
***
Jenna dan Zayn keluar dari dalam ruangan itu setelah selesai di periksa. Untungnya luka di tangan Jenna bisa cepat sembuh dan kering. Meskipun Zayn sempat takut dengan kondisi Jenna karena setelah insiden penembakan itu, Jenna mengalami pendarahan hebat sampai kondisinya dinyatakan kritis.
Zayn membantu Jenna masuk ke dalam mobil. Baru ia masuk. Mereka akan kembali ke rumah. Entah apa yang akan dilakukan di rumah nanti. Ini baru pukul setengah sepuluh. Mungkin menonton adalah ide yang bagus.
"Sayang, hari ini kamu mau makan kue kesukaan kamu lagi gak? Tadi aku udah tanya sama temen kamu alamatnya," ucap Zayn.
Jenna tersenyum mendengar pertanyaan Zayn. Pria ini seperhatian itu ternyata padanya.
"Boleh. Sekalian aku pengen makan ayam goreng utuh," ucap Jenna.
"Oke. Kita on the way ke toko kue dulu baru beli ayam. Ada lagi yang kamu mau gak? Biar sekalian kita keluar," ucap Zayn.
"Entah, kayaknya itu dulu deh. Nanti aku mau ikut masuk ke toko kue-nya. Siapa tahu ada yang aku mau disana selain kue yang biasa aku makan," ucap Jenna. Zayn menganggukan kepalanya. Pria itu melajukan mobilnya menuju ke toko kue yang diberitahu oleh Ale. Untungnya Zayn dengan mudah mendapatkan alamat itu dari Ale.
"Oh iya sayang, semalem Ale telepon aku. Katanya Ryan maksa nginep di apartementnya. Ryan juga bersikap beda dari biasanya. Biasanya dia gak pernah meluk paksa Ale, tapi semalam dia maksa meluk Ale semalaman," ucap Jenna.
"Kayaknya dia mulai tertarik dengan Ale. Biasanya dia dengan wanita hanya sekedar menjadi patner s*x saja," ucap Zayn.
"Aku takut kalo Ryan permainkan Ale. Aku gak bisa lihat Ale tersakiti mas," ucap Jenna.
"Kalau soal itu, entah lah sayang. Aku juga tidak tahu seperti apa perasaan Ryan pada Ale. Yang jelas aku melihat baru kali ini Ryan sedekat itu dengan wanita. Biasanya dia akan mencampakan mereka setelah ia mendapatkan kepuasan s*xnya," ucap Zayn.
__ADS_1
Jenna terdiam. Bagaimana pun ia khawatir tentang Ale. Ale sahabatnya, mereka berteman sudah sangat lama. Jenna memang tidak mau ikut campur soal mereka, namun jika Ale disakiti oleh Ryan, tentu saja dia akan ikut turun tangan.
"Semoga saja Ryan benar benar serius dengan Ale. Jangan terlalu memikirkannya, aku akan menanyakannya nanti pada dia," ucap Zayn. Ia tahu diamnya Jenna, wanita itu khawatir tentang sahabatnya. Zayn juga takut jika Ryan menyakiti Ale, maka itu akan mempengaruhi hubungannya dengan Jenna. Sama halnya seperti kemarin malam, Zayn dan Jenna terlibat cek cok akibat dia menceritakan tentang Ryan pada Jenna.
Cukup lama larut dalam pikiran masing masing, tak terasa mereka pun sampai di toko kue yang sering dibeli oleh Ale untuk Jenna. Zayn keluar lebih dulu dan membantu Jenna keluar dari sana. Mereka berjalan masuk ke dalam toko.
Jenna langsung melihat lihat kue yang ia mau. Tentu saja dengan cheese cake yang langsung ia ambil. Jenna melihat lihat lagi, ternyata disini banyak kue lain juga. Jenna mengambil kue kecil kecil sebanyak empat jenis yang berbeda rasa. Ia juga mengambil coklat rasa macha yang dibetuk kotak dan di potong potong.
"Sudah cukup," ucap Jenna.
