One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
56. Wawancara


__ADS_3

***


Pagi hari sekitar pukul tujuh, Zayn datang ke rumah Jenna dengan maksud untuk menjemput kekasihnya itu. Adam dan Jeni tentu saja mengijinkannya. Lagi pula arah kantor mereka sama. Jarak dari kantor Zayn menuju kantor Adam tidaklah jauh. Mungkin hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja. Masih satu kota hanya berbeda tempat.


Jenna memakai dress berwarna merah yang dipadukan dengan jas panjang berwarna hitam. Ia menyanggul asal rambutnya.


Sejak tadi, Zayn salah fokus dengan baju yang dipakai Jenna. Wanita itu sangat cantik sekali. Zayn rasanga tidak rela jika Jenna dilihat banyak orang. Tapi mau bagaimana lagi, wanita ini harus bekerja di kantor.


"Kamu marah gara gara semalam?" Tanya Zayn.


"Enggak. Semalam aku matiin panggilannya karena ngantuk," ucap Jenna.


"Cape ya?" Tanya Zayn.


"Cape lah om, yakali gak cape," ucap Jenna.


"Cape gara gara des*h ya?" Ucap Zayn membuat Jenna mendelik dan memukul pelan bahu pria itu.


"Apaan sih om, jangan bahas itu mulu please," ucap Jenna.


"Kenapa? Itu terlalu indah untuk dilupakan," ucap Zayn.


"Gak, gak indah," ucap Jenna. Zayn hanya tersenyum sekilas saja kemudian kembali fokus pada jalanan.


"Oh iya om, terkait wartawan gimana? Jenna gak mau dikejar kejar mereka, males," ucap Jenna.


"Tenang sayang, semalam sudah aku urus. Hari ini gak mungkin ada wartawan yang kejar kejar kamu," ucap Zayn.


"Oke kalo gitu. Makasih om," ucap Jenna. Ia pun kembali diam dan melihat ke jalanan.


Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh keduanya sampai di kantor milik Adam. Jenna turun dari dalam mobil setelah pintunya dibuka. Ternyata Zayn yang membukanya. Jenna menerima uluran tangan Zayn dan keluar dari dalam mobil.


"Jangan kayak gini, karyawan papi lihatin aku tuh," ucap Jenna.


"Cuekin aja. Jangan kamu pikirin mereka, toh mereka gak ada value-nya dalam hidup kita. Yuk masuk, aku anter sampe depan ruangan kamu," ucap Zayn.

__ADS_1


"Jangan. Sampe sini aja," ucap Jenna.


"No. Kamu pacar aku, sudah seharusnya aku antar kamu ke dalam. Nurut ya sayang," ucap Zayn. Pria itu merangkul pinggang Jenna dan membawanya masuk ke dalam kantor.


Seluruh atensi melihat ke arah Jenna dan Zayn yang baru masuk ke dalam kantor. Beberapa menundukan kepalanya memberikan hormat. Dan tidak sedikit juga yang berbisik bisik. Bahkan Jenna sampai mendengarnya dengan jelas.


"Jadi, berita itu benar? Mereka menjalin hubungan lebih dari rekan kerja?"


Seperti itulah kira kira yang mereka ucapkan. Rata rata tidak jauh dari pembahasan foto kemarin. Baik Jenna atau pun Zayn tetap cuek dan terus berjalan masuk ke dalam lift. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas apapun.


"Jangan cape cape. Kalo perlu kamu gak usah kerja biar aku yang tanggung biaya hidup kamu," ucap Zayn saat mereka sudah keluar dari dalam lift.


"Mana bisa gitu. Jenna mau mandiri om, gak mau nyusahin orang lain. Selagi Jenna sehat dan mampu cari uang, ya Jenna cari sendiri," ucap Jenna.


"Oke terserah mau kamu apa. Tapi jangan cape cape, makan siang nanti aku kesini lagi. Kita makan siang bareng," ucap Zayn.


