
***
"Hush, papi ngomongnya jangan gitu. Ini hari bahagia keluarga kita. Jangan negatif thinking mulu deh. Zayn sekarang menantu keluarga kita," omel Jeni saat suaminya mengatakan hal hal yang tidak patut dikatakan.
"Wah, jadi sekarang kamu lebih membela menantu kamu itu?" Tanya Adam.
"Gak usah cemburu kali pih, udah tua. Inget umur," ucap Jeni.
Jenna dan Ale hanya terkekeh pelan mendengarnya. Lucu juga mendengar perdebatan antara pasangan yang sudah lanjut usia ini. Apa nanti Jenna dan Zayn juga akam seperti itu?
"Sudah, ayo sekarang kita ke bawah om, tante. Kasihan loh yang lain udah pada nunggu," ucap Ale.
Jeni dan Adam mengangguk. Adam pun menari tangan Jenna dan mengalungkannya pada lengannya untuk digandeng, begitu juga dengan Jeni. Jenna di apit kedua orang tuanya di sisi kiri dan kanan. Sedangkan Ale mengikuti dari belakang.
Sebenarnya Jenna sangat gugup sekali. Meskipun sudah terbiasa menghadapi orang orang yang cukup banyak, namun hari ini berbeda. Bedanya hari ini dialah yang jadi tokoh utamanya.
"Relax sayang," bisik Jeni.
"Jenna takut mi," ucap Jenna.
"Takut kenapa?" Tanya Jeni.
"Pokoknya takut aja mi," ucap Jenna. Keduanya berbisik bisik ketika berbicara seolah tidak ingin Adam mendengarnya. Sedangkan Adam, dia mendengarnya namun tidak mau ikut campur.
"Kamu masih beberapa jam lagi buat di unboxing Zayn. Santai saja, lagian gak sakit kok. Percaya sama mami, mami udah mengalaminya," ucap Jeni.
"Sstt mami," peringat Jenna.
__ADS_1
Wanita itu sudah mencoba melupakan hal itu namun maminya malah kembali mengingatkannya. Maminya ini benar benar. Jenna sejak semalam sudah overthinking tentang itu. Apalagi semalam Zayn mengatakan jika mereka sudah menyelesaikan acara resepsinya, maka Zayn akan langsung membawa Jenna pergi hari itu juga. Zayn memang tidak mengatakan akan pergi kemana, namun Jenna sudah yakin dan sudah feeling jika Zayn akan mengajaknya honeymoon.
Honeymoon yang dimaksud Zayn sudah pasti hal yang gila yang akan dilakukannya. Apalagi setelah mereka sah menjadi suami istri, Zayn pasti tidak akan segan segan lagi. Bahkan mungkin tanpa mau mendengarkan persetujuan Jenna.
Tarikan nafas lalu dihembuskan, baru kali ini Jenna merasa sangat nervous. Ternyata seperti ini rasanya menikah. Apalagi hari hari sebelum hari H, banyak sekali msalah dan drama yang dilewati oleh Jenna. Namun akhirnya dia sampai di hari ini. Hari dimana semua orang akan tahu tentang kejelasan hubungannya dengan Zayn.
Jenna turun perlahan bersama kedua orang tuanya. Rumah besarnya ini dusulap dengan ditempeli beberapa bunga dan pernak pernik background pernikahan. Di tengah rumah yang biasanya disimpan kursi panjang yang biasa dipakai untuk pertemuan keluarga namun kini kursi itu tidak ada entah kemana. Ditengah rumahnya sudah banyak keluarganya yang berkumpul. Semuanay menatap dengan senyuman ke arah Jenna.
Jenna malu, dia memilih menundukan kepalanya. Namun maminya mencubit pelan tangannya sembari berbisik, “Kamu udah cakep luar biasa Jenn. Jangan nunduk deh, nanti kamu nyeruduk.”
Jenna mendengus kesal mendengarnya. Sepertinya maminya tidak tahu jika Jenna benar benar sedang nervous.
