One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
129. Posessif


__ADS_3

***


Jenna terlihat bahagia bersama Zayn menjalani harinya hari ini. Berbeda dengan Ale yang terus terusan di teror oleh Ryan agar jangan berdekatan dengan banyak pria. Hei, pekerjanya di restoran ada yang pria juga. Ale pasti akan berinteraksi dengan dia. Belum lagi para koki dan asisten koki, mereka juga ada yang berjenis kelamin pria.


Ale benar benar frustasi dengan Ryan. Contohnya tadi saat dia sedang berbicara dengan koki untuk menguruskan menu yang baru, pria itu merecokinya dengan telepon. Mau tak mau Ale mengangkatnya dan pria itu seperti biasa, mengatakan pada Ale untuk jangan berdekat dekat dengan pria lain. Tak terhitung berapa kali pria itu memperingatinya, membuat Ale geram dan akhirnya menemui pria itu ke kantornya.


Iya, saat ini Ale sedang berada di kantor Ryan tepatnya di ruangan Ryan. Ale duduk di sofa yang berada di dekat Ryan. Sebenarnya Ale sudah mencoba menghindar namun Ryan kembali mepet ke arahnya.


"Cukup!! Saya tidak suka dengan sikap posesif anda. Kita hanya sebatas orang yang saling kenal saja. Tidak lebih dari itu. Tolong hargai kegiatan saya," ucap Ale.


"Alesha, sudah aku katakan jika kamu milik ku. Apa salah jika aku posesif pada milik ku?" Tanya Ryan.


"Salah. Karena saya bukan milik anda. Jadi berhenti mengklaim jika saya adalah milik anda. Jangan mencampuri urusan saya lagi, lebih baik anda urusi saja wanita wanita anda," ucap Ale. Ia pun bangun dari sana dan hendak pergi namun dengab cepat Ryan menahannya dan menarik gadis itu jadi duduk diatas pangkuannya. Tak perlu menunggu waktu lama, Ryan langsung mendaratkan ciumannya pada bibir Ale. Pria itu menahan kedua tangan Ale di belakang tubuh gadis itu dan sebelah tangannya lagi memegang tekuk Ale.


Ryan dengan rakus mencium bibir Ale tanpa perasaan. Ia bahkan menggigit bibir Ale agar wanita itu membuka mulutnya supaya lidahnya bisa masuk ke dalam mulut Ale. Mengabsen setiap inci mulut Ale.


Ale sendiri tentu saja berontak. Ia tidak sudi diperlakukan seperti ini. Dia bukan wanita penghibur, Ryan tidak bisa memperlakukannya seperti ini. Ale benar benar seperti sedang di lecehkan oleh pria ini.


Cukup lama Ryan mencium bibir Ale sampai ia puas dan melepaskan bibir gadis itu. Ryan menatap wajah Ale yang memerah. Matanya sedikit tergenang air mata dan sayu.


"Puas?" Tanya Ale. Ryan mengernyit, ia tidak paham maksud ucapan Ale.


"Puas lo lecehin gue hah?! Gue nyesel karena udah kenalan sama cowok bajing*n kayak lo!" ucap Ale sedikit berteriak. Ia berdiri dari pangkuan Ryan dengan paksa. Tak berselang lama, sebuah tangan melayang dengan ringan dan mengenai pipi Ryan.


Plakk..

__ADS_1


"Jangan lagi lo campuri urusan gue. Lo bukan orang tua gue dan bukan suami gue. Lo gak berhak atur atur kehidupan gue apalagi klaim gue sebagai milik lo," ucap Ale. Setelah mengatakan itu, Ale langsung pergi dari sana. Air matanya sudah turun saat ia menampar pipi Ryan.


Ryan memegangi pipinya yang sedikit kebas. Ia bangun dan dengan cepat menahan tangan Ale. Ia menyudutkan tubuh wanita itu ke pintu masuk ruangannya. Untungnya dia sudah mengunci pintu ruangannya melalui tombol yang ada di dekat meja kerjanya.


