
***
Persiapan acara tunangan Jenna dan Zayn benar benar sudah sembilan puluh lima persen. Sisanya tinggal mempersiapkannya hari ini dan besok. Hari ini semua dekorasi benar benar harus selesai sambil sesekali di cek kelengkapannya. Selain kelengkapan, EO juga diminta mengecek yang lainnya. Takutnya nanti ada yang kurang. Undangan sendiri akan disebar besok pagi. Entah akan segeger apa jika media tahu. Namun Jenna sudah mewanti wanti untuk tidak ada wartawan atau pun media lain yang masuk ke dalam hotel. Bukan apa apa, Jenna hanya tidak mau acaranya jadi rusuh saja. Apalagi kabar tunangannya itu pasti akan tersebar cepat besok. Untungnya bukan undangan secara nyata, melainkam undangan elektronik. Jadi tidak semua orang bisa mendapatkannya. Hanya beberapa orang tertentu saja.
Setelah melihat lihat dan mengecek, Jenna dan Zayn memutuskan untuk segera pulang lebih dulu ke rumah Jenna. Karena disana mami Jeni dan mama Lita sudah menunggunya. Selain itu juga, Zayn harus mengecek kelengkapan hantaran untuk Jenna. Namun sepertinya itu juga sudah di urus mamanya. Zayn hanya terima beres saja.
Sejak tadi, Jenna masih sedikit terdiam dan terlihat terkejut dengan acaranya ini. Ini benar benar bukan seperti acara tunangan, melainkan acara pernikahan. Pikirannya masih bertanya tanya, apakah ini benar benar tunangan? Kenapa harus semewah ini?
"Sayang," panggil Zayn. Namun Jenna masih tetap diam. Wanita itu menatap lurus ke arah depan. Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil dan sedang perjalanan menuju ke rumah Jenna.
"Sayang."
"Yang."
"Jennaira sayang," panggil Zayn.
"Ha? Apa mas?" Tanya Jenna.
"Kamu yang kenapa. Kenapa kamu melamun? Aku panggil panggil dari tadi loh," ucap Zayn.
"Enggak papa mas. Aku cuma masih sedikit terkejut setelah melihat kelengkapan acara untuk besok. Aku masih bingung, kenapa acara tunangan mita harus semewah ini. Padahal kan biasa juga tidak apa apa," ucap Jenna.
"Sudah ku bilang bukan, kamu itu special. Selain special, kamu juga istimewa untuk aku, untuk hidup aku. Apa salahnya aku memberikan acara semewah ini? Lagi pula ini sebagai bentuk kasih sayang aku untuk kamu. Ini semua tidak ada apa apanya dibandingkan dengan kehadiran kamu di hidup aku," ucap Zayn. Pria itu berbicara sambil sesekali melirik ke arah Jenna.
"Kamu manis banget mas. Aku takut kecanduan sama kamu," ucap Jenna.
"Ya itu harus. Apalagi kecanduan buat aku masukin. Siap siap sayang, setelah menikah tidak akan jeda apapun lagi. Aku akan melakukannya hampir setiap malam," ucap Zayn.
__ADS_1
Mampus. Jenna benar benar akan habis oleh Zayn. Mengingat seperti apa gilanya pria ini ketika berada diatas ranjang bersamanya. Jenna tidak bisa menolak jika statusnya sudah suami istri. Tidak ada alasan apapun lagi sepertinya selain menerima apa yang diinginkan oleh Zayn.
"Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak mau kamu stress. Pikirkan itu nanti saja, oke?" Ucap Zayn.
"Ya gimana gak aku pikirin mas. Kamu ngadi ngadi, masa tiap malem kita berhubungan. Yang bener aja," ucap Jenna.
"Kamu akan tahu seperti apa nafsu aku nanti sayang," ucap Zayn.
Jenna mengernyit, tidak mengerti apa maksud ucapan Zayn. Dia hendak kembali bertanya, namun ternyata dia sudah sampai ke depan rumahnya. Otomatis dia mengurungkan niatnya. Zayn keluar lebih dulu baru Jenna. Jenna keluar setelah pintu mobil dibukakan oleh Zayn. Wanita itu merangkul tangan Zayn dan menggandengnya. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah besar milik Jenna.
