One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
162. Selalu Dibuat Salah Tingkah


__ADS_3

***


Ceklek...


Brukkkk..


"Awhhhh," ringis Ryan saat dirinya mulus terjatuh setelah ancang ancang akan mendobrak pintu. Astaga, Ale apa apaan? Kenapa membuka pintunya tetapi tidak memberitahunya?! Tahu seperti itu Ryan tidak akan mendobraknya. Ale ini benar benar membuat emosinya meninggi saja.


Ale menutup mulutnya saat melihat Ryan terjatuh di depannya. Wanita itu pun membantu Ryan bangun dan membawanya duduk diatas ranjang miliknya. Ale masih belum meminta maaf, dia hanya diam menahan tawanya.


"Ketawa aja kalo mau ketawa. Gak usah di tahan," ucap Ryan. Ia mengelus pelan bahu tangan kanannnya yang terasa sakit akibat terbentuk ubin lantai. Benar benar tidak elite sekali jatuhnya. Parahnya dia jatuh di depan kekasihnya. Antara malu dan sakit, tapi yang lebih besar adalah malunya. Apalagi Ale tertawa kencang saat ini, Ryan benar benar malu sekali.


"Maaf, maaf, sini Ale lihat mana yang sakit?" Tanya Ale.


"Bahu aku babe," ucap Ryan. Ale mencoba meraba bahu Ryan. Tiba tiba Ryan berteriak kesakitan.


"Maaf, sakit banget ya?" Tanya Ale.


Ryan menganggukan kepalanya. Ia melepaskan kancing kemeja yang ia pakai dan membuka bajunya untuk melihat bahunya. Kenapa sakit sekali. Ale membantunya, saat ini ia bisa berpikir logis. Bukan apa apa, hanya saja ini semua juga karena ulahnya. Jika saja Ale tidak membuka pintu, mungkin Ryan tidak akan jatuh ke atas lantai.


Tidak ada luka disana. Namun saat Ale merabanya sedikit, Ryan meringis kesakitan. Sepertinya luka Ryan ini memar. Mungkin saja iya, sebab ia terjatuh dengan cukup keras.


"Aku ambilin dulu es batu," ucap Ale. Ryan menganggukan kepalanya. Ale pun pergi dari sana menuju dapur. Ryan sendiri memilih untuk duduk di sofa kamar milik Ale. Di tempat tidur terlalu luas. Jika di sofa dia bisa menyandarkan kepalanya tanpa harus seluruh tubuhnya naik.


"Alesha perhatian juga," gumam Ryan. Ia mengusap usap bahu tangan kanannya yang sedikit sakit. Tak lama Ale datang membawakan es batu yang dibalut kain sapu tangan kemudian mengompresnya ke luka Ryan. Memar namun belum kelihatan bengkaknya.


Ale melakukan ini karena ia merasa ini semua karena ulahnya. Jika saja ia tidak membuka pintu tadi, mungkin Ryan tidak akan mendapatkan memar di bahunya. Tapi biarlah, itung itung pembalasan untuk Ryan juga. Karena pria ini selalu menjudge baju yang dia pakai. Padahal baju yang Ale pakai selalu sopan. Heran sekali.

__ADS_1


"Ikut aku keluar yuk? Aku mau ajak kamu main," ucap Ryan.


"Males Yan, aku mau di rumah aja," ucap Ale.


"Ya udah aku temenin," ucap Ryan.


"Gak usah. Lagian aku lebih suka sendiri," ucap Ale menolak.


"Kamu gak bisa nolak Alesha, kita harus mulai saling mengenal satu sama lain lebih jauh lagi. Kita akan segera menikah setelah Jenna dan Zayn tunangan. Itu sudah ditentukan dan kedua orang tua kamu sudah setuju."


Ucapan Ryan membuat Ale terkejut, tentu saja. Kenapa ini semua sudah ditentukan sedangkan dia belum mengatakan iya?!


***


Zayn mengernyit melihat Jenna yang masih memakai dress santainya yang tadi ia gunakan kesini. Bukannya dia akan mencoba dress untuk tunangan nanti?


