatakan ini? Apa dia...
"Iya, aku tertarik dengan Jennaira Adam. Sudah lama aku mendengar namanya di dunia bisnis. Dia salah satu wanita yang tidak bisa dianggap remeh dalam hal bisnis. Peningkatan perusahaan Adam's juga karenanya. Selain pintar, dia juga cantik. Sangat cantik," ucap Vocky.
"Lebih cantik aku dari pada dia Vock. Berhenti menyebut namanya apalagi memujinya. Aku muak mendengarnya," ucap Eliza.
"Menurut mu, tidak menurut ku atau pun beberapa pria yang mengenalnya. Banyak yang menginginkan wanita seperti Jennaira, sayangnya Zayn yang lebih dulu mendapatkannya. Tapi itu tidak akan bertahan lama," ucap Vocky.
Eliza terdiam dan tidak menanggapi ucapan Vocky. Dia kesal dengan laki laki ini. Kenapa harus dia membela bahkan memuji Jenna? Padahal Eliza jauh lebih baik dari pada Jenna. Cantik juga lebih cantik dia. Heran sekali. Namun...
"Vock, bagaimana jika kita bekerja sama untuk memisahkan Jenna dan Zayn? Kau mendapatkan Jenna dan aku mendapatkan Zayn," ucap Eliza.
"Saran yang bagus, tapi aku memilih bekerja sendiri. Kau akan ambil bagian mu nanti," ucap Vocky. Pria itu pun melenggang pergi dari sana. Eliza tentu saja mengikutinya. Karena disini dia tidak memiliki kenalan lagi. Selama di Paris, Eliza memang menumpang hidup pada Vocky.
Vocky sendiri tidak masalah dengan hal itu. Yang penting dia bisa memanjakan dirinya meskipun milik Eliza sudah longgar dan kurang enak. Tapi cukup lah untuk memuaskan nafsunya. Dari pada menyewa jal*ng, dia harus keluar uang. Bukan, bukan masalah dia pelit. Hanya saja rasa jal*ng dan Eliza sama saja. Tidak terlalu memuaskan namun cukup.
"Vock, aku serius. Tolong pikirkan tawaran ku, aku yakin jika kita bekerja sama kita akan berhasil memisahkan mereka. Setelah itu kita bisa mengambil bagian kita masing masing," ucap Eliza.
__ADS_1
"Terserah," ucap Vocky acuh.
Tbc.