
YOROBUN!!!
RAMEIN NAPA. INI PADA DIEM DIEM BAE DEH👺
***
Jenna berangkat pagi ini dengan heboh. Bagaimana tidak, ia dikabari papinya untuk pergi dinas keluar kota. Alasannya, peninjauan hotel di Bali. Mau tak mau Jenna harus pergi.
Jenna dibantu packing oleh maminya sementara ia bersiap. Ia baru terbangun pukul tujuh dan pukul delapan dia akan berangkat. Bayangkan saja bagaimana hebohnya dia. Setelah selesai bersiap dan memakai pakaiannya, Jenna memasukan semua make up-nya. Ia memberikan pada maminya untuk dimasukan ke dalam koper yang berukuran cukup besar. Karena disana Jenna akan tinggal selama lima hari.
"Udah mi?" Tanya Jenna.
"Udah sayang, nanti ini dibawa pak Ucup kebawah. Kamu sarapan dulu," ucap Jeni. Jenna mengangguk sekilas dan turun ke lantai bawah menuju meja makan. Disana sudah ada Adam, papinya. Duduk anteng sembari membaca isi dari ipad yang ada di tangannya.
Jenna mendengus kesal melihat papinya yang bersantai. Sedangkan Jenna dan maminya baru saja sibuk bersiap.
"Papi jahat. Jenna ngambek pokoknya," ucap Jenna.
Adam hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya.
"Jenna udah gede, jangan ngambek dong sama papi. Maafin papi, papi lupa," ucap Adam.
"Udah, kamu makannya santai aja. Naiknya bukan pesawat umum tapi jet pribadi," ucap Jeni.
What the fu*k!
Tahu begitu Jenna akan memilih sendiri pakaian yang akan ia bawa dan tidak akan merepotkan maminya. Paginya benar benar sudah heboh sampai membuatnya badmood.
Jenna hanya meminum segelas susu dan roti tawar tanpa selai. Jenna memang sering memakan roti seperti itu, kedua orang tuanya sudah tidak aneh lagi. Yang penting ada yang masuk ke dalam perut anaknya.
Selesai sarapan, Jenna diantar oleh maminya ke depan. Sedangkan papinya akan ke kantor. Jenna berpamitan pada mami dan papinya.
"Hati hati disana ya Jenn. Save fligh, pulang lagi nanti," ucap Jeni.
__ADS_1
"Iya mami, siap," ucap Jenna.
"Baik baik disana Jenn. Kamu juga bakalan kerja di kantor cabang daerah yang ada disana. Bakalan ada klien dari luar negeri yang harus kamu tangani," ucap Adam. Pria itu sudah sepenuhnya mempercayakan pekerjaan itu pada anaknya. Klien dan investor sudah terbiasa dihadapi Jenna. Dan selama ini anak itu cukup kompeten juga.
"Iya pi. Nanti data datanya tolong kirim lewat email. Yaudah Jenna berangkat ya mi, pi," ucap Jenna.
"Iya sayang," ucap Jeni dan Adam.
Jenna masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke bandara. Dia diantar oleh pak Ucup. Sedangkan papinya akan berangkat sendirian.
Lima belas menit berlalu, Jenna sampai di bandara. Di lobby ada Mathew, asisten Alaric entah sedang apa pria itu disana.
"Nona Adam, mari ikut saya. Saya akan mengantar anda ke jet," ucap Math.
"Oh, oke."
Jenna pun mengikuti Mathew. Kopernya sendiri dibawa oleh seorang bodyguard yang berada bersama Mathew tadi. Mereka berjalan melewati jalan biasa menuju ke jet. Banyak sekali orang disini, padahal ini bukan libur hari raya.
"Silahkan nona naik saja. Koper anda akan diurus oleh orang lain," ucap Mathew saat mereka sampai di dekat jet.
"Duduk Jennai."
Suara bariton di belakangnya membuat Jenna terlonjak kaget. Ia pun melihat ke belakang, disana ada Zayn sedang berdiri menatapnya.
