
***
Zayn dan Jenna sedang berada di dalam mobil. Mereka akan menuju ke Bandara yang ada di Jakarta, karena disana sudah ada pesawat jet pribadi milik Zayn yang akan membawanya ke Boston. Entah kenapa sejak Zayn bilang akan pergi, perasaan Jenna jadi cemas. Bukannya Jenna hanya menjadikan Zayn pelampiasan? Mencoba untuk mencintai pun baru akan dilakukan saat ini.
Sejak berangkat tadi, Jenna menyandarkan kepalanya pada bahu Zayn. Ia memeluk sebelah tangan Zayn yang menganggur. Semalam Jenna kurang tidur karena ulah Zayn. Mereka memang tidak melakukan hubungan itu, hanya saja Zayn terus bermain main dengan tubuh atasnya.
Pria itu sibuk dengan ipad yang ada di tangan kanannya. Entah apa isinya Jenna hanya melihat sekilas. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih jika tidak macet. Adam sudah memberitahu Jenna untuk tidak masuk kantor dan melakukan zoom meeting saja dengan tiga klien dalam waktu berbeda. Mereka adalah klien Adam namun Jenna yang akan menghandel-nya.
"Lebih menarik ipad ya dibanding Jenna? Padaha ipad rata," ucap Jenna. Zayn tersenyum kecil dan menekan tombol penutup antara supir dan penumpang. Pria itu menyimpan ipadnya dan menatap ke arah Jenna.
"Emangnya kamu gak rata?" Tanya Zayn.
"Kayak yang belum pernah nyoba aja," ucap Jenna. Ia mengurai pelukan di tangan Zayn dan menyandarkan kepalanya kemudian memejamkan matanya. Jujur saja ia masih mengantuk saat ini.
Zayn mencondongkan tubuhnya dan mengecup pelan leher putih Jenna yang terekspos. Hal itu tentu saja membuat Jenna merinding, apalagi di area dagu milik Zayn ada sedikit bulu bulu kasar yang belum di cukur.
"Geli," ucap Jenna.
"Jangan marah, aku cuma sebentar disana," ucap Zayn.
"Katanya gak tahu berapa lama. Kok udah bilang cuma sebentar," ucap Jenna.
"Serius sayang, aku akan segera menyelesaikannya dan kembali kesini," ucap Zayn. Jenna menghela nafasnya dan memeluk kekasihnya itu.
"Inget ucapan aku," ucap Jenna.
"Aku akan selalu mengingatnya sayang," ucap Zayn.
Tak berselang lama mereka pun sampai di lapangan luas. Disana sudah ada jet pribadi milik Zayn dan beberapa bodyguard yang akan mengawalnya. Zayn belum turun dari dalam mobil karena ia sedang mencumbu Jenna lebih dulu sebelum pergi. Setelah puas, ia pun keluar dari dalam mobil bersama dengan Jenna.
"Jangan bekerja terlalu keras. Kalau perlu kamu berhenti saja dan menikah dengan ku, supaya jika aku harus pergi ke luar negeri kamu bisa ikut dengan ku," ucap Zayn.
__ADS_1
"Ya nikahin dulu lah, main bawa bawa aja. Dipikir Jenna ini boneka apa," ucap Jenna kesal.
"Iya kamu boneka sayang, boneka aku ketika kita tidur bersama," bisik Zayn. Jenna dengan kepalan tangannya langsung memukul pelan dada bidang pria itu.
"Sakit," ucap Zayn.
"Peluk," pinta Jenna. Zayn tentu saja dengan senang hati akan menuruti kemauan Jenna. Ia memeluk Jenna cukup lama. Bahkan kepala Jenna sejak tadi di kecup olehnya.
"Aku berangkat ya? Janji pulang cepat," ucap Zayn.
Jenna mengangguk. Ia melirik ke sekitaran, para bodyguard dan asisten Zayn membelakangi mereka. Jenna lantas menarik kerah jas milik Zayn dan menyatukan bibir mereka. Hanya mengecup, tidak lebih.
