
Sepi kali
***
"Bagaimana rasanya?"
"Masih sama seperti pertama kali aku mencuri ciuman pertama mu. Saat itu usia kita masih sangat kecil. Bahkan kamu masih bayi, namun aku sudah mencuri ciuman pertama mu," ucap Zayn.
Pengakuan yang selama ini Zayn berusaha tutupi akhirnya di ungkapkan juga saat ini. Memang iya, saat itu Jenna sudah lahir dan sudah beberapa bulan berada di dunia. Zayn juga masih sangat kecil. Namun entah saat usia berapa Zayn tidak ingat. Yang dia ingat hanya ciumannya itu. Lebih tepatnya kecupan, kecupan yang Zayn curi saat tante Jeni pergi ke kamar mandi dan menitipkan Jenna padanya untuk ia jaga.
"Waktu aku bayi? Apakah sejak kamu kecil kamu sudah jadi pedofil mas?" Tanya Jenna.
"Pedofil hanya pada mu saja," ucap Zayn.
Jenna terkekeh pelan. Wanita itu pun bangkit dari duduknya dan memeluk Zayn. Zayn hanya tersenyum dan membalas pelukan Jenna.
"Don't cry. Aku tidak mau ada tangisan di hari bahagia kita," ucap Zayn.
"Tapi air matanya maksa keluar," ucap Jenna.
"Tahan sayang, itu hanya air mata. Bukannya kamu sering menahan desah*n indah mu?" Tanya Zayn.
Jenna mendelik dan memukul pelan dada bidang Zayn, "Jangan dibahas soal itu."
"Tapi itu benar dan itu kenyataannya sayang. Kamu lupa? Kamu yang minta diatas tapi kamu juga yang minta ampun, harusnya kan aku yang minta ampun. Tapi ini malah kebalikannya," ucap Zayn.
"Mas, jangan dibahas," erang Jenna. Tak suka jika hal hal seperti itu dibahas. Meskipun memang setelah sering melakukan hal itu, Jenna memang terbiasa dan bahkan jadi liar. Itu semua terjadi tanpa adanya pemikiran. Itu semua terjadi atas kehendak tubuhnya sendiri.
"Okay tidak," ucap Zayn.
"Kamu gak akan bosen kan? Sebelum menikah kita udah sering melakukan hal itu," ucap Jenna.
"Bosan?" Tanya Zayn. Jenna menganggukan kepalanya. Bagaimana pun Jenna tetap khawatir akan hal itu. Dia khawatir Zayn akan bosan pada Jenna sebab Jenna dan Zayn sudah sering melalukan hal itu. Bahkan jauh sebelum mereka menikah. Apalagi diluaran sana banyak wanita yang siap memuaskan suaminya ini.
__ADS_1
Ditambah lagi mantannya yang masih terus menghantui hubungan mereka berdua. Eliza seolah jadi bayang bayang terburuk dalam kehidupan Jenna dan Zayn. Jenna hanya takut Zayn hilaf dan kembali pada Eliza.
"Aku gak akan pernah bosan sama kamu sayang. Kenapa kamu bertanya hal seperti itu? Apa kamu meragukan aku?" Tanya Zayn.
"Bukan ragu mas. Aku hanya takut, bagaimana pun kehidupan di masa depan gak ada yang kita tahu. Aku hanya takut saja," ucap Jenna.
"Ini salah satu hal yang paling aku tidak sukai sayang. Dengan overthinking seperti ini akan membuat kamu terus berpikiran negatif bahkan parahnya kamu bisa jatuh sakit dengan pemikiran kamu sendiri. Aku gak akan diam begitu saja jika kamu sudah sakit. Kamu tahu kan, hukuman ku berbeda dengan hukuman orang biasa?" Ucap Zayn.
"Gak usah nakutin. Aku gak mau hukuman kayak itu lagi, pake segala dimasukin vibrator. Gak enak tahu," ucap Jenna.
"Aku tahu lebih enak punya ku bukan?" Tanya Zayn.
"Mulai lagi," ucap Jenna pelan.
