One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
186. Ancaman


__ADS_3

***


Cukup lama mereka berdiri sampai Eliza benar benar pergi. Jenna benar benar ketakutan karena itu, dia takut jika suatu hari nanti setelah hari ini Eliza kembali datang dan membawa senjata tajam. Jenna sangat takut, dia paling anti dengan senjata senjata seperti itu.


Sedangkan Zayn langsung membawa Jenna pergi dari sana. Dia membawa Jenna kembali ke kamar mereka yang ada di apartement itu. Zayn terus mengeratkan pelukannya pada Jenna. Tubuh wanita ini bergetar, jelas saja jika dia sedang ketakutan. Eliza benar benar gila, dia harus segera membuat rencana untuk menjebloskan wanita itu ke dalam penjara. Selain untuk keselamatan Jenna, itu juga untuk ketentraman hidupnya dan Jenna agar dia tidak terus terusan mengganggu hubungan Jenna dan Zayn.


Zayn mengelus pelan punggung Jenna. Memberikan kenyamanan sebisa mungkin agar wanitanya tidak ketakutan seperti ini. Sialan, kenapa Eliza harus tahu apartementnya yang ini? Dia bahkan tidak memberitahu siapa pun soal ini, yang tahu hanya dia. Sisanya mungkin Math karena dia pernah kesini untuk memberikan beberapa berkas yang harus di tanda tangan oleh Zayn. Dan sekarang Jenna. Setelah itu tidak ada lagi orang yang tahu.


Zayn mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon Math.


"Hallo tuan, ada apa?" Tanya Math.


"Periksa cctv seluruh gedung apartement ku yang berada di kawasan Green Hill, ada yang datang, dia membawa pisau. Kau ambil rekaman itu dan simpan. Dan suruh orang lagi untuk membuntuti Eliza. Laporkan tindakannya yang akan mencelakai istri ku dan perketat penjagaan," titah Zayn.


"Green Hill? Bukannya disana juga Eliza memiliki satu kamar apartement tuan? Letaknya berada di nomor tiga puluh enam, beberapa lantai dari kamar apartement anda yang ada di lantai atas," ucap Mathew.


"Apa?! Kenapa kau baru memberitahu ku?!" Tanya Zayn geram. Bagaimana tidak, bawahannya tahu tapi dia tidak memberitahunya? Tentu saja Zayn akan geram padanya.


"Maaf tuan, saya juga baru tahu beberapa minggu ini setelah mendengar kabar dari orang yang selalu membuntuti Eliza. Dia memiliki apartement disana, hanya saja jarang dia datangi," ucap Mathew.


"Cepat kau kirimkan mobil dan beberapa orang bodyguard untuk mengawal. Wanita gila itu membawa alat tajam untuk mencelakai istri ku," ucap Zayn.


"Baik tuan," ucap Math patuh.


Tut.


Zayn kembali menyimpan ponselnya dan kembali memeluk Jenna. Dia masih tidak habis pikir kenapa dunia sangat sempit disaat seperti ini? Seharusnya kan tidak seperti ini yang ia mau.


Entah kapan dia kecolongan lagi. Eliza benar benar lihai sekali dalam melakukan sesuatu. Dia harus lebih waspada. Nyawa Jenna sedang jadi taruhannya. Pantas saja waktu itu Jenna meminta untuk tunangan mereka dilakukan secara privat saja, jangan sampai orang luar tahu.

__ADS_1


Ternyata keinginann Zayn dan mamanya membuat Jenna masuk ke dalam lingkaran masalah.


"Eliza juga punya unit apartement disini mas?" Tanya Jenna.


Zayn mengangguk sekilas.


"Kenapa bisa? Apa kamu sengaja membeli apartement ini supaya bisa bersama Eliza lagi?" Tanya Jenna.


"Big no. Please sayang, jangan berpikiran seperti itu. Aku benar benar tidak memiliki niatan seperti itu atau niatan lainnya. Aku hanya ingin bersama kamu. Aku bahkan tidak tahu jika wanita gila itu juga memiliki unit apartement disini," ucap Zayn.