"Aku udah coba dressnya dan aku suka, ukuran pas, tidak terlalu sexy, dan yang paling penting tidak ribet," ucap Jenna saat menyadari tatapan Zayn yang terus melihat ke arah dress yang dipakainya. Mungkin saja pria ini kecewa karena Jenna tidak meminta pendapatnya tentang gaun yang akan ia pakai nanti.


"Aku pengen lihat sayang," ucap Zayn.


"Itu kejutan untuk kamu nanti. Sabar ya mas," ucap Jenna tersenyum. Zayn hanya memberengut kesal. Ia pun melepas dasi panjangnya dengan menariknya asal, namun dengan cepat Jenna menahannya.


"Jangan marah sayang. Sudah ku bilang bukan, it's surprise," ucap Jenna. Wanita itu membantu Zayn melepaskan dasi yang ditarik olehnya tadi dan menggantibya dengan dasi kupu kupu warna senada dengan jasnya, yaitu navy. Jenna juga membenarkan letak kerah Zayn dan berjalan mundur untuk memperhatikannya. Tampan sekali!


"Mbak, kalian bisa keluar dulu kan?" Tanya Jenna. Ia memang memesan privat room disini. Jadi dia bisa leluasa memilihnya bersama dengan Zayn.


"Baik kak. Panggil saja jika membutuhkan sesuatu," ucap karyawan butik. Jenna hanya mengangguk sekilas. Setelah pintu ruangan tertutup dan karyawan keluar, Jenna kembali menatap ke arah Zayn. Pria ini benar benar tampan sekali. Jenna benar benar mengaguminya.

__ADS_1


"Kamu ganteng banget pake warna ini mas," ucap Jenna.


"Gak usah kasih pujian sayang, aku masih kesel sama kamu. Masa iya aku gak dikasih lihat gaun yang mau kamu pakai nanti," ucap Zayn.


Jenna terkekeh dan mendekat ke arah Zayn kemudian mengalungkan kedua tangannya dan menarik kepala belakang Zayn dan mengecup pelan bibir pria itu.


"Selama ini hanya kamu yang selalu memberiku kejutan mas. Sekarang giliran aku, aku yang akan memberikan kejutan kecil. Hanya sebuah dress saja, gak papa ya?" Ucap Jenna.


Zayn menghela nafasnya dan mengangguk, "Baiklah, aku akan memaafkan kamu. Tapi ciuman tadi rasanya kurang."


Zayn kembali mencium bibir Jenna. Bukan hanya mencium, melainkan ******* sampai bertukar saliva. Tidak lama, karena Jenna takut ada pelayan yang masuk tiba tiba dan menciduknya ketika sedang berciuman dengan Zayn.


"Cukup. Sekarang ganti pakaian kamu terus bayar," ucap Jenna. Zayn mengangguk kemudian mengeluarkan dompetnya, ia menarik satu kartu kredit miliknya dan memberikan pada Jenna.


"Kamu bayar sayang. Aku ganti baju," ucap Zayn. Jenna melongo melihat kartu berwarna hitam itu. Nilainya sudah pasti sangat banyak nol di belakangnya.


"Yakin aku?" Tanya Jenna.


"Kenapa harus ragu? Kan nanti yang pegang keuangan keluarga, ya kamu," ucap Zayn.


Oh my good!!!


Jenna benar benar salah tingkah sendiri. Ucapan Zayn memang biasa saja, tapi entah kenapa rasanya kupu kupu berterbangan dari perutnya. Dengan cepat Jenna mengambil kartu itu dan segera memanggil pelayan tadi. Bukan apa apa, dia hanya tidak ingin Zayn melihatnya kembali blushing. Rona merah di pipinya selalu muncul saat sedang salah tingkah seperti ini.


Zayn hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan calon istrinya ini. Entah kenapa dia selalu sangat menggemaskan. Zayn rasanya ingin membuat tubuh Jenna mengecil agar bisa dia bawa kemana mana. Tapi sayangnya itu mustahil.


"Aku suka melihat rona merah di pipi chubby mu ini, apalagi rona merah ini ada karena aku," bisik Zayn. Pria itu kemudian pergi ke ruang ganti untuk mengganti bajunya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2