"Sudahlah sayang, apa yang kamu pikirkan tidak akan pernah terjadi. Aku jamin hal itu. Kamu harus percaya sama aku, sama cinta aku. Bahkan sama effort aku," ucap Zayn.
"Iya mas. Pokoknya awas aja kalo kamu kegatelan sama wanita lain diluaran sana. Aku gak akan diem gitu aja, aku pasti balas dendam. Bahkan lebih dari apa yang kamu lakukan," ucap Jenna.
"Capek mas, resepsinya sampe jam berapa? Udah pengen istirahat," ucap Jenna.
"Pengen istirahat atau pengen itu?"
"Mass!!"
Zayn terkekeh pelan. Memang sangat menyenangkan sekali menggoda wanita ini. Apalagi statusnya sekarang dia adalah istrinya. Sudah pasti setiap hari Jenna akan bersama dengannya dan kemungkinan juga Zayn akan terus menggodanya.
Zayn dan Jenna pun keluar dari dalam ruang rias setelah mami Jeni dan Ale meminta keduanya segera masuk ke dalam ballrom hotel. Jenna dibantu oleh Ale untuk merapikan ekor gaunnya yang sangat panjang itu. Gaun berwarna silver yang sengaja dirancang khusus oleh desainer ternama.
"Good luck. Lo cakep," bisik Ale. Wanita itu pun menjauh dari sana. Jenna dan Zayn saat ini sedang berada di depan pintu ballrom hotel yang tertutup.
Perasaan Jenna benar benar sangat sangat gugup. Buket bunga yang ada di tangannya juga sedikit bergetar. Sedangkan Zayn hanya diam saja seolah dia sudah terbiasa dengan hal ini. Karena kenyataannya memang seperti itu.
"Relax sayang. Mereka semua tidak akan menggigit kamu," ucap Zayn.
__ADS_1
"Iya, mereka gak akan gigit aku. Tapi kamu yang akan gigit aku," ucap Jenna.
"Tahu aja. Malam ini langsung gas ya? Kamar hotel di lantai atas udah siap," ucap Zayn.
"Gak usah nakutin!!"
"Enggak nakutin sayang. Cuma kasih tahu aja," ucap Zayn.
"Sst, udah diem deh mas. Pintunya udah gerak mau dibuka," ucap Jenna.
Benar, pintu sudah terlihat bergerak dan tak lama terbuka dengan sempurna. Jenna benar benar tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya di depan Zayn. Wanita itu meremas pelan tangan Zayn yang digandeng olehnya.
Jenna benar benar terpaku saat pintunya terbuka dan atensi semua orang melihat ke arahnya dan Zayn. Ditambah pembawa acara juga langsung menyambut kedatangan keduanya dan mempersilahkan Jenna dan Zayn untuk masuk dan duduk di pelaminan.
"Apa perlu aku mengusir mereka semua agar kamu tidak gugup?" Tanya Zayn.
"Diam mas," ucap Jenna.
"Oke," ucap Zayn.
Ck. Pria ini benar benar menyebalkan. Sialnya lagi sekarang statusnya sudah berubah. Pria ini bukan lagi kekasihnya, tapi sudah menjadi suaminya. Rasanya seperti mimpi, namun ini semua nyata.
Jenna melempar senyum ke arah beberapa orang yang dia kenal. Semua orang di ruangan ini benar benar hanya menatap ke arah dua manusia yang menjadi bintang utama pada acara ini.
Jenna sedikit melihat beberapa wanita seusianya yang sedang berbisik bisik. Entah apa yang mereka bisikan, Jenna tidak peduli karena dia tidak bisa mendengarnya.
"Mereka semua iri dengan kecantikan yang kamu miliki," ucap Zayn pelan.
"Salah. Mereka iri bukan karena hal itu mas. Mereka iri karena aku yang jadi istri kamu. CEO terkaya dan termuda," ucap Jenna.
"Mereka hanya mengincar harta ku, sedangkan kamu mengincar aku dsn cinta ku. Kamu sering bertanya apakah aku mencintai kamu ketika kita selesai berhubungan. Right?"
Tbc.
__ADS_1