One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
130. Pembohong Ulung


__ADS_3

***


Ale menangis sejadi jadinya di dalam pelukan Ryan. Setelah menghubungi Jenna pria itu merebut ponselnya dan melemparnya ke sembarang arah. Ale bahkan di seret masuk ke dalam satu ruangan tertutup yang ada di dalam ruangan kerja Ryan. Tadi Ale mendapatkan celah untuk menghubungi Jenna. Karena hanya dia yang bisa menolongnya dari pria ini.


Namun baru saja berucap dua kata, ponselnya di rebut paksa dan dilempar begitu saja. Entah seperti apa nasib ponselnya saat ini. Ale tidak tahu. Ia tidak memikirkan nasib ponselnya, ia justru memikirkan nasibnya yang sedang dalam bahaya. Ryan sejak tadi memunculkan seringaiannya. Ale benar benar takut melihatnya. Apalagi saat ditarik tadi masuk ke ruangan ini, Ryan benar benar kasar. Namun ketika sudah berada di ruangan ini, pria itu justru memeluknya.


Ale menangis dalam pelukan pria itu. Dia memang takut, tapi dia tidak bisa melawan Ryan. Pria ini sangat mendominasinya saat ini. Bahkan Ale tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jadi ia hanya diam dalam pelukan Ryan.


"Zayn menelepon, jika Jenna ingin berbicara dengan mu, katakan jika kamu baik baik saja dan sedang bersama ku. Jika Jenna memaksa ingin bertemu, berikan alasan logis. Jangan sampai dia curiga. Paham sayang?" Tanya Ryan.


Ale mengangguk takut. Ia ingin melawan namun takutnya Ryan malah bertindak nekat dan ia akan menyesalinya seumur hidupnya.


"Good girl," ucap Ryan lalu mengecup pelan bibir Ale. Dengan Ryan, bibir Ale sepertinya sudah tidak memiliki harga diri lagi. Pria ini terus saja mengecupnya.


"Kenapa?" Tanya Ryan saat teleponnya terhubung.


"Om Ryan lagi sama Ale gak?" Tanya Jenna.


Yap, yang berbicara bukan Zayn melainkan Jenna. Sahabat gadis yang sedang berada di dalam pelukannya.


"Ada, tadi Ale ketakutan karena ada yang coba masuk apartement dia. Saya cepat kesana dan menenangkan Ale, dia sudah lebih baik sekarang," ucap Ryan. Yang sepenuhnya berbohong.


"Boleh bicara sama Ale gak?" Tanya Jenna.

__ADS_1


"Boleh, sebentar," ucap Ryan. Pria itu menjauhkan ponselnya dan menatap Ale cukup lama. Gadis ini sangat lucu sekali ketika ketakutan.


Cup...


"Jangan takut, aku gak bakalan apa apain kamu. Yang penting kamu nurut maunya aku apa, oke girl?" Tanya Ryan.


Ale hanya mengangguk sekilas. Ia pun menerima ponsel Ryan dan berbicara dengan Jenna.


"Gue gak papa Jen, untungnya ada Ryan tadi kesini. Lo gak usah khawatir, gue aman sama Ryan," ucap Ale.


Sebenarnya dia sangat ingin mengatakan, 'gue gak aman sama Ryan' namun apa boleh buat. Ia tidak bisa mengatakan itu karena Ryan sedang menatapnya. Bahkan tangan pria itu dengan nakalnya tangan Ryan masuk ke dalam baju yang digunakan Ale untuk mengelus punggungnya. Tentu saja Ale meremang karena sentuhan itu.


"Ya udah kalo gitu. Tapi beneran kan?" Tanya Jenna.


"Good girl," ucap Ryan serak. Pria itu melempar ponselnya ke arah sofa yang ada di ruangan tersembunyi ini. Ternyata ruangan ini terlihat seperti kamar, karena disini ada ranjang. Mungkin ini yang digunakan Ryan untuk tidur ketika berada di kantornya.


