One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
183. Pertengkaran Kecil


__ADS_3

***


Berbeda dengan pasangan Jenna dan Zayn, Ryan dan Ale justru langsung bangun dan mandi seperti biasanya untuk kembali memulai aktivitas. Ale hari ini harus ke restoran keluarganya untuk melihat perkembangan kemajuannya. Semoga saja angka pendapatan tidak stuck di situ situ saja. Ale ingin restorannya mendapatkan keuntungan banyak aga4 dia bisa menaikan gaji karyawan karyawan disana beserta dengan kokinya.


Setelah cukup lama diam tadi setelah matanya terbuka, Ale memutuskan untuk bangun dan mandi. Di susul Ryan yang bangun dengan keadaan kesal karena Ale meninggalkannya di kamar sendirian. Bahkan sampai saat ini pria itu terus saja cemberut. Ale tidak mau ambil pusing, toh Ryan sudah besar juga. Seharusnya tidak perlu seperti itu kan?


Ale membuat sarapan paginya sendiri, mengingat dia memang lebih menyukai sarapan roti sandwich buatannya. Dia juga membuatkannya untuk Ryan, karena pasti pria itu akan kelaparan, sama sepertinya.


Saat Ryan sedang mandi dan bersiap, Ale turun ke lantai bawah tepatnya ke dapur untuk masak. Dia hanya membuat roti sandwich dengan segelas susu. Sementara untuk Ryan dia membuatkan kopi. Pria itu memang selalu minum kopi di pagi hari.


"Morning dear," sapa Ryan sembari memeluk Ale yang sedang menuangkan susu.


"Lepas Yan, nanti susunya tumpah," ucap Ale. Bukannya menjawab sapaan Ryan, Ale justru malah memperingatinya. Padahal kan Ryan hanya rindu dengan wanitanya.


"Mau susu," ucap Ryan.


"Tumben, biasanya juga minun kopi," ucap Ale. Sia sia, dia padahal sudah membuatkan segelas kopi untuk Ryan. Ale pun mengambil gelas lagi untuk menuangkan susu, karena Ryan menginginkannya.

__ADS_1


"Maunya susu kamu," ucap Ryan. Tangannya dengan nakal naik ke atas dan menangkup squishy Ale dengan mudahnya.


Ale menghela nafas beratnya kemudian meletakan gelas dengan cukup keras sampai sampai gelas itu pecah. Ada sedikit luka di tangannya akibat gesekan luka tersebut.


"Astaga dear, kamu apa apa sih?! Kok dibanting gitu," ucap Ryan sedikit tinggi saat melihat darah keluar dari tangan Ale.


"Aku kayak udah gak punya harga dirinya aja di depan kamu. Kamu dengan seenaknya jamah tubuh aku, tanpa berpikir aku menerimanya atau tidak," ucap Ale. Wanita itu mendorong tubuh Zayn dan pergi dari sana mengambil tasnya. Ia lebih baik segera pergi dari sana, ia sudah kesal sekaligus lelah dengan tingkah Ryan.


Ryan tentu saja mengejarnya. Pria itu tidak mungkin diam saja setelah wanitanya pergi dari depannya.


Ale terkekeh pelan , suami katanya? Bahkan Ale tidak pernah menerima Ryan setulus hati untuk jadi kekasihnya.


"Ngaca, siapa yang jadi suami aku? Status aku masih lajang meskipun udah gak perawan lagi. Harusnya kamu mikir gimana hancurnya seorang wanita saat kehormatannya direnggut," ucap Ale.


"Ya makanya ayo nikah, biar kamu gak merasa seperti itu terus. Aku udah berapa kali ngajak kamu nikah, tapi kamunya gak pernah serius. Aku harus sesabar apa lagi sama kamu?" Tanya Ryan.