Sementara itu saat beberapa atens i orang di dekatnya melihat ke arah tangga, Zayn juga melihat ke arah sana. Untuk beberapa saat dia terdiam. Ternyata ini semua nyata dan bukan mimpi. Dia benar benar menikah dengan wanitanya. Wanita yang sejak dulu sudah jadi incarannya, bahkan wanita itu juga yang membuatnya banyak melakukan hal hal gila hanya untuk mendapatkannya. Kalian tahu sendiri seperti apa gilanya cara Zayn untuk mendapatkan Jenna.
“Ngedip kali, gue tahu cewek lo cakep,” sindir Ghani.
“Ya, ya, ya. Whatever,” ucap Ghani.
Zayn tersenyum lebar saat melihat Jenna yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Di samping kiri dan kanannya ada mami dan papinya. Kedua orang tua itu tersenyum ke arah Zayn.
“Sekarang dia adalah istri kamu Zayn. Sepenuhnya tugas saya sudah berada di tangan kamu. Harus kamu ketahui, saya rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan anak saya ini. Dia adalah anak yang sangat saya dan keluarga saya harapkan. Untuk itu, kamu juga harus melakukan apa yang selama ini saya lakukan untuk membahagiakan putri saya ini,” ucap Adam.
Zayn tersenyum lalu mengangguk dengan pasti, tanpa pikir panjang lagi.
“Om, ah salah. Sekarang anda bukan om saya lagi, anda sudah jadi papa mertua saya. Jenna terbiasa memanggil anda dengan sebutan papi, apa saya boleh memanggil anda dengan nama serupa?” Tanya Zayn.
“Tentu saja,” jawab Adam.
__ADS_1
“Papi gak usah khawatir. Zayn tentu saja akan selalu membahagiakan putri kesayangan papi dan mami ini. Zayn akan sepenuhnya bertanggung jawab, tentunya kalian berdua tidak akan percaya karena saat ini Zayn hanya mengatakannya saja tanpa bukti. Tapi seiring berjalannya waktu, kalian berdua bisa melihatnya sendiri nanti,” ucap Zayn.
Adam bisa tenang untuk saat ini, dia akan memegang ucapan Zayn dulu selagi anak ini membuktikannya. Adam tentunya percaya dengan pria ini. Dia dengan jelas melihat pertumbuhannya sejak kecil. Tidak disangka, anak laki laki yang selalu menemani istrinya saat mengandung ini ternyata jadi menantunya saat ini.
Takdir tuhan memang sulit sekali ditebak.
“Sekarang dia adalah istri kamu Zayn,” ucap Adam.
“Sun tangan suami kamu. Kok diem aja kayak orang gak bisa gerak. Mageran,” bisik Jeni.
Jenna ingin sekali menyela ucapan maminya. Namun itu tidak mungkin, jangankan menyela ucapan maminya, untuk menahan tubuhnya saat ini saja terasa sulit. Kakinya terasa seperti jelly.
Jenna maju satu langkah mendekat ke arah Zayn. Dia masih menundukan kepalanya. Namun tiba tiba Zayn menarik dagunya agar menatap ke arahnya. Zayn tersenyum melihat kegugupan yang sangat kentara di wajah cantik istrinya ini.
Yah, istrinya.
Dulu, Zayn hanya memanggil Jenna dengan sebutan wanitanya. Namun kini dia sudah bebas memanggilnya dengan sebutan istri.
"Hai, my wife," ucap Zayn. Jenna mengulum bibirnya ke dalam, semburat merah tercetak di kedua pipinya. Memang pipi Jenna memakai blus on, namun tetap saja warnanya kalah dengan blushing yang terjadi akibat mendengar ucapan Zayn yang memanggilnya my wife.
Zayn hanya terkekeh pelan melihatnya. Dia pun mencium kening Jenna cukup lama. Riuh tepuk tangan terdengar saat Zayn mencium kening Jenna. Zayn terlihat biasa saja, seolah dia memang sudah tidak asing lagi dengan suasana seperti ini. Berbeda dengan Jenna yang sudah kalang kabut karena nervousnya.
"Now your my wife, Mrs. Nagendra," ucap Zayn.
Jenna hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka pun diarahkan untuk duduk di kursi pelaminan yang sengaja disimpan disana. Acara ijab telah selesai, mereka kini tinggal menikmati hidangan yang disediakan saja.
Tbc.
__ADS_1