One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
142. Nasi Sudah Menjadi Bubur


__ADS_3

***


Pagi hari menyapa dengan ditemani rintik hujan yang membuat suasana semakin terasa dingin dan membutuhkan kehangatan. Ale semakin bergerak mendekat ke arah Ryan, tubuhnya terasa sangat kedinginan sekali padahal dia sudah memakai selimut. Wanita yang kini resmi menjadi wanitanya Ryan itu belum menyadari apa apa. Bahkan kejadian semalam pun tidak ada yang dia ingat, mungkin.


Ryan sendiri sangat sensitif dengan gerakan. Gerakan sekecil apapun akan dia rasakan meskipun ia sudah terlelap. Saat Ale bergerak dalam tidurnya, Ryan dengam otomatis sedikit terusik dan membuka matanya. Ia melihat ke arah Ale yang bergerak memeluknya erat. Sempat mengernyit namun tak lama Ryan mengerti jika Ale kedinginan. Ia pun dengan inisiatifnya memeluk tubuh wanita ini dan mengelusnya perlahan.


Lambat laun Ale kembali tertidur lelap dalam pelukan hangat Ryan. Sedangkan Ryan malah bangun, ia melirik jam dinding, sudah pukul sembilan pagi. Ryan pun mengecek ponsel Ale takutnya ada notif dari kedua orang tuanya. Dan benar saja, kedua orang tuanya menanyakan kabar anaknya. Ryan pun membalas pesan itu dan mengatakan jika Ale baik baik saja.


Ryan beralih menatap wanita yang berada di dalam pelukannya, seumur umur baru kali ini dia tidur dengan wanita dan tidak pergi meninggalkannya. Karena biasanya setelah Ryan selesai meniduri mereka, Ryan akan pergi begitu saja dengan meninggalkan uang atau pun cek. Tapi kali ini berbeda, bahkan dia ingin selalu bersama dengan Ale. Caranya memang tidak benar, tapi tidak ada pilihan lain.


Sebenarnya semalam saat Ale dibawa ke hadapan kedua orang tuanya, mamanya langsung suka dengan wanita ini. Bahkan mamanya berpesan untuk segera memberinya cucu tapi hanya dengan Ale. Ryan sempat aneh kenapa mamanya ini bisa langsung suka, karena tidak biasanya dia seperti ini. Dan setelah papanya mengatakan yang sebenarnya, barulah Ryan mengerti.


"Aku harap kamu tidak membenci ku karena kejadian ini. Bahkan aku sangat berharap kamu menerima ku," ucap Ryan. Pria itu merendahkan wajahnya dan menggesekan hidungnya dengan hidung Ale. Wanita ini sedikit terusik dan bergerak.


Ryan tersenyum melihat bibir wanita ini yang tiba tiba maju seolah ingin di kecup. Ryan pun mengecupnya. Bukan hanya kecupan tentunya karena Ryan tidak akan pernah puas jika hanya kecupan saja. Ryan mulai memainkan bibirnya diatas bibir Ale. Bahkan Ryan menghis*pnya.


"Ngghh, jangan ganggu," ucap Ale serak. Suaranya benar benar habis karena ulah Ryan. Ale dipaksa mendes*h keras bahkan hampir berteriak saat ia kesakitan akibat ulah Ryan.


"Kenapa jangan? Aku suka mengganggu kamu," ucap Ryan.


Ale mengernyit. Perlahan ia memaksa membuka matanya. Kabur, tidak ada benda yang jelas di pandangannya. Namun setelah menyesuaikan beberapa detik barulah matanya dapat melihat dengan jelas. Nafasnya tercekat, Ryan dapat mendengar dan melihatnya dari tatapan Ale.


"K-ken-apa k-kamu-," ucap Ale menggantung. Ia benar benar sudah kehabisan kata kata.

__ADS_1


"Aku kenapa?" Tanya Ryan.


"Ken-napa? Ini, ini-,"


"Jangan banyak bicara babe, tidur lah. Kamu masih membutuhkan waktu untuk istirahat," ucap Ryan sembari mendekatkan keningnya pada kening Ale.


Ale terdiam, ia melirik ke arag tubuhnya. Ia tidur tanpa baju, Ryan juga. Mereka?


"Iya kita melakukannya, bahkan mungkin benih benih yang aku berikan di rahim kamu sudah mulai berkembang," ucap Ryan.


