
vote komen🥹✊️
***
Beberapa hari berlalu, kondisi kaki Jenna sudah mulai membaik. Wanita itu sudah bisa beraktifitas seperti biasanya dan dia sudah memutuskan akan kembali ke apartementnya. Ia sangat senang tinggal disana. Meskipun disana juga ia akan selalu dekat dengan Zayn, tidak apa. Yang jelas dia sangat nyaman tinggal disana.
Selama beberapa hari itu juga, Zayn sering mengunjunginya setiap hari. Bahkan Zayn selalu membawakan cemilan juga makanan favorit untuk Jenna. Jenna tidak menolaknya tentu saja, apalagi ini adalah makanan kesukaannya. Hanya saja Jenna masih belum bisa menerima Zayn di hatinya.
Entah pria itu tulus atau tidak, Jenna tidak tahu. Yang jelas ia hanya mengikuti alurnya saja. Jenna akui pria itu tampan dan juga kaya raya. Hanya saja dia belum mampu membuat hati Jenna luluh.
Jeni sudah menginterogasinya. Jenna hanya mengatakan jika ia belum menerima hubungan ini. Saat itu Jeni memberikannya wejangan. Memang tidak baik menolak keras pria yang ingin dekat dengannya. Hanya saja tindakan Zayn ini cukup membuatnya bingung. Antara benar benar ingin dekat dan hanya main main saja.
Jenna sudah lelah jika Zayn hanya ingin main main. Kejadian yang dilakukan Mario waktu itu saja masih membekas di ingatannya. Cara Mario masuk ke dalam kehidupannya bahkan bagaimana cara Mario membuatnya luluh masih saja Jenna ingat. Dan yang paling fatal adalah bagaimana cara Mario mengkhianatinya.
Jenna tidak masalah jika Mario bosan dengan hubungannya, hanya saja tidak perlu kan sampai mengkhianati seperti itu?
Jenna tidak pernah menyinggung kehidupan om Hendri. Tapi pria itu sangat ingin sekali menjatuhkan reputasinya. Bahkan mungkin Yura juga diperintahkan olehnya untuk selalu membuat masalah dengan Jenna. Tak terhitung berapa kali Yura mengganggu hidupnya. Jenna hanya diam dan malas membalasnya. Toh karma masih ada dan itu pasti akan berlaku, cepat atau lambat.
Jenna menutup laptop miliknya. Pekerjaanya sudah selesai. Ia memang sudah ke kantor hari ini. Dan hari ini juga papinya mulai memberikannya tugas. Hanya tugas dasar, karena Jenna baru saja menapakan kakinya di dunia bisnis.
Meskipun fashion Jenna adalah bisnis, tetap saja ia membutuhkan pelajaran dan juga pengajaran dari lingkungannya. Jenna dikaruniai otak jenius. Tak perlu waktu lama, wanita itu pun sudah bisa mengerti semuanya.
"Apa jadinya kalo om Hendri tahu gue udah mulai kerja di kantor? Apa dia makin makin buat cari masalah sam gue?" Gumam Jenna.
Jenna sudah diberikan ruangan pribadi oleh papinya. Ruangan milik Jenna sangat luas. Ada kamar mandi pribadi, space penerima tamu dan juga meja kerjanya yang sangat besar. Disini juga ada ruang istirahat untuk Jenna. Dan jangan lupakan semua ruangan Jenna terbuat dari kaca. Sekelilingnya hanya kaca. Dari lantai dua puluh ini ia bisa melihat luasnya kota ini.
Jenna terperanjat kaget saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Ia tidak bisa melihatnya apalagi melepaskan diri karena pria itu langsung memeluknya erat.
__ADS_1
"Apa ada yang mengganggu pikiran mu?" Tanya Zayn. Ya, pria itu yang masuk ke ruangan Jenna dan memeluknya begitu saja.
"Lepaskan om. Kalo ada yang tiba tiba masuk gimana?" Tanya Jenna.
"Biarkan saja. Toh kamu pacar ku, aku bebas untuk memeluk mu," ucap Zayn.
