One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
84. Pria Mesum Jenna


__ADS_3

komen dongssss


***


Zayn terkekeh mendengar teriakan wanitanya. Sudah lama ia tidak memeluk wanita itu, rasanya ia sangat rindu sekali. Andai saja ia bisa cepat pulang ke negara asalnya, tapi realitanya tidak. Ia masih harus terus berada di Boston agar perusahaan cabang kembali stabil.


Semenjak Zayn ke Boston, ia jarang tidur bahkan hampi satu malam suntuk ia tidak tidur. Menyebabkan kepalanya sering pusing mendadak. Zayn tidak perlu memeriksanya ke dokter karena ia tahu jika dirinya hanya kelelahan dan butuh istirahat satu hari penuh.


Seperti saat ini, pria itu memutuskan untuk istirahat sejenak. Sebenarnya ia ingin tidur namun entah mengapa rasanya cukup sulit. Jadi ia memutuskan untuk menelepon kekasihnya. Setelah mendengar suara halus nan indah itu mengalun rasanya perasaan Zayn menjadi lebih tenang.


"Panggilannya ubah ke video ya? Aku mau lihat kamu sayang," ucap Zayn.


"Jangan dulu, Jenna mau mandi. Nanti abis mandi aja," ucap Jenna.


"Justru harus sambil video call. Mataku sudah lama tidak melihat barang barang indah milik mu. Ah, ****! Milik ku jadi keras sayang," ucap Zayn.


Di sebrang sana terdengar kekehan dari Jenna bahkan berakhir dengan suara tawa yang terdengar oleh Zayn.


"Awas ya kamu, pulang nanti aku bakalan paksa kamu," ucap Zayn.


"Bodo, aku laporin tante Lita mampus kamu," ucap Jenna.


Wanita itu masih saja tertawa bahkan tawanya tidak berhenti. Zayn jadi kesal sendiri.


"Nikah yuk sayang. Aku udah bener bener enggak tahan, junior aku pengen tiap malem bobo di sangkarnya," ucap Zayn.


"Gak. Dipikir nikah itu gampang, jangan terburu buru lah om. Jenna masih muda," ucap Jenna.


"Justru selagi masih muda kamu harus menikah sama aku. Hormon kamu pasti bagus banget waktu umur umur segitu. Ya, mau ya?" Ucap Zayn.


"Janji setelah nikah nanti kamu boleh kerja lagi tapi di perusahaan aku. Sebagai sekretaris pribadi," ucap Zayn.


"Gak mau sayang. Dipikir aku gak tahu apa akal akalan kamu kayak gimana," ucap Jenna.


Senyum Zayn tiba tiba terbit saat mendengar panggilan sayang keluar dari mulut manis wanitanya.

__ADS_1


"Tapi aku bener bener udah gak bisa tahan," ucap Zayn. Miliknya benar benar mengeras sekarang. Kenapa juga miliknya ini sangat lemah sekali ketika mendengar suara Jenna?


"Tahan dong, cowok kok gak bisa tahan. Udah ya aku mandi dulu, asisten kamu bilang kamu sakit dan harus istirahat, sekarang istirahat yang bener. Besok aku telepon lagi," ucap Jenna.


"Yah, kok gitu," ucap Zayn.


"Nurut sayang. Jangan kebanyakan pegang gadget. Istirahat yang bener biar gak sakit beneran," ucap Jenna.


"Emang males pegang gadget maunya pegang squishy kamu yang kenyal membel gitu," ucap Zayn.


"Mesum terus. Udah ah, aku mandi dulu. Inget ucapan aku, istirahat," ucap Jenna. Ia pun mematikan teleponnya sepihak membuat Zayn menggerutu kesal.


Miliknya benar benar tidak bisa ditidurkan lagi. Ia butuh pelepasan saat ini. Mau tak mau ia bermain solo seperti biasa. Ditemani video erotisnya bersama Jenna yang sengaja ia rekam diam diam.


"Huuhh, awas saja sayang. Setelah menikah nanti jangan harap ada ampun dari aku," gerutu Zayn.