Tolonglah, kenapa wanitanya sampai berpikiran sejauh itu? Zayn benar benar tidak memiliki niatan seperti itu. Bahkan dia sendiri baru tahu sekarang setelah Math memberitahu. Sialnya kenapa Math baru memberitahunya sekarang! Kenapa tidak dari kemarin.


"Sayang," panggil Zayn saat Jenna mulai mengurai pelukannya.


"Kamu bohongin aku ya? Kamu emang masih suka sama mantan kamu itu?" Tanya Jenna. Dia mulai melepaskan tubuhnya dari Zayn dan berjalan mundur mendekat ke arah jendela.


Jenna terus berjalan mundur. Tatapannya jadi kosong. Apa sedalam ini efek ketakutannya? Raut ketakutan itu kentara sekali di wajahnya. Sampai sampai Zayn bisa melihatnya. Jenna terus berjalan, sampai sampai ia berhenti karena tubuhnya sudah menempel dengan kaca. Tiba tiba....


Pyarrrr....


Kaca yang menempel dengan punggung Jenna pecah karena dilempar oleh batu.


"Aaaaaaaaa," Teriak Jenna ketakutan. Zayn langsung menarik wanitanya dan memeluknya. Ia bahkan sangat mengeratkan pelukannya pada Jenna.


Zayn mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa ada yang melempari batu ke dekat jendelanya? Gedung apartementnya berada di lantai atas. Bagaimana bisa lemparan dari bawah bisa sampai kesana?!


Zayn melihat batu tersebut yang cukup besar. Disana ada gumpalan kertasnya.


"Sayang," panggil Zayn.

__ADS_1


"Pulang, takut," ucap Jenna.


"Iya sayang, kita akan pulang sekarang. Kamu tenang dulu ya," ucap Zayn. Ia bahkan tidak sadar jika punggung Jenna terluka karena pecahan kaca tersebut. Dress yang digunakan oleh Jenna berwarna hitam, jelas darah yang merembes tidak akan terlihat. Jenna sendiri karena ketakutan, jadi tidak merasakan apapun.


Zayn membawa Jenna duduk di sofa.


"Tunggu disini sebentar. Aku akan mengecek kesana," ucap Zayn. Jenna menggelengkan kepalanya menolak. Tentu saja dia menolak, dia tidak mau jauh jauh dari Zayn.


"Gak mau mas, kamu mau temuin Eliza?" Tuduh Jenna.


Astaga, otak kekasihnya ini sepertinya sedang hilang sementara akibat kejadian yang menimpanya hari ini. Zayn harus lebih bersabar. Dia tidak boleh gegabah, Jenna sedang sensitif sekali.


"Enggak seperti itu cinta. Kamu lihat, disana ada batu. Aku harus menyingkirkannya. Aku akan segera kembali kesini dan kita akan segera pulang ke apartement kita yang lebih aman," ucap Zayn. Sebisa mungkin dia memberikan pengertian pada Jenna secara pelan dan perlahan. Bukan apa apa, jika Zayn keras maka Jenna akan semakin berpikiran negatif.


"Ya udah," ucap Jenna. Ia melepaskan pelukannya pada Zayn dan beralih memeluk dirinya sendiri. Jenna menaikan kedua kakinya dan ditekuk lalu memeluknya.


Zayn sendiri langsung berjalan menuju ke arah jendela. Disana ia melihat gumpalan kertas. Zayn sangat geram sekali, bagaimana bisa batu ini sampai ke atas sini?


Zayn mengambil batu yang dibalut gumpalan kertas. Ia membuka gumpalan itu. Disana ada fotonya dengan Jenna. Namun foto Jenna di coret dengan tinta merah. Disana juga ada sebuah tulisan.


"LO HARUS MATI!"


Zayn mengeraskan rahangnya. Eliza sudah diluar batas wajarnya. Dia harus segera menangkapnya.


"Mas," panggil Jenna.


"Iya sayang," ucap Zayn. Pria itu kembali mendekat ke arah Jenna dan mengantongi kertas tadi di saku celananya. Tak berselang lama Math dan beberapa bodyguard juga datang, Zayn langsung menggendong tubuh Jenna dan pergi secepatnya dari sana. Ia sangat khawatir karena Jenna sudah sangat ketakutan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2