"Iya. Makasih, hati hati di jalannya," ucap Jenna.


"Okay sayang. Kiss dulu," ucap Zayn.


"Bye sayang," ucap Zayn tersenyum lebar. Ia kembali masuk ke dalam lift.


Jenna hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia cukup bingung dengan sikap Zayn. Kadang manis kadang brutal juga. Aneh sekali.


"Apa?" Tanya Jenna saat ia mengangkat panggilan di teleponnya.


"..."


"Anjir mulut lo. Iya nanti gue cerita, sabar jadi makanya jadi manusia itu," ucap Jenna.


"..."


"Iya, iya. Udah ah gue mau kerja dulu, bye."


Tut.

__ADS_1


***


Makan siang pun tiba. Jenna sudah bersiap untuk keluar mencari makan siang. Tadi Zayn menghubunginya jika ia tidak bisa menemani Jenna makan siang karena ada meeting mendadak. Alhasil Jenna pun mengajak Ale bertemu di cafe dekat kantor papinya.


Jenna keluar dari dalam lift menuju ke lobby. Lagi, disana ia menjadi pusat perhatian namun Jenna tidak peduli. Ia berjalan dengan santai menuju keluar. Ia memilih jalan kaki saja, toh jaraknya juga cukup dekat.


Di cafe, sudah ada Ale. Cewek itu sudah memesan makanan untuknya dan untuk Jenna juga. Supaya dia bisa lebih cepat untuk mewawancarai wanita itu.


"Gercep lo udah pesen aja," ucap Jenna. Ia menarik kursi di depan Ale untuk duduk.


"Ya iyalah. Berita hot news kemarin bikin gue gak bisa tidur. Pinter banget ya lo bikin gue kepikiran semaleman," semprot Ale.


"Ya mampus. Siapa suruh kepo sama urusan orang lain," ucap Jenna. Ia mulai memakan makanan di depannya. Ale memesankan kimbap untuknya. Mengingat Jenna sangat menyukai makanan makanan khas Korea.


"Ya abisnya gimana enggak kepikiran coba. Gak ada angin gak ada ujan lo tiba tiba aja lagi pelukan mesra," ucap Ale.


"Gimana ya jelasinnya. Bingung gue," ucap Jenna.


"Ya lo jelasin aja anjir. Ini gue bela belain jauh jauh kesini cuma buat wawancara elo," ucap Ale.


"Awalnya gue gak sengaja kenal dia. Tapi katanya dia udah kenal gue sejak SMP, kemarin gue dinas ke Bali sama dia. Gak tahu kenapa dia ajakin gue ke pantai, karena emang kerjaan lagi suntuk banget," ucap Jenna.


"Terus terus, lo pelukan sama dia gitu?" Tanya Ale.


"Ya gitu deh. Gue gak nyangka ternyata beritanya bisa seheboh ini sampe sampe kemarin apartement gue di hadang banyak wartawan bahkan sampe ke bandara juga. Beberapa sih kata papi ada juga yang mau samperin ke Bali. Gila gak tuh," ucap Jenna.


"Ya pantes sih lo kayak gitu. Secara lo anak konglomerat, setiap sisi hidup lo pasti bakalan jadi berita tranding. Idup lo udah kayak gak ada privasinya anjir," ucap Ale.


"Ya makanya itu yang bikin gue kesel. Bawa nama belakang Adam Wicaksono aja bikin gue was was mulu," ucap Jenna.


"Ya udah lo terima aja. Mau gimana lagi," ucap Ale. Jenna hanya menggidikan bahunya acuh. Apa yang dikatakan Ale memang benar, hidupnya terasa sudah tidak memiliki privasi saja.


Mereka pun makan namun sesekali saling bertukar cerita. Jenna disini yang paling lahap makannya, akhir akhir ini wanita itu selalu saja merasa lapar. Padahal asupan gizinya setiap hari sangat cukup. Bahkan lebih dari cukup.


"Sayang, maaf lama. Tadi meeting lagi."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2