***


Pagi hari yang indah kembali menyapa. Seperti biasa jika kedua orang tuanya belum pulang dari dinas Jenna pasti akan makan pagi sendiri. Dengan tenang Jenna menikmati makanannya sampai habis tak tersisa.


Di depan rumahnya, ternyata sudah ada om Vier.


"Data dan bukti yang anda minta nona," ucap Vier.


Jenna menerima map itu dan mulai membacanya. "Kenapa dikasih disini om? Jauh jauh loh. Padahal di kantor aja nanti," ucap Jenna.


"Hanya waspada dari tuan Hendri," ucap Vier. Jenna mengangguk sekilas. Ia kembali fokus pada isi map itu. Mulai membacanya dan melihat deretan huruf yang tersusun rapi disana.


"Jadi, memang benar yang menggelapkan dana kepala pantinya? Tapi apa pantinya bubar begitu saja? Bukannya anak anak disana banyak sekali," ucap Jenna.


"Mereka tidak bubar hanya pindah tempat saja. Belum ada pengganti kepala panti yang baru dan saat ini kepala panti masih dicari keberadaannya," ucap Vier.


"Apa ini semua rencana om Hendri?" Ucap Jenna di dalam hati.


"Lalu dimana keberadaan anak anak panti saat ini?" Tanya Jenna.

__ADS_1


"Mereka berada di salah satu rumah yang disewa tuan Hendri," ucap Vier.


Nahkan benar apa firasat Jenna. Sudah pasti ini semua ada campur tangan dia. Jenna selalu curiga terhadap orang itu.


"Penyumbang terbesar siapa saja om?" Tanya Jenna.


"Tuan Zayn," ucap Vier.


"Tapi Zayn lagi di luar negeri. Selain dia siapa lagi?" Tanya Jenna.


"Tuan Adam, tuan Rendra, tuan Mahesa dan tuan Andreas," ucap Vier.


"Bagus, tolong buatkan jadwal sore ini dengan mereka. Jenna ingin bertemu mereka tanpa om Hendri atau pun donatur dengan dana dibawah mereka. Tolong rahasiakan ini semua jangan sampai diketahui siapa pun. Dan ya, bagaimana keadaan rumah panti yang lama?" Tanya Jenna.


"Rumah itu sudah beralih kepemilikan karena kepala panti yang lama menjualnya tanpa sepengetahuan siapapun," ucap Vier.


"Astaga," gumam Jenna.


"Ya sudah om begitu saja dulu. Ingat pesan Jenna tadi, jika tidak bisa sore hari malam hari pun tidak apa. Jenna tunggu di restoran milik Papi yang ada di perbatasan kota. Makasih banyak om Vier," ucap Jenna.


"Sama sama. Sudah seharusnya memang ini semua ditangani oleh orang yang tepat," ucapnya. Jenna hanya tersenyum sekilas dan mengangguk.


Mereka pun berpisah disana dan memasuki mobil masing masing untuk sampai ke kantor. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Vier menjalankan mobilnya lebih dulu dari pada Jenna.


Di dalam mobil, Jenna mencoba menghubungi papi nya namun tidak ada panggilan terangkat. Membuat wanita itu berdecak pelan. Ia pun mencoba menghubungi maminya dan jawabannya sama. Maminya hanya mengirimkan pesan akan menelepon Jenna nanti siang.


"Padahal lagi di butuhin juga," gumam Jenna. Ia pun kembali menyimpan ponselnya dan memejamkan matanya. Berpikir bagaimana caranya ia bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Kasihan sekali anak anak panti, hidup mereka sekarang sepertinya tertekan apalagi berada di bawah tangan Hendri.


Mobil yang ditumpangi Jenna pun berhenti. Ia keluar dari sana dan masuk ke dalam kantor. Di dalam ia sudah disambut dengan manusia menyebalkan yang tidak ingin ia temui saat ini.


Yura.


"Hallo kakak sepupu," ucapnya.


"Ke kantor buat kerja bukan jadi lont- ah lupa, lo kan emang lont-."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2