"Jadi, kamu ingin menjadi istri ku? Baiklah, aku akan segera mewujudkannya. Tapi sebelum itu, aku akan membuat kamu menjadi milik ku seutuhnya sayang. Jangan harap kamu bisa bebas," ucap Ryan menyeringai.


***


Jenna dan Zayn sudah sampai di rumah Jenna sejak tadi. Bahkan Jenna sudah memakan pentol bakar buatan kekasihnya. Ternyata benar benar enak. Tak sia sia dia tidak memakan pentol mamang mamang tadi, ternyata pentol buatan kekasihnya sangat sangat enak.


Jenna sudah habis banyak. Bahkan untuk Zayn tidak ia sisakan. Ia menghabiskannya sendiri.


"Mas enggak kebagian. Maaf," ucap Jenna.


Zayn terkekeh melihat noda kecap di mulut kekasihnya, "Enggak papa sayang. Mas seneng lihat kamu makan lahap." Zayn berjalan mendekat ke arah Jenna dan mengelap noda kecap itu menggunakan tissue.


"Astaga sayang, itu banyak. Kamu habis dua bungkus bakso. Apa itu tidak cukup?" Tanya Zayn.


Jenna menggelengkan kepalanya, "Enggak. Itu gak cukup, sekali makan aja habis. Nanti bikinin lagi. Janji."


Jenna menaikan tangannya. Ia mengacungkam jari kelingkingnya pada Zayn agar pria itu berjanji padanya. Padahal tanpa meminta janji pun, Zayn dengan bersedia memasakan Jenna pentol lagi. Bahkan jajanan jananan lainnya.


"Janji sayang. Aku bakalan bikinin kamu lagi, tapi sekarang udah dulu ya makan makanan kayak gitunya. Waktunya kamu makan nasi terus minum obat biar tubuh kamu cepet pulih seperti biasa," ucap Zayn.


"Iya. Tapi dikit aja, Jenna udah makan banyak jajanan soalnya," ucap Jenna.

__ADS_1


"Oke, mau berapa sendok nasinya?" Tanya Zayn. Sendok disini bukan sendok untuk makan, melainkam sendok untuk mengerok nasi.


"Satu aja cukup tapi jangan banyak banyak. Setengahnya aja, soalnya udah agak kenyang," ucap Jenna.


"Iya sayang," ucap Zayn. Ia pun mengambilkan nasi sesuai porsi yang dia mau.


"Aku suapin ya?" Tawar Zayn.


"Enggak mas. Makan masing masing aja, kan kamu juga pasti laper itu mas," ucap Jenna.


"Ya udah," ucap Zayn.


Mereka berdua pun makan dengan tenang. Zayn makan sendiri begitu juga dengan Jenna. Zayn tidak menyangka, jika dengan kelembutan Jenna tidak jadi marah seperti kemarin. Kemarin saja Zayn benar benar kelabakan sendiri karena ucapan Jenna. Bagaimana tidak, Jenna meminta untuk mengakhiri hubungan ini. Tentu saja Zayn tidak setuju dengan hal itu. Apapun yang terjadi dia akan tetap mempertahankan Jenna.


Selain mencintai Jenna dan juga menyayanginya, Zayn juga akan bertanggung jawab karena Zayn yang sudah mengambil mahkota Jenna. Memanfaatkan wanita itu saat dia mabuk berat waktu itu.


"Mas, besok boleh ke kantor kan? Aku udah agak mendingan kok," ucap Jenna.


"Big no sayang. Aku gak akan ijinin kamu kemana mana sebelum kamu sembuh total. Gak papa aku kena marah kamu juga karena larang larang kamu, yang penting ini demi kesehatan kamu," ucap Zayn.


"Posesif sekali anda ya. Padahal di kantor tidak ada yang tampan di mata saya, mungkin hanya papi Adam saja karena dia adalah papi saya," ucap Jenna. Zayn hanya terkekeh mendengar celotehan wanitanya ini. Jenna benar benar sangat menggemaskan sekali. Zayn sangat menyayanginya.


Tiba tiba ponsel Jenna berdering. Ia pun menyimpan sendok yang ia gunakan untuk makan dan mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilannya. Panggilan itu dari Ale, sahabatnya.


"Jenna, tolong gue..."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2