"Alesha, aku mencintai mu," ucap Ryan pelan. Ale tidak terkejut sama sekali. Karena Ryan sudah pernah mengatakan hal ini beberapa kali namun ia menganggapnya seperti angin lalu. Karena Ale tahu Ryan hanya bermain main dengannya. Tapi kenapa dia harus disamakan dengan wanita wanita penghiburnya? Ale bahkan tidak pernah ke club sama sekali.


Ryan menatap wajah Ale. Wanita ini sangat cantik, entah kenapa ia sangat tertarik pada wanita ini. Padahal sebelumnta ada wanita yang lebih cantik lagi dari Ale, namun Ryan tidak tertarik padanya. Sama sekali.


Ryan mencium bibir Ale. Namun Ale tidak memberikan balasan bibirnya. Gadis itu hanya diam saja. Ia ingin sekali mendorong Ryan, namun ia takut Ryan bertindak tidak tidak. Bagaimana pun disini mereka hanya berdua, Ale harus jaga jaga.


Ryan melepaskan ciumannya. Ia mengajak Ale naik ke atas tempat tidur. Namun Ale tetap pada posisinya. Ia tidak mau melakukan hal hal yang tidak tidak dengan Ryan.

__ADS_1


"Kamu takut aku meminta mu melakukan hubungan intim?" Tanya Ryan. Pria itu menahan senyumnya. Entah kenapa Ale terlihat sangat lucu. Dia bertingkah seperti kucing kecil yang ketakutan dengan singa.


"Aku tidak akan melakukannya sayang, aku hanya ingin kamu menemani aku tidur. Itu saja," ucap Ryan. Namun Ale menggelengkan kepalanya. Ryan yang sudah bosan bersikap baik pun segera menarik Ale naik ke atas tempat tidur. Gadis itu sedikit memberikan perlawanan. Namun tetap saja Ryan yang menang.


Ale sudah naik ke tempat tidur dan beringsut mundur. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Ia benar benar takut. Apalagi saat Ryan melepaskan jas dan kemejanya. Pria itu tampil shirtless di bagian atasnya.


Ryan naik ke tempat tidur dan menarik Ale agar tidur bersamanya.


"Akan lebih baik jika kamu memeluk ku sayang," ucap Ryan.


"Enggak," ucap Ale, gadis itu menggelengkan kepalanya.


Ryan menghela nafasnya. Gadis ini benar benar ketakutan. Padahal dia tidak akan memperk*sanya. Jadi seperti ini rasanya menghadapi gadis baik baik yang masih virgin? Biasanya lawan main Ryan adalah wanita yang sudah tidam virgin. Meskipun ada salah satu yang masih virgin, namun mereka sangat nakal. Tidak seperti Ale saat ini.


Ryan tidak mengatakan apapun lagi. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya dan memeluk Ale lalu memejamkan matanya. Ale sendiri menyimpan kedua tangannya di depan dadanya agar tidak terlalu dekat dengan Ryan. Ale akui, bentuk tubuh Ryan adalah dambaannya. Biasanya ia hanya melihat roti sobek dan otot bisep pria di sosial medianya saja. Tapi dengan sikap Ryan yang seperti ini membuatnya jadi takut. Ale takut jika Ryan akan memperk*sanya.


"Tidur tidak baik jika menggunakan br* yang terkait sayang. Biarkan kedua benda kenyal itu tumbuh," ucap Ryan setelah membuka pengait br* milik Ale. Tubuh Ale tentu saja menegang. Ia wanita normal.


Ale tidak mengatakan apa apa. Ia tetap dalam mode diamnya. Ia tidak akan tidur. Karena ia takut Ryan akan melakukan itu padanya ketika Ale terlelap.


Namun beberapa menit kemudian, Ale benar benar tidak bisa menahan rasa kantuknya. Lambat laun gadis itu memejamkan matanya. Toh Ryan juga sudah tidur. Pria itu tidak mungkin melakukannya ketika dia tidur kan?


"Akhirnya bayi kecil ku sudah terlelap. Maaf sayang, aku tidak bisa menahan diri ku lagi," ucap Ryan serak.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2