"Maksud mas tadi apa?" Tanya Jenna.
"Yang mana?" Tanya Zayn.
"Yang bilang 'Kamu akan tahu seperti apa nafsu aku nanti'. Itu maksudnya apa?" Tanya Jenna.
"Jangan terlalu dipikirkan apa ucapan aku sayang. Jangan stress, aku gak mau kamu sampe sakit loh," ucap Zayn.
"Iya enggak. Tapi kan tetep aja penasaran mas," ucap Jenna.
"Pokoknya jangan dipikirin oke? Anggap angin lalu aja," ucap Zayn.
Jenna menghela nafasnya kemudian mengangguk patuh.
"Good girl. Sekarang kita masuk dan sore nanti kita pulang ke apartement. Jangan harap bisa tidur sendirian tanpa aku, aku akan selalu tidur bersama dengan kamu," ucap Zayn.
"Posessive banget mas," ucap Jenna.
__ADS_1
"Harus," ucap Zayn.
Mereka berdua pun masuk lebih dalam ke dalam rumah Jenna. Di dalam kedua orang tua mereka sedang sibuk mengatur. Sebenarnya yang paling sibuk ya ibu ibu. Bapak bapaknya hanya diam saja, berbincang sembari ditemani kopi dan cemilan.
"Jenna sayang, sini nak," panggil Jeni.
"Bentar mi," ucap Jenna. Dia melihat ke arah Zayn seolah mengkode ingin pergi ke maminya. Zayn menganggukan kepalanya. Sementara dia akan bergabung dengan para bapak bapak. Mereka berdua berpisah, karena tempat ibu ibu dan bapak bapak berbeda.
"Kenapa mi?" Tanya Jenna.
"Undangan disebar hari ini. Tangan kanan papi dan Rendra yang melakukannya. Ingat, jangan pergi dari rumah hari ini. Kamu harus tidur disini, mami gak mau ada orang yang mencelakai kamu karena undangan sudah disebar," ucap Jeni.
"Ha? Sekarang?! Bukannya menurut jadwal besok ya mi? Kok sekarang?" Tanya Jenna syok.
"Kami para orang tua sudah sepakat untuk melakukan hal itu. Tidak lain agar semua undangan juga tersebar, takutnya tidak ada yang mengecek email sayang. Nantinya mereka tidak datang dengan anggapan mereka tidak diundang," ucap Jeni.
Benar juga. Seharusnya undangan itu dibuat secara nyata dan berbentuk. Namun untuk menghindari kekacauan, Jenna dan Zayn sepalar untuk membhat undangan elektronik saja. Selain tidak mudah hilang, undangan ini juga tidak mudah ditiru. Sebab di dalam undangan ada barcode yang harus di scan ketika tamu undangan datang nanti. Dan di undangan juga sudah tertulis nama nama tamu yang diundang.
"Ya udah, Jenna sama mas Zayn ikut maunya mami sama yang lainnya aja. Lagian Jenna sama mas Zayn terima beres aja kok. Makasih ya, maaf sudah merepotkan mama dan mami," ucap Jenna.
Lita tersenyum kemudian membuka kedua tangannya, mengkode untuk memeluk Jenna.
"Sudah seharusnya sayang. Kami masih ada, biarkan kami yang melakukan semua persiapannya. Kamu dan Zayn tinggal terima beres aja," ucap Lita.
Jenna tersenyum dan mengangguk. Pelukan mereka terurai karena Zayn datang. Dia menarik Jenna agar duduk di dekatnya. Lita hanya mendengus melihat tingkah posesif anaknya. Zayn benar benar sangat posesif, padahal Jenna dipeluk mama kandungnya.
"Maaf tante, tapi Jenna akan tinggal di apartement bersama Zayn. Apartement kami di gedung yang sama juga bersebelahan. Penjagaan juga ketat, tante tidak perlu khawatir," ucap Zayn tersenyum.
__ADS_1
Tbc.