Speechless, Ale benar benar speechless. Sesuatu hal yang dia hindari sejak mengenal Ryan kini terjadi juga. Ale terdiam, memikirkan masa depannya yang sudah hancur dalam waktu satu malam saja. Kenapa dia bodoh sekali?!


"Tidak ada gunanya menyesal babe, kamu akan segera menikah dengan ku," ucap Ryan.


"Karena aku ingin. Aku ingin menjadikan kamu milik ku selamanya," ucap Ryan.


"Kenapa bukan wanita wanita mu saja? Kenapa harus aku?" Tanya Ale. Ia ingin berteriak tapi rasanya percuma, nasi sudah menjadi bubur. Virginnya sudah hilang dan tidak mungkin akan kembali lagi. Ale hanya diam dan matanya mengeluarkan buliran bening. Iya, Ale menangis.


"Mereka hanya menginginkan uang ku dan lagi aku tidak mencintai mereka. Sedangkan aku mencintai kamu dan kamu berbeda dengan mereka," ucap Ryan.


"Aku tidak mencintai kamu dan aku tidak ingin memiliki ikatan apapun dengan kamu. Apa jadinya nanti jika aku dengan kamu, sedangkan kamu sudah sering tidur bersama wanita lain. Bagaimana jika suatu hari nanti ada seseorang yang datang ke hadapan mu dan mengatakan jika dia hamil anak mu?" Tanya Ale.


"Bisa saja terjadi, tapi aku yakin dan aku pastikan aku tidak pernah meninggalkan benih ku di dalam rahim wanita yang menjadi pelac*r ku," ucap Ryan.

__ADS_1


Ale terdiam. Ia terus terusan menangis, meratapi nasibnya yang sangat malang. Ale menggerakan tubuhnya untuk memunggungi Ryan. Ia sedikit meringis saat miliknya terasa sakit ketika bergerak. Ryan membiarkan Ale bertindak semaunya. Karena Ryan yakin Ale tidak akan pergi jauh mengingat dia baru saja lepas virginnya.


Ryan melingkarkan tangannya di perut Ale dan memeluknya. "Aku tidak akan melarang kamu menangis. Menangis lah sampai kamu tenang, tetapi jangan berharap aku akan melepaskan kamu. Apalagi kamu mengandung benih yang aku berikan."


Ale menggigit selimut untuk meredam tangisannya. Ia hancur, benar benar hancur. Semua yang ia impikan sejak dulu harus lenyap dalam sekejap malam. Apa tanggapan kedua orang tuanya ketika tahu jika anak mereka sudah melakukan kesalahan sefatal ini?


Ryan hanya diam mendengarkan isak tangis yang terdengar dari mulut wanitanya. Ia memang sengaja membiarkan Ale menangis sampai perasaannya lega. Yang dilakukan Ryan hanya mengelus pelan perut rata Ale.


Makin lama, tangisan Ale tidak mau berhenti. Sudah cukup lama. Lima menit saja sudah cukup untuk menangis. Ryan tidak tahan dan menarik tubuh Ale sehingga terlentang, dia pun mengukung tubuh Ale.


"Mau apa lagi?" Tanya Ale.


"Membuat mu tidak menangis lagi," ucap Ryan. Pria itu menyambar bibir Ale. Gerakannya lembut dan tidak tergesa gesa karena dia ingin membuai Ale. Ale sendiri tidak bisa melawan karena kedua tangannya dicekal oleh Ryan.


Setelah cukup lama akhirnya Ale membalas ciuman Ryan. Mereka berciuman dan saling mengecap bibir satu sama lain. Ryan menuntun tangan Ale untuk melingkar di lehernya sedangkan ia menurunkan ciumannya ke leher dan berakhir diantara kedua squishy kenyal milik Ale. Ryan menangkupnya satu dan sedikit merem*snya sedangkan yang satunya lagi ia masukan ke dalam mulutnya dan menghisapnya perlahan. Bibir Ale mendesis menahan suaranya akibat perlakuan Ryan.


"Cukup Ryan. Aku tidak mau lagi," ucap Ale.


"Asalkan kamu berhenti menangis," ucap Ryan.


"Iya." Ryan pun melepaskan kul*mannya pada squishy Ale lalu meminta wanita ini tidur bersamanya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2