
ramaikan
***
Zayn baru saja menapakan kakinya diatas tanah. Ia bersyukur karena akhirnya ia sampai dengan selamat. Pria itu langsung masuk mobil untuk menuju ke kantornya. Tangannya sejak tadi sibuk memegang ponsel, membalas chat yang dikirimkan Jenna untuknya. Lagi lagi isi chatnya tidak jauh jauh dari apa yang sudah diucapkan Jenna sebelum Zayn berangkat.
'Jangan deket deket cewek lain. Jenna lebih oke.'
Zayn tersenyum kecil mengingatnya. Apa mungkin sebagian hati milik Jenna sudah mulai mencintainya? Hanya saja wanita itu malu untuk mengunkapkannya.
"Nona kedatangan temannya bernama Ale tadi. Dia menginap disana," ucap Math.
"Baguslah. Tetap pantau keadaan dia," ucap Zayn.
"Dan pria bernama Mario juga belum menunjukan tanda tanda akan mendekati nona lagi. Orang orang yang anda tempatkan masih terus memantau," ucap Math.
"Tetap pantau saja. Karena aku yakin dia akan mendekati Jenna-ku lagi," titah Zayn.
"Baik tuan."
Mobil pun terus melaju menuju ke kantor cabang milik keluarga Zayn yang ada disini. Terpaksa harus ia sendiri yang turun langsung kesini mengingat pekerjaannya yang cukup banyak dan juga cukup rumit jika harus dikerjakan oleh Math.
Zayn sampai kesana ketika sore hari. Keadaan kantor sudah cukup sepi karena karyawan karyawannya sudah pulang. Zayn keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam kantornya. Para bodyguard yang berjaga di depan membungkukan tubuhnya memberi hormat.
Di dalam kantornya, sudah ada Mattis, manager yang bertugas disini. Dia sudah menunggu Zayn.
"Selamat datang tuan Nagendra," ucap Mattis.
Zayn hanya mengangguk sekilas dan duduk. Meeting dadakan pun dimulai. Hanya dihadiri oleh Zayn, Math dan Mattis saja.
***
Sementara itu di Indonesia, besok paginya, Jenna kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Biasanya ada Zayn yang menjemputnya namun kini ia membawa mengendarai mobilnya sendiri. Sarapan sendiri berangkat pun sendiri, rasanya Jenna kembali seperti hidup saat kuliah saja.
Para karyawan membungkukan tubuhnya saat Jenna masuk ke dalam kantor. Jenna tentu saja melempar senyum manisnya pagi ini. Suasana hatinya cukup baik, semalam Zayn mengiriminya pesan balasan. Semoga saja pria itu cepat kembali. Bukan apa apa, Jenna hanya merasa aneh saja karena tiba tiba tidak ada yang mengganggunya setiap hari.
__ADS_1
"Anya, jadwal ku apa hari ini?" Tanya Jenna. Anya adalah orang yang membantu Jenna selama ini. Memberitahu jadwal jadwal Jenna dan juga menyiapkan hal hal berbau pekerjaan untuk Jenna. Anggaplah Anya adalah asisten Jenna di kantor.
"Nona akan mengahandel meeting bersama pihak donatur untuk acara amal yang setiap tahun diadakan oleh perusahaan, sesuai dengan perintah dari tuan Adam. Anda juga akan meeting mengenai hotel proyek anda dengan tuan Zayn lalu zoom meeting bersama tuan Zayn untuk membahas hasil meeting anda tanpa tuan Zayn," ucap Anya.
"Wait, maksudnya aku meeting dengan beberapa orang yang ikut andil dalam proyek hotel baru aku menyampaikannya pada Zayn melalui zoom?" Tanya Jenna.
"Benar, lalu terakhir makan malam bersama tuan Wicaksono," ucap Anya.
"Opa," gumam Jenna.
"Baiklah, kamu tolong siapkan materi untuk meeting pertama saya. Saya tunggu di ruangan," ucap Jenna.
"Baik nona."
Jenna memasuki ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya dan menyalakan laptopnya. Meeting masih beberapa menit lagi. Ponsel Jenna berdering. Panggilan dari papinya masuk.