"Yakin itu saja?" Tanya Zayn. Jenna menganggukan kepalanya.
"Baiklah. Aku bayar dulu," ucap Zayn. Lagi lagi Jenna mengangguk dan megikuti pria itu ke meja kasir. Jenna sangat ingin mencoba coklat berperisa coklat itu, namun masih dibayar.
"Hai baby, i miss you."
"Apa apaan sih?! Lepas," ucap Zayn kasar. Ia mendorong tubuh Eliza agar menjauh dan tidak memeluknya. Bahkan tubuh Eliza terhuyung ke belakang akibat dorongan Zayn.
"Kenapa kamu kasar kayak gini sih babe, kan aku calon istri kamu. Inget loh kita pernah mau tunangan dan aku harap itu kembali terjadi," ucap Eliza.
"Najis gue tunangan sama cewek lount- kayak lo. Kayak gak ada wanita lain aja, udah sana lo layanin klien klien lo kayak biasanya. Ngangk*ng hanya demi uang. Cih, murah banget hidup lo," ucap Zayn menohok. Ia lantas menarik pelan pinggang Jenna untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Maafin aku sayang karena aku ngomong sama dia," ucap Zayn pada Jenna. Pria itu membantu Jenna masuk ke dalam mobil dan memberikan cakenya pada wanita itu. Jenna hanya mengangguk sekilas dan menerima kue itu. Sebenarnya Jenna tidak masalah jika Zayn berbicara dengan Eliza. Yang penting Zayn tahu batasannya.
__ADS_1
Zayn pun langsung setengah berlari masuk ke pintu samping stir mobil. Namun lagi lagi ia ditarik oleh Eliza.
"Baby, kamu gak bis giniin aku. Aku masih calon tunangan kamu," ucap Eliza.
"Ngaca. Bawa kaca kemana mana kalo perlu yang gede, cowok mana yang mau sama lo? Gue sih enggak mau, mungkin cowok cowok club yang selalu jadi klien lo yang mau. Jadi sadar diri, gue gak sudi nikah sama pel*cur club kayak lo," ucap Zayn.
"BABY!" teriak Eliza tak terima. Zayn menghiraukannya dan masuk ke dalam mobil. Sempat terjadi tarik menarik antara dia dan Eliza. Namun akhirnya dia berhasil masuk ke dalam mobil. Zayn langsung memasang seat belt miliknya.
Namun tiba tiba Eliza masuk ke dalam mobil Zayn. Wanita itu duduk di kursi belakang. Zayn tentu saja melotot tidak terima. Sedangkan Jenna hanya diam menikmati makanannya. Entah kenapa lucu saja melihat Zayn yang sepertinya frustasi dengan kehadiran Eliza.
"Lo ngapain masuk anj-?" Tanya Zayn kasar. Ia benar benar sudah kehilangan kesabaran menghadapi Eliza.
"Ikut kamu lah. Ingat aku masih calon tunangan kamu, aku akan selalu mengikuti kamu kemana pun itu. Dan lo cewek pelakor, jangan bangga karena lo duduk di depan. Itu tempat gue, harusnya lo sadar diri. Zayn cuma milik gue-,"
"DIAM!!!" Teriak Zayn. Kesabarannya benar benar sudah habis.
Jenna yang mendengar teriakan itu pun langsung mengulurkan tangan kanannya untuk memegang tangan Zayn. Sedikit mengelusnya agar Zayn tidak marah lagi. Jenna tahu, ia pasti sangat kesal. Sama halnya ketika Jenna haeus berhadapan dengan Mario.
"HEH, NGAPAIN LO PEGANG PEGANG BABY ZAYN?!" Tanya Eliza marah. Namun Jenna tidak menjawabnya, dia tidak mau berbicara dengan wanita itu meskipun sebenarnya dia sangat ingin mencakarnya saat ini juga.
"Lo keluar sekarang atau lo akan tahu akibatnya bakalan kayak gimana. Udah cukup gue bersabar atas kelakuan lo yang murahan ini," ucap Zayn.
Tbc.
__ADS_1