
***
Ale dan Ryan memang langsung menyusul Zayn dan Jenna ke Jakarta. Namun Ale tidak langsung menjenguk Jenna. Ia menjenguk satu hari setelahnya. Ale yakin Jenna membutuhkan istirahat. Jadi Ale datang satu hari setelah Jenna berada di Jakarta.
Ale datang membawa cake kesukaan Jenna. Hampir semalaman ia tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan keadaan Jenna. Ale tidak habis pikir dengan orang yang sudah menyakiti Jenna. Bisa bisanya dia melakukan hal itu pada Jenna. Benar benar orang yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Atau mungkin orang itu memang bukan manusia?
Ale turun dari dalam mobilnya bersama dengan Ryan. Ryan menjemputnya tadi dan mengajaknya ke rumah Jenna. Disana ada Zayn dan kedua orang tua Jenna tentu saja. Selain Zayn dan kedua orang tua Jenna disana juga ada kakek dan nenek Jenna.
"Ale, apa kabar nak?" Tanya Mira saat Ale dan Ryan masuk.
"Kabar Ale baik oma. Oma sendiri apa kabar?" Tanya Ale.
"Oma baik baik aja. Kamu mau jenguk Jenna?" Tanya Mira.
"Iya oma. Ale gak jenguk kemarin soalnya Ale tahu Jenna a baru sampai dan butuh banyak istirahat," ucap Ale.
Mira mengangguk dan mempersilahkan Ale masuk bersama Ryan. Mira tidak bertanya siapa laki laki yang bersama dengan Ale, karena sudah pasti itu adalah kekasihnya. Begitu pikir Mira.
Ale dan Ryan berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Jenna yang ada di lantai dua. Pintu kamar Jenna terbuka, sepertinya sedang ada orang yang menjenguk Jenna. Ale mengetuk pintu kamar Jenna sebelum masuk. Ia kira kamar Jenna kedatangan tamu, tahunya tidak ada. Hanya ada Zayn yang sedang menyuapi Jenna.
"Jenn," panggil Ale. Bibirnya melengkung ke bawah saat melihat keadaan sahabatnya yang tidak baik baik saja. Ale duduk di samping kasur Jenna.
"Gue gak papa Le, jangan cengeng anjir. Gue geli lihatnya," ucap Jenna.
"Diem deh lo, gue gampar tangan lo yang luka tahu rasa," ucap Ale.
"Ya makanya jangan sedih. Gue aja gak sedih, namanya juga musibah siapa yang tahu," ucap Jenna.
"Ya iya sih, ya udah nih gue bawa cake kesukaan lo. Lo makan deh," ucap Ale.
"Gitu dong, sering sering ya beliin. Soalnya enak," ucap Jenna.
__ADS_1
"Gak eneg emang? Dalemnya isi cheese cake luarnya juga," ucap Ale.
"Enggak. Ini enak soalnya gak terlalu manis," ucap Jenna. Ia mengambil cake itu menggunakan tangan kanannya yang tidak terluka dan menyimpan cake itu diatas pangkuannya.
"Udah dulu makan nasinya, Jenna mau makan ini. Minta sendok," ucap Jenna.
"Ya sudah, sebentar aku ambilkan," ucap Zayn. Pria itu bangkit dari duduk dan berjalan ke luar kamar, namun di dekat pintu kamar sudah ada bi Uci yang akan memberikan sendok dan salad buah kesukaan Jenna. Sehingga Zayn tidak jadi ke dapur.
"Om Ryan gak duduk? Emang gak pegel?" Tanya Jenna saat melihat Ryan hanya berdiri.
"Belum di suruh," ucap Ryan. Pria itu pun jadi duduk di sofa panjang yang berada di dekat ranjang Jenna.
Jenna hanya mendengus pelan dan menerima sendok dari Zayn kemudian memakan cake miliknya yang dibelikan oleh Ale.