"Hilih, berani meluk gak berani nikahin. Dimana mana nikah dulu baru boleh pegang pegang sama meluk," ucap Jenna.
"Saya kan sudah mengajak kamu untuk segera menikah tapi kamu terus beralasan. Jadi salahnya di kamu bukan di saya," ucap Zayn.
"Cewek gak pernah salah ya om. Cowok tuh yang tempatnya salah," ucap Jenna tidak mau kalah.
"Itu hanya perumpaan Jennai sayang," ucap Zayn.
"Gak usah panggil panggil sayang om, geli," ucap Jenna. Wanita itu mencubit tangan Zayn sehingga ia bisa lepas dari pelukan pria itu. Jenna pun beralih duduk di kursi kerjanya agar Zayn tidak sembarangan memeluknya lagi.
"Sudah masuk waktu makan siang, bagaimana jika kita makan siang bersama?" Tanya Zayn.
"Jenna gak laper om," ucap Jenna.
"Kamu manusia kan?" Tanya Zayn.
"Menurut om," ucap Jenna jengah.
"Ya seharusnya kalo kamu manusia ya kamu menyetujui jika saya ajak kamu makan," ucap Zayn. Dahi Jenna mengernyit, dia memang manusia tapi bukan seperti itu maksudnya.
"Mau ya? Kita ke restoran Jepang?" Tanya Zayn. Jenna nampak berpikir. Ia sebenarnya ingin makan yang berkuah kuah saat ini, apalagi pedas.
__ADS_1
"Ya udah, iya Jenna ikut," ucap Jenna.
"Gitu dong, diajak nikah kan gak mau jadi mending saya ajak kamu makan aja," ucap Zayn. Jenna tidak membalas ucapan pria itu. Ia sibuk memasukan barang barangnya seperti ponsel, dompet, dan lipstik ke dalam tas selempangnya.
Meskipun sudah menjadi wanita kantoran, Jenna lebih senang menggunakan tas selempang.
Mereka berdua pun keluar karena jam istirahat akan segera dimulai. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua. Ada yang kagum namun tak sedikit juga yang iri karena ingin berada di posisi Jenna. Anak dari CEO dan dekat juga dengan seorang CEO tampan.
Restoran Jepang tidak jauh dari kantor milik papi Jenna. Jadi dengan berjalan kaki pun mereka bisa cepat sampai. Jelas saja karena letak restoran itu bersebrangan dengan kantor.
Jenna dan Zayn masuk ke dalam restoran. Mereka duduk di bangku yang tidak terisi pelanggan. Tak lama pelayan resto datang dan memberikan buku menu. Jenna tidak melihat buku menu, wanita itu memesan ramen dan udang tempura dengan minuman lemon juice. Sedangkan Zayn memesan nasi goreng omelet.
"Ngomong ngomong, kenapa om bisa ada di kantor papi?" Tanya Jenna saat pelayan resto pergi dari meja mereka.
"Ada kepentingan dengan papi kamu. Lagi pula kami akan mengadakan proyek bersama. Katanya proyek itu akan ditangani oleh kamu? Apa itu benar?" Tanya Zayn.
"Proyek pembangunan hotel?" Tanya Jenna. Zayn menganggukan kepalanya.
"Ya elah, papi. Tahu gitu gak gue terima proyeknya kalo barengan dia," gumam Jenna.
"Kenapa?" Tanya Zayn.
"Gak papa," ucap Jenna. Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan pun datang. Jenna dengan lahap memakan ramen miliknya yang disatukan dengan udang tempura. Rasanya benar benar nikmat. Sedangkan Zayn memakan nasi gorengnya. Pria itu sesekali melirik ke arah wanita di depannya ini. Zayn tersenyum kecil melihat cara makan wanita ini yang terlihat sangat lucu menurutnya.
Saat sedang asik makan, tiba tiba Jenna menaikan wajahnya dan tak sengaja melihat Mario dan Yura di restoran ini.
Tbc.
__ADS_1