One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
36. Morning Call


__ADS_3

***


Bunyi alarm terus berdering sejak tadi, namun sepertinya Jenna enggan bangun. Beberapa kali alarm itu berbunyi sampai akhirnya Jenna terpaksa mengulurkan tangannya untuk meraih jam weker itu dan mematikannya.


Jenna merentangkan tubuhnya dan membuka matanya. Ia melirik ke dinding, sudah pukul tujuh. Jenna bangun dari tidurnya dan duduk diatas kasurnya. Ia terdiam, pikirannya kembali teringat ke kejadian semalam.


Semalam Jenna mencium Zayn. Pria itu menerimanya bahkan pria itu tahu tentang keadaan Jenna malam tadi. Bahkan pria itu meminta Jenna kembali menangis agar tenang. Namun yang masih Jenna pikirkan, bagaimana caranya pria itu tahu jika Jenna sedang sedih malam tadi. Tebakan pria itu juga benar. Apa dia cenayang?


Jenna menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Zayn bukan cenayang.


Beruntung ini adalah hari liburnya. Jenna bisa bersantai saja saat bangun tidur dan tidak perlu repot siap siap untuk ke kantor. Rasanya ia ingin seperti ini saha setiap harinya. Bangun, makan, tidur. Monoton, namun sepertinya cukup asik. Ia hanya akan tinggal diam di rumahnya dan tidak perlu bertemu dengan banyak orang.


Tiba tiba pintunya diketuk.


"Masuk aja," ucap Jenna.


Adam bersama dengan Jeni masuk. Mereka tersenyum pada anak mereka yang sepertinya baru bangun tidur.


"Tidur kamu nyengak sayang?" Tanya Adam.


"Lumayan pi," ucap Jenna.


"Zayn baik banget ya, semalam dia nemenin kamu sampe tidur," ucap Jeni. Jenna mengerutkan keningnya, bukannya semalam Zayn langsung pergi setelah Jenna usir?


"Zayn nemenin kamu semalam, kamu gak inget semalam kamu mimpi buruk sampe teriak kenceng banget. Bahkan teriakannya sampe kedengeran ke bawah," ucap Jeni.


"Mimpi buruk? Apa iya? Kok Jenna gak inget," ucap Jenna. Jeni dan Adam saling lirik, berarti apa yang dikatakan Zayn semalam itu benar.


"Beneran Jenn, kamu teriak sampe bikin kita semua panik. Untung Zayn baru sampe tangga dan langsung kesini lagi buat cek kamu," ucap Jeni.


"Kamu kenapa hm? Ada masalah?" Tanya Adam. Ia mengelus pucuk kepala anaknya.


"Enggak pi, mungkin Jenna cuma kecapean aja. Mimpi buruk semalam, Jenna gak begitu ingat mimpi apa. Yang Jenna ingat cuma ada om Zayn kesini," ucap Jenna.


Jeni menatap suaminya, suaminya paham dan mengangguk. Sepertinya apa yang disarankan oleh Zayn itu ada benarnya. Semenjak Jenna putus, ia selalu gila kerja bahkan sering meminta lembur dengan alasan ingin belajar lebih detail. Adam awalnya tentu saja senang karena anaknya sangat excited sekali. Namun ternyata salah, Adam dan Jeni sama sekali tidak mengerti situasinya.


Anaknya melakukan gila kerja agar pikirannya tidak stuck pada Mario. Jenna bahkan rela tidur sebentar dan kembali bangun untuk merenung.


Semalam Zayn bilang, Jenna seperti tertekan. Namun Jenna selalu menutupi itu semua seolah tidak terjadi apa apa. Bahkan orang disekitarnya seperti orang tuanya tidak tahu jika anaknya sedang stress.

__ADS_1


"Kamu mau pergi liburan gak?" Tanya Adam.


"Enggak pi, nanti aja. Lagian Jenna seneng kok kerja di kantor, orangnya baik baik semua," ucap Jenna.


"Yakin? Biasanya kamu paling kegirangan kalo diajak jalan jalan," ucap Jeni.


"Yakin mi, nanti aja. Jenna mandi dulu ya," ucap Jenna.