"Ngomong ngomong, apa pelakunya udah berhasil ditemukan?" Tanya Ale.
"Polisi masih mencoba mencari tahunya," ucap Zayn.
"Cctv emang gak fungsi?" Tanya Ryan.
"Terlalu banyak orang jadi Math masih terus memperhatikan cctv itu. Terlalu sulit mencari orang yang menembaknya. Kemarin banyak banget wartawan yang meliput," ucap Zayn.
Jenna sesekali melirik ke arah sahabatnya yang berbeda dari biasanya. Ale terlihat murung.
"Kenapa Le?" Tanya Jenna.
"Nyadar gak sih setelah lo masuk ke dunia bisnis, hidup lo jadi terancam kayak gini? Kenapa lo gak jadi model aja, gue yakin lo bakalan hebat di bidang itu," ucap Ale.
"Namanya hidup pasti ada aja rintangannya Le. Gak mungkin kalo gak ada, masalah gue jadi banyak ancaman setelah masuk dunia bisnis kayaknya enggak relate deh. Soalnya sebelumnya juga enggak kayak gini, gue curiganya bukan dari orang bisnis atau rival gue di dunia bisnis. Melainkan mantannya om Zayn," ucap Jenna membuat Zayn terkejut. Begitu juga dengan Ryan dan Ale.
"Gue gak nuduh, cuman curiga aja. Karena saat kejadian gue lihat orang yang nembak gue. Sayangnya dia pake masker yang nutup wajahnya, jadi gue gak bisa lihat jelas," sambung Jenna.
__ADS_1
"Kenapa kamu enggak bilang sama aku soal itu?" Tanya Zayn.
"Baru inget tadi pagi soalnya. Maaf kalo kamu tersinggung soal mantan kamu, aku cuma curiga aja sama dia. Selain om Hendri sama Yura pasti dia yang celakain aku," ucap Jenna.
"Enggak sayang, aku enggak tersinggung. Malahan sebelum kamu menduga hal ini, aku sama mama Lita udah curiga duluan cuma gak ada bukti jadi kita gak bisa tangkap dia. Sialnya orang itu malah minum racun," ucap Zayn.
Jenna kembali diam dan fokus menikmati cake miliknya. Ia tidak mau membaginya pada siapa pun. Cake ini enak dan Jenna tidak mau orang lain merasakannya.
"Lo sendiri ada acara di Bali, Le?" Tanya Jenna.
"Gak ada. Gue datang kesana langsung buat kasih lo kejutan sama buat kasih ucapan selamat. Tahunya bukan selamat, lo malah celaka disana," ucap Ale.
"Nasib gue," ucap Jenna.
"Tapi lo sama om Ryan udah jadian kan? Enggak di gantung lagi?" Tanya Jenna.
"Apaan sih, kok jadi nanya gituan. Gak asik lo," ucap Ale.
"Teman kamu yang jual mahal sama saya. Salahkan dia, saya tidak bermaksud untuk menggantung hubungan kami. Dia nya saja yang termakan berita hoax," ucap Ryan.
"Anjas, belum juga pacaran udah dapet prahara rumah tangga aja lo berdua," ucap Jenna tertawa.
"Enggak ya anjir, gue sama Ryan cuma patner kerja aja. Gak ada hubungan lebih apapun," ucap Ale.
"Yakin? Kalo emang cuma patner kerja aja kenapa kamu sampai marah dan diamkan saya setelah mendengar berita hoax itu? Kamu tahu, tingkah kamu ini seperti seorang pacar yang sedang cemburu pada kekasihnya," ucap Ryan.
"Skak matt!! Udah deh Le akuin aja kalo lo emang suka sama om Ryan. Jangan so soan gak suka, nanti om Ryan malah sama cewek lain lo sad lagi. Masa jomblo terus sih," ucap Jenna.
"Gue single bukan jomblo ya Jenn. Tolong bedain," ucap Ale.
Tbc.
__ADS_1