One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
68. Pagi Yang Buruk


__ADS_3

***


Pagi hari yang cerah menyapa. Jenna sudah terbangun dari tidurnya sejak satu jam yang lalu. Ia sudah mengotak atik gagang pintu kamarnya dan berusaha membetulkannya lagi. Untungnya dengan mudah semuanya kembali menempel seperti semula. Selesai membereskan pintu, Jenna langsung mandi dan bersiap. Tidak lama, hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit saja.


Jenna memakai setelannya. One set jas berwarna putih dengan bawahan celana pendek. Untuk kali ini ia menggerai rambutnya. Jenna mematut tampilannya di depan cermin. Sudah siap dan selesai, namun baru pukul setengah tujuh. Lebih baik ia cepat cepat pergi dari pada harus bertemu Zayn. Jenna mengambil tas miliknya juga hells putihnya dan segera keluar apartement ini.


Diluar pintu unitnya, tidak ada siapa siapa disini. Semoga saja Zayn masih tidur agar ia tidak berpapasan dengannya. Jenna pun bergegas ke pintu lift. Menekan tombol untuk membuka pintu itu. Setelah terbuka ia masuk dan menekan tombol bassement apartementnya.


Tidak lama, pintu lift pun terbuka. Jenna langsung berjalan menuju ke mobil miliknya berwarna hitam legam. Mobilnya sangat tampan sekali namun sayang, dia kotor. Sepertinya Jenna harus membawanya ke steam untuk dicuci.


Jenna mengendarai mobilnya dengan tenang. Niatnya ia ingin makan bubur. Sejak kemarin malam ia tidak keluar dari dalam kamar. Jenna tahu, semalam Zayn terus memantaunya melalui cctv yang sengaja ia pasang di unitnya. Namun Jenna tidak kehabisan akal. Ia mempilok habis layar cctv itu sehingga tidak dapat menampilkan dirinya. Setelah mempiloknya, Zayn mengirimkan pesan padanya namun tidak Jenna balas.


Jenna berhenti di salah satu angkiran bubur yang cukup ramai. Ia keluar dari dalam mobilnya.


"Permisi pak, saya mau pesen satu porsi," ucap Jenna


"Siap non, duduk dulu. Biar bapak buatkan," ucapnya.


"Terimakasih." Bapak penjual bubur itu hanya mengangguk sekilas.


Jenna mengambil duduk di dekat gerobaknya karena hanya ada disana tempat yang kosong. Jujur saja ini kali pertamanya kembali memakan bubur diluar setelah pulang dari luar negeri. Bukannya ia tidak mau makan, ia hanya sempat sekarang sekarang saja.


"Silahkan dinikmati non," ucapnya. Sebuah mangkuk bubur lengkap isian dengan toping kerupuk terpisah pun dihidangkan di depan Jenna. Aromanya sungguh menggugah selera sekali.


"Terimakasih pak," ucap Jenna.


"Sama sama non."


Jenna pun memakan buburnya dengan tenang. Ternyata rasanya memang sangat enak sekali. Pantas saja gerobak ini banyak dikunjungi orang orang. Jenna tidak pernah mengaduk buburnya secara sekaligus semuanya. Ia mengaduknya namun hanya untuk satu sendok suapan saja. Sisanya tidak diaduk.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit lamanya bubur milik Jenna pun habis. Ia membayarnya dan pergi dari sana. Namun saat berjalan menuju mobil, tiba tiha ada seseorang yang menarik tangannya untuk berhenti. Otomatis Jenna menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya untuk melihat orang itu.


"Kenapa lagi? Lo gak ngerti omongan gue? Kita udah selesai dan gak ada yang perlu dibahas lagi," ucap Jenna.


Orang yang menarik tangannya adalah Mario. Mantan pacarnya.


"Jenna please, dengerin penjelasan aku dulu," ucap Mario.


"Buat apa? Lo mau jelasin kejadiannya secara detail? Gak perlu. Lo mendingan urusin kehidupan lo sama patner s*x lo itu. Kita udah selesai dan gak ada hubungan apa apa lagi. Please, cukup buat lo ganggu terus kehidupan gue. Gue risih dan jijik sama lo," ucap Jenna.