"Kok ada om? Ngapain?" Tanya Jenna.
"Menurut kamu?"
Zayn pun duduk di kursi yang akan di duduki oleh Jenna. Sedangkan Jenna masih terdiam seperti orang bodoh. Ia masih merasa aneh karena ada Zayn disini.
Orang ini ada keperluan apa sampai harus naik jet yang sama dengan Jenna?
Zayn melirik ke arah Jenna yang masih diam berdiri. Sepertinya wanita itu terkejut dengan kehadirannya. Apa om Adam tidak memberitahunya? Zayn pun menarik tangan Jenna agar duduk. Awalnya duduk di pangkuan Zayn namun wanita itu berpindah ke sisi Zayn. Menempati kursi kosong.
__ADS_1
"Om gabut sampe harus ngikutin Jenna ke Bali?" Tanya Jenna.
"Enggak, kan saya dinas sama kamu. Emang om Adam gak ngasih tahu? Kita satu patner kan buat urus soal hotel?" Tanya Zayn.
O M G!!!
Jenna benar benar baru tahu saat ini. Papinya benar benar membuatnya kesal. Awas saja, sepulang dari dinas Jenna pasti akan bolos satu minggu. Ia tidak akan ke kantor dengan alasan kesal pada papinya.
"Jenna aja baru dikasih tahu tadi pagi. Makanya pas pulang dari Anyer kemarin Jenna gak langsung packing," ucap Jenna.
Seorang pramugari masuk, memberi tahu Jenna dan Zayn untuk memakai sabuk pengaman karena mereka akan segera lepas landas ke udara. Tadi pramugari itu terlihat ramah, namun saat ini pramugari itu justru melayangkan tatapan garang kepada Jenna.
Hei, Jenna salah apa?
Beberapa menit berlalu, pesawat pun mengudara. Jenna dan Zayn melepaskan sabuk pengaman mereka dan kembali berbincang. Lebih tepatnya Jenna berbicara karena Zayn bertanya.
"Kamu packing tadi pagi?" Tanya Zayn.
Jenna menganggukan kepalanya.
"Bawa biki*i?" Tanya Zayn iseng.
"Idih, buat apaan baju kurang bahan," ucap Jenna sedikit ngegas.
"Saya becanda Jenna," ucap Zayn. Pria itu terkekeh melihat reaksi Jenna. Sangat sangat lucu sekali. Mereka pun terdiam, tidak saling mengeluarkan suara lagi. Zayn sibuk dengan ipad-nya sedangkan Jenna sudah terlelap dengan cepat.
Wajar saja anak itu masih mengatuk tadi pagi. Karena semalam dia pulang sekitar pukul sepuluh malam. Hujan tidak mau berhenti, terpaksa Jenna pun harus meneduh selama berjam jam.
Zayn yang matanya fokus pada ipad kini tidak lagi. Ia fokus pada wanita yang ada di sampingnya. Semua inu adalah keinginannya. Tadinya hanya Zayn yang akan pergi dinas namun ia meminta om Adam mengikut sertakan Jenna. Terlebih juga proyek hotel ini adalah proyek milik Adam dan Rendra. Papa dan papi Jenna juga Zayn.
Zayn mengelus pelan pipi wanita yang kini sudah tertidur lelap. Perjalanan menuju ke Bali tidaklah lama. Namun jika Jenna terus menerus tidur dengan posisi ini, tidak akan baik juga untuk tulangnya.
Zayn menekan tombol di kursi yang di duduki Jenna. Dari arah kaki naik sebuah benda pipi seperti papan namun dilapisi busa empuk. Bagian penyangga punggung sedikit merendah ke belakang. Jenna akan tidur dengan nyaman kali ini. Zayn juga melakukan hal sama. Tidak terlalu rendah, kursi mereka berdua sama.
__ADS_1
Zayn mencuri kecupan di bibir Jenna. Gemas! Ia ingin melum*tnya.
Tbc.