"Sabar? Yang harusnya ngomong sabar itu aku, harus sesabar apa lagi aku nanggepin sikap semena mena kamu sana aku? Apa kamu pikir dengan terus melakukan hal itu dan membuat aku hamil, kamu bisa memiliki aku? Mungkin iya, tapi apa aku akan bahagia dengan hubungan sepihak ini? Enggak Yan, kamu mana pernah mikirin perasaan aku. Mikirin aku suka atau enggak. Dari awal aku udah bilang, jangan terlalu cepat cepat. Beri jeda aku untuk menerima kamu. Tapi apa, kamu gak pernah mendengarkannya. Aku juga udah capek selama ini, serasa jadi wanita pela*ur yang harus nuntasin hasrat kamu," ucap Ale panjang lebar. Masih cukup pagi namun emosinya sudah dipancing seperti ini. Ale yakin pekerjaannya di restoran tidak akan berjalan baik.

__ADS_1


"Terserah mau kamu apa, atur aja sesuka kamu. Mau kita nikah besok atau sekarang juga aku udah gak peduli. Kamu gak pernah mikirin apa yang aku mau, kamu cuma mikirin dan melakukan apa yang kamu anggap baik. Padahal nyatanya itu bertolak belakang dengan kemauan aku. Kamu urus semuanya sendiri, bahagia sendiri juga. Mulai sekarang gak usah mikirin aku lagi, anggap aku cuma sebagai penuntas nafsu kamu berkedok istri," ucap Ale. Ia menghempaskan tangan Ryan dan berlari pergi dari sana meninggalkan Ryan yang mematung setelah mendengar ucapan Ale.


Penuntas nafsu berkedok istri? Apa selama ini Ale tidak pernah bahagia dengannya? Apa dia yang salah karena terlalu memaksa? Tapi Ryan sudah sangat mencintai Ale sampai sampai dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Ale. Bahkan iya, dia tidak pernah berpikir tentang perasaan Ale. Suka atau tidaknya dengan Ale, Ryan bahkan tidak peduli. Yang dia inginkan adalah menjadikan Ale istrinya, dengan begitu tidak ada lagi yang bisa merebutnya.


Ryan menghela nafasnya, mengejar Ale bukanlah solusi. Wanitanya itu sedang dalam emosional yang sangat tinggi. Bahkan baru kali ini Ale mengeluarkan unek uneknya pada dia. Ryan mengambil duduk di sofa yang ada disana. Soda yang tidak jauh dari dapur. Di dapur masih lengkap dengan segelas susu dan secangkir kopi juga dengan dua roti sandwich. Jika saja tadi tangannya tidak nakal, mungkin pagi ini Ryan dan Ale sedang sarapan bersama.


Ryan mengambil ponselnya dan menghubungi bawahannya.


"Ikuti dia, jangan sampai dia tahu. Laporkan apapun yang dia lakukan hari ini. Ingat, jangan sampai dia tahu. Pastikan dia makan pagi, jika tidak cepat beritahu aku," ucap Ryan. Ia pun mematikan sambungan teleponnya.


Ryan bangkit dari sofa lalu berjalan kembali ke dapur. Tempat dimana Ale tadi memasak untuknya. Ryan mengambil secangkir kopi yang sering dia minum di pagi hari. Menghirup dalam aroma kopi yang jadi favoritnya. Aromanya sangat wangi sekali. Ryan pun mencoba meminumnya, ternyata sangat enak.


"Maafin sikap aku yang terkesan memaksa dan selalu membuat kamu tidak nyaman," gumam Ryan. Pria itu menatap cangkir kopi yang ada di tangannya. Passion Ale memang di dapur, apapun yang dia buat pasti akan selalu enak. Beberapa kali Ryan juga sudah mencoba masakan Ale, dan hasilnya sangat luar biasa enak. Dari situ dia jadi berasumsi jika bersama Ale hidupnya akan terjamin bahagia. Sampai dia lupa memikirkan kebahagiaan Ale.


Selama ini Ryan memang selalu mengusahakan yang terbaik untuk Ale. Tapi nyatanya hasilnya bertolak belakang. Ale memang jarang menyuarakan dia suka atau tidak. Wanita itu lebih banyak diam dan mengiyakan. Karena itu pula Ryan jadi yakin jika Ale sudah menerimanya. Namun nyatanya, diamnya Ale karena terpaksa, bukan karena ingin.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2