"Iya sayang. Mami sama papi tunggu dibawah ya," ucap Adam. Jenna hanya mengangguk sekilas dan pergi ke kamar mandi. Ia harus menjernihkan pikirannya. Mungkin karena terlalu stres dia sampai mimpi buruk semalam.


Selesai mandi, Jenna langsung mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Saat sedang fokus menonton, tiba tiba ada panggilan video masuk. Itu Zayn.


Sebenarnya Jenna malu karena kejadian semalam. Namun jika ia tidak mengangkat telepon itu, Zayn pasti akan terus menghubunginya.


"Pagi Jennai," sapa Zayn.


"Pagi om," ucap Jenna.


"Rambut kamu kenapa? Kok terbang terbang? Terus kok ada suara kayak mesin," ucap Zayn.


"Lagi ngeringin rambut. Itu suara hairdryer," ucap Jenna.


"Kemana? Hotel? Club? Gak mau," ucap Jenna. Wanita itu mematikan hairdryer-nya dan menyimpannya kembali.


"Ide bagus, kalo kamu mau ayo," ucap Zayn terkekeh.


Jenna mendengus kesal. Ia membawa teleponnya keluar kamar, takutnya orang tuanya sedang menunggu untuk makan pagi.


"Jangan mesum, Jenna masih kecil," ucap Jenna.


"Kecil? Enggak ah, kamu gede," ucap Zayn ambigu.


Jenna melirik ke arah meja makan, disana memang terhidang banyak makanan namun ia tidak melihat keberadaan orang tuanya.


"Bi, mami sama papi kemana?" Tanya Jenna.


"Itu non, tadi tuan mau makan bubur ayam katanya sekalian kencan pagi sama nyonya," ucap bi Uci.


"Oh, gitu." Bi Uci hanya mengangguk dan pergi ke belakang lagi. Sementara Jenna duduk di meja makan. Zayn sendiri sejak tadi terus memperhatikan gerak gerik wanita itu. Paginya sangat cerah saat ini karena melihat wajah cantik Jenna yang polos tanpa balutan make up.

__ADS_1


Jenna memang menggunakan make up tipis ke kantor. Hanya untuk menutupi dosa dosa di wajahnya seperti mata panda.


"Mau makan?" Tanya Zayn.


"Iya. Om udah makan?" Tanya Jenna.


Hati Zayn seketika berbunga saat Jenna bertanya hal itu. Rasanya, ah.., sungguh membahagiakan.


"Lagi makan. Sekalian video call kamu soalnya saya makan sendiri," ucap Zayn.


Jenna juga sudah memakan makannya. Nasi putih dan sop ayam kesukaannya.


"Kasihan, makanya nikah biar gak sendirian terus. Punya uang banyak gak ada artinya kalo gak ada yang bantu habisin," ucap Jenna.


"Yaudah ayo," ucap Zayn.


"Ayo apa?" Tanya Jenna.


"Ayo nikah lah Jenn, masa ayo pacaran. Mendingan pacaran sehabis nikah, biar kalo mau berbuat lebih juga gak salah salah amat," ucap Zayn.


"Idih, ngapain ngajakin Jenna. Nikah sama orang lain aja om, jangan sama Jenna. Jenna kan udah gak-," ucap Jenna menggantung ia melirik ke berbagai arah, disana tidak ada siapa siapa. Bi Uci juga sepertinya sedang menjemur dilantai atas.


"Udah gak apa?" Tanya Zayn.


"Virgin," ucap Jenna.


"Saya juga udah gak perjaka Jenn. Malam itu saya kira saya gak akan kepancing, tahunya malah keenakan dan pengen ngelakuin itu terus menerus. Tapi cuma sama wanita yang sedang berbicara dengan saya saat ini," ucap Zayn.


Uhuk.. uhuk...


Jenna terbatuk batuk mendengar ucapan Zayn. Gila! Masih pagi pikirannya sudah tidak waras. Tapi kenapa dia bisa menjadi CEO jika tidak waras?!


"Kita cocok loh, kamu gak virgin aku gak perjaka. Mau gak nikah sama om? Nanti om kasih harta banyak," ucap Zayn.


"Jenna tutup ya teleponnya om," ancam Jenna.


"Tutup aja sayang, lima belas menit lagi saya sampai. Bersiap ya? Saya mau ajak kamu main mumpung kantor libur. Bye baby girl."


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2