"Tapi aku gak mau putus sama kamu," ucap Mario.


"Egois. Lo pikir perselingkuhan bisa dimaafkan? Apalagi lo sampe s*x sama jal*ng itu selama satu tahun lamanya. Lo masih punya otak kan? Harusnya lo malu karena ke gap sama gue lagi begituan. Lo emang bener bener gak punga harga diri ya? Atau emang urat malu lo udah putus? Mikir dong, lo manusia pasti punya otak buat mikir," ucap Jenna.


"Jangan temuin gue lagi kalo lo gak mau menyesal. Lo pikir keluarga gue gak tahu kalo pagi ini gue ketemu sama lo? Lo lihat kesana, itu mobil bawahan bokap gue dan di sebelah sana ada dua orang suruhan opa yang selalu mantau gue. Jangan jadi bodoh, lo bakalan dinikahin sama Yura cepat atau lambat. Inget itu," sambungnya. Jenna pun segera masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Mario sendirian disana.


Jenna menggelengkan kepalanya. Pusing sekali rasanya. Ia tidak bisa tenang sedikit saja. Mario terus muncul di hidupnya. Kenapa juga Yura tidak ada disana. Biasanya mereka menempel seperti lalat yang sedang kawin.


Jenna menghela nafasnya. Masih pagi namun moodnya sudah tidak enak seperti ini. Jenna mengambil ponselnya dan menghubungi Ale.


"Pagi manusia super sibuk," sapa Ale di sebrang telepon.


"Gue mau nginep malam ini di apartement lo. Lo disana kan?" Tanya Jenna to the point.


"E buset, sapaan gue kagak di jawab. Ngasu lo! Boleh boleh aja, gue ke apart kalo lo mau nginep. Sekaliam kita girls time," ucap Ale.


"Okey, nanti gue kabarin lagi."


Tut.

__ADS_1


Panggilan pun terputus karena Jenna mematikannya. Ia kembali fokus pada jalanan. Sudah pukul setengah delapan. Lebih baik dia segera ke kantor saja.


***


Jenna sampai di kantornya tepat pukul delapan. Ia masuk dan berjalan menuju ke lift. Disana ada kedua orang tuanya juga Zayn.


Astaga, kenapa harus dunia sesempit ini?


"Sayang," sapa Jeni. Jenna hanya tersenyum tipis saja.


"Kamu kemana aja? Kok gak bareng Zayn?" Tanya Jeni.


"Kenapa harus barengan? Jenna punya kegiatan dan urusan sendiri," ucap Jenna.


"Dih, kamu marah gara gara mami sama papi gak jawab telepon kamu semalam? Ya maaf sayang, kan kamu tahu sendiri suami istri kayak gimana. Nanti kamu sama Zayn juga bakalan kayak gitu," ucap Jeni. Pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam sana.


"Mustahil. Gak usah sangkut pautkan semuanya sama hubungan Jenna. Lagian kita gak punya hubungan apa apa, toh Jenna juga gak kepikiran buat nikah sama dia," ucap Jenna.


"Kok ngomongnya gitu. Kan mami suka kalo kamu nikah sama Zayn. Dia bibit unggul sayang," ucap Jeni.


"Kenapa gak mami aja yang nikah sama dia?" Tanya Jenna.


"Cukup Jennai. Omongan kamu keterlaluan dari tadi, papi gak pernah ngajarin kamu kayak gitu," ucap Adam. Jeni langsung menepuk tangan suaminya dan menggelengkan kepalanya. Jeni tahu keadaan anaknya ini. Apalagi sedang PMS. Sudah pasti emosinya naik turun.


"Okey, maaf. Jenna salah dan mungkin selalu kayak gitu ya?" Tanya Jenna terkekeh.


Pintu lift pun terbuka. Jenna langsung keluar dari sana tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya bahkan Zayn. Wanita itu sudah sangat kesal sekali. Paginya sangat buruk sekali.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2