"Iya pi, kenapa?" Tanya Jenna.
"..."
"..."
"Handel sama Anya aja kalo gitu. Males sumpah pi," ucap Jenna.
"..."
"Iya, iya, oke. Jenna kerja dulu," ucap Jenna. Ia pun mematikan teleponnya dan menyimpannya. Helaan nafas kembali terdengar. Seriously? Kenapa harus seperti ini, rasanya Jenna ingin benar benar berhenti bekerja dan menikah saja dengan Zayn.
"Ish, apaan sih. Gila kali otak gue," ucap Jenna setelah memukul pelan kepalanya.
"Anda baik baik saja nona? Kenapa kepala anda dipukul?" Tanya Anya. Wanita itu baru masuk ke dalam ruangan Jenna.
"Im fine. Nanti temani aku ke meeting bersama donatur amal. Aku harap kamu yang menghandelnya," ucap Jenna.
"Oo, tidak bisa nona. Itu amanat langsung dari tuan Adam. Saya hanya akan menemani anda tanpa harus berbicara disana," ucap Anya.
__ADS_1
Huh, menyebalkan sekali.
***
Setelah mengikuti dua meeting dari jam delapan sampai jam sebelas, kini Jenna harus dihadapkan pada meeting ketiganya bersama dengan donatur acara amal. Donatur ini akan diberikan pada pihak panti asuhan yang sudah menjadi penerima tetap sejak dulu.
Sesuai yang diinfokan papinya tadi, di meeting ini ia akan bertemu dengan Hendri dan anaknya Yura. Malas sekali rasanya. Jika saja Jenna tidak profesional, mungkin wanita itu tidak akan mau hadir disini.
Sejak Jenna masuk, tatapan sinis Yura melayang ke arahnya. Namun Jenna tidak ambil pusing dan menghiraukannya. Ia memilih duduk agar meeting segera dimulai. Dan benar saja, saat Jenna sudah datang meeting pun dimulai. Jenna fokus mendengarkan orang yang sedang berbicara di depannya. Namun matanya tetap jeli melihat pada selembar kertas yang berisi angka dan huruf.
"Jadi menurut anda bagaimana nona Adam? Apa harus kita mengoper dana yang setiap tahun kita berikan untuk panti, kita berikan pada pihak klinik klinik yang ada di daerah daerah terpencil?" Tanga Mahesa, salah satu donatur di acara amal ini.
"Sepertinya nona Adan tidak menyimak meeting kali ini. Dia malah fokus pada kertas di depannya," ucap Yura.
"Kenapa harus kita mengopernya? Apa panti tempat penerima dana itu sudah bubar?" Tanya Jenna mengabaikan ucapan Yura. Tentu saja Yura berdecak kesal.
"Bukan, namun melihat dari apa yang dilaporkan tuan Hendri, pihak kepala panti bukannya menggunakan dana itu untuk kepentingan anak anak disana melainkan untuk dirinya sendiri," ucap Mahesa.
"Korupsi?" Tanya Jenna.
"Benar."
"Apa anda sudah membuktikannya? Apa ada bukti lain yang lebih kuat?" Tanya Jenna.
"Anda bisa melihat ini keponakan ku," ucap Hendri, ia menyodorkan sebuah berkas pada Jenna. Mata tajam Jenna menatap ke isi map itu.
Cukup lama Jenna menatapnya. Namun bukan bermaksud untuk membuat durasi meeting lama, melainkan dia sedang mengingat sesuatu.
"Apa ini pasti?" Tanya Jenna.
"Ck, lo lihat aja kali kak. Masa lulusan Harvard gak punya otak buat menilai," ucap Yura. Para donatur saling melirik melihat tindakan semena mena Yura pada Jenna. Bahkan Hendri, papanya Yura hanya diam saja.
"Saya bertanya pada tuan Hendri, bukan ada anda yang tiba tiba duduk disini dengan dalih ingin ikut serta," ucap Jenna. Yura ingin sekali memukul wajah so dingin itu.
"Tentu saja itu asli Jennaira, apa kamu tidak melihat bukti laporannya? Om yakin kamu cukup pintar," ucap Hendri.
__ADS_1
Tbc.