Senyum lebar terbit di bibir Zayn saat wanitanya melakukan hal itu. Tentu saja ia senang. Rasanya ia tidak ingin pergi meninggalkan Jenna.
"Pulang nanti aku akan menikahi mu ya? Gak boleh nolak," ucap Zayn.
"Sssttttttt. Udah sana berangkat, kasihan pilotnya udah nunggu. Jangan ganjen sama pramugarinya," ucap Jenna.
"Enggak akan. Aku cuma tergila gila sama kamu," ucap Zayn.
"Awasi wanita ku, jangan sampai ia lecet sedikit pun. Kabarkan semua kegiatannya pada ku. Ingat, awasi dia dari jauh dan jangan sampai diketahui," ucap Zayn pada Math.
"Tentu tuan. Saya sudah melakukan apa yang tuan inginkan," ucap Math.
Mereka pun naik ke dalam jet milik Zayn. Sedangkan Jenna, wanita itu kembali ke rumahnya. Setelah melihat pesawat Zayn mengudara.
Sesampainga di rumah, disana sangat sepi, hanya ada bi Uci dan pak Ucup saja. Kedua orang tuanya belum kembali. Sesuai jadwal, mereka disana sekitar satu minggu lamanya. Jenna sudah membersihkan diri dan sedang makan di ruang makan, sendirian.
Ia melihat data yang ada di laptop dan kertas di tangannya. Semua sudah cocok dan tinggal menunggu waktu zoom saja.
***
__ADS_1
Sore harinya, setelah Jenna selesai bekerja dan zoom, ia akan bertemu dengan Ale. Lebih tepatnya Ale yang akan menginap ke rumahnya atas permintaan Jenna karena disana kedua orang tuanya tidak ada. Dari pada kesepian, lebih baik Jenna mengajak Ale saja. Kebetulan wanita itu sudah kembali.
Ale dan Jenna sedang rebahan di kamar Jenna. Waktu baru menunjukan pukul tujuh malam. Selama itu Zayn belum menghubunginya. Sepertinya pria itu belum sampai ke Boston.
"Heh, mana gue lihat cowok yang namanya Ryan itu. Yang idah cip*k sama lo," ucap Jenna.
"Yee, sabar ya bangzat. Gue lagi nyari ini," ucap Ale.
"Lah, kok nyari? Emang lo gak tukeran kontak sama dia? Kan biasanya suka ada di profilenya," ucap Jenna.
"Profilenya kosong. Dia introvert kayaknya," ucap Ale membuat Jenna mendengus kesal.
"Nah ini," ucap Ale tak lama. Ia menunjukan foto Ryan pada Jenna.
Jenna sudah menduganya, Ryan yang dimaksud adalah Ryan si player. Jenna jadi bingung sendiri harus berbicara jujur pada Ale atau tidak.
"Kiss berapa kali lo sama dia?" Tanya Jenna.
"Gak tahu, gak ngitung. Dia manis banget masa, gue diajarin kiss kayak gimana. Mana dia juga sering bersikap lembut kalo sama gue," ucap Ale.
"Lo suka?" Tanya Jenna.
"Maybe yes, maybe no. Gue gak tahu soal perasaan gue ke dia, yang jelas ya gue nyaman sih. Soalnya dia baik," ucap Ale.
"Hati hati aja Le, lo belum lama kenal dia. Jangan terlalu pake hati. Takutnya dia cuma penasaran dan mau ghosting elo aja," ucap Jenna.
"Oke besti, aman. Gue selalu inget ucapan elo kok. Tapi by the way, lo juga udah kiss sama cowok ganteng lo?" Tanya Ale.
Jenna menghela nafasnya dan merebahkam tubuhnya diatas kasur.
"Sering Le. Dia bahkan maksa gue jadi doinya," ucap Jenna.
__ADS_1
"Sikat lah, ganteng, tajir. Kan lumayan."
Tbc.