One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
137. Pesta


__ADS_3

***


Sekitar pukul enam, Jenna dan Zayn sudah berangkat dari apartement menuju ke sebuah hotel dimana disana dilaksanakannya pesta perusahaan Andreas. Rich menjalankan mobilnya sedangkan Jenna dan Zayn berada di kursi penumpang.


Jenna nampak cantik dengan dress hitam yang menjuntai panjang ke bawah dengan tali spaghetti yang menjadi penyangga dress tersebut. Bagian dadanya berbentuk v, yang sediki mengekspos bagian dadanya. Rambutnya di ikat sebagian di bagian kiri kanan dan sisanya dibiarkan tergerai. Begitu pun dengan Zayn yang gagah dengan jas berwarna hitam juga. Benar benar pasangan serasi bukan?


Zayn mengulurkan tangannya pada Jenna saat mereka sudah sampai di depan lobby hotel. Jenna menerimanya dan turun perlahan dari dalam mobil. Ia kembali menggandeng tangan Zayn dan masuk bersama ke dalam hotel. Sejak mereka tiba, jepretan kamera langsung menyambut kedatangan mereka. Jenna hampir saja oleng karena matanya silau terkena flash kamera, namun untungnya dengan cepat Zayn menahan pinggangnya dan membawanya segera masuk ke dalam.


"Huuuhh, flash kamera itu benar benar membuat ku tidak nyaman mas," ucap Jenna.


"Kamu harus terbiasa sayang," ucap Zayn.


Di dalam hotel hampir semua sepertinya sudah datang. Buktinya disini cukup banyak orang juga. Semuanya dari kalangan bisnis, itu sudah pasti.


"Kita cari om Andre dulu untuk menyapa," ucap Zayn.


"Papanya Ryan?" Tanya Jenna. Zayn menganggukan kepalanya.


Jenna pun mengikuti arah langkah kaki Zayn yang akan membawanya bertemu dengan pemilik pesta. Jenna menyernyitkan dahinya saat melihat ada Ale yang sedang bersana Ryan. Tumben sekali anak itu mau datang ke pesta seperti ini. Namun dari raut wajahnya terasa berbeda, tidak bahagia sama sekali.


"Selamat atas perayaannya om Andre," ucap Zayn.


"Wah, Zayn juga datang. Terima kasih nak, terima kasih banyak sudah datang dan membawa calon istri mu. Ngomong ngomong, yang bernana Nona Adam itu, ini?" Tanya Andre.


"Iya om, perkenalkan Jennaira Adam," ucap Zayn. Jenna tersenyum dan mengulurkan tangannya pada papa dan mama Ryan.


"Kamu sangat cantik sekali nak, pantas saja Zayn langsung cepat cepat mengklaim kamu waktu itu," ucap Mama Ryan.


"Tante bisa saja," ucap Jenna.

__ADS_1


"Itu, Ryan juga bersama dengan kekasihnya. Akhirnya anak berandal itu membawa kekasihnya juga ke hadapan ku, katanya dia teman kamu ya?" Tanyanya.


"Iya tante, dia Ale. Sahabat Jenna," ucap Jenna.


"Wah, dunia benar benar sempit ternyata. Ryan dan Zayn berteman begitu juga dengan kekasihnya? Suatu hari kalian harus berkencan bersama," usulnya.


Jenna hanya tersenyum dan mengangguk sekilas. Mereka berdua pun pamit untuk menyapa Ryan dan Ale.


"Jenna," panggil Ale. Ia melepaskan tautan tangannya di tangan Ryan dan beralih pada Jenna kemudian memeluknya.


"Wei, are you okay?" Tanya Jenna saat Ale tiba tiba memeluknya.


"Yeah, im fine Jenn," ucap Ale. Meskipun sebenarnya dia ingin mengatakan jika dia tidak baik baik saja saat ini. Namun ia lebih takut dengan Ryan, pria itu sudah menatapnya dengan tatapan berbeda.


"Maaf," ucap Ale tersenyum kikuk.


"Its okay Ale. Kayaknya lo udah deket sama Ryan?" Tanya Jenna.


"Ghani tidak datang?" Tanya Zayn.


"Dia pergi ke London, ada urusan dengan wanitanya," ucap Ryan.


"Pria itu," ucap Zayn tidak habis pikir. Ia pun duduk di meja yang sama dengan Ryan dan Ale. Ryan dan Zayn saling berbicara begitu juga dengan Ale dan Jenna. Mereka berada di satu meja namun dengan pembahasan yang berbeda.


"Gue kayaknya udah gak bisa lepas dari Ryan, sama kayak lo yang enggak bisa lepas dari Zayn," ucap Ale pelan. Sengaja karena takutnya Ryan mendengarnya.


"Sabar ya? Gue juga awalnta sama kayak lo, gak mau dan terus terusab nolak sampe Zayn nekat. Akhirnya gue mau gak mau nerima dia, dan seiring berjalannya waktu gue mulai suka sama dia," ucap Jenna.


"Ryan ancam gue mulu. Mana ancamannya enggak main main, dia bilang bakalan perawanin gue. Gila banget tuh orang," ucap Ale.

__ADS_1


"Makanya lo harus jaga diri Ale. Pesen gue sih cuma satu, lo harus sebisa mungkin buat Ryan enggak main sama cewek lain lagi. Kita gak tahu ke depannya bakalan kayak gimana. Ambil contoh aja gue sama Zayn, mantannya dia balik dan lo tahu sendiri dia kayak gimana," ucap Jenna.


"Lo bener. Gue gak mau kalo suatu hari nanti ada cewek yang datang ke kehidupan gue sama Ryan dan bilang kalo dia hamil anak Ryan. Gue gak sudi banget," ucap Ale.


"So, lo kayaknya udah suka sama Ryan?" Tanya Jenna.


Ale menghela nafasnya. "Dari awal ketemu juga gue udah suka Jenn. Cuma ya gitu, makin kenal gue makin tahu sifatnya. Makin kesini makin dewasa banget ke guenya, tapi dewasa dalam hal intim. Gue kadang cape mau berhenti, tapi Ryan selalu ngancam gue. Mana tadi gue udah dikenalin sebagai kekasihnya ke keluarga dia. Manusia gila."


Meskipun menyukainya, Ale tidak henti hentinya untuk merutuki dan mengumpati Ryan. Peduli setan, ia benar benar kesal dengan pria ini. Pria pengancam yang selalu memaksa seenaknya.


"Ya udah terima aja, kita kayaknya emang bestian banget deh. Sampe sampe jodoh kita saling temenan dan sifatnya enggak beda jauh," ucap Jenna terkekeh.


"Bener banget. Nasib kita gini banget ya Jenn, padahal gue berharapnya dapet jodoh dari Mekkah atau enggak Tarim," ucap Ale.


"Islami banget, tapi gak salah sih. Cewek mana yang enggak mau di bimbing ke jalan yang bener? Apalagi kalo udah nikah. Sekarang kita prepare aja deh Le, pasangan kita sikapnya udah dirasukin setan kadang kadang," ucap Jenna.


"Valid anjir. Kalo ngomong suka bener lo," ucap Ale. Jenna hanya menggidikan bahunya dan meminum orange juice yang ada di depannya. Sama dengan Ale. Bahkan secara bersamaan mereka menghela nafas bersamaan membuat Zayn dan Ryan menoleh.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Zayn.


"Kamu kenapa babe?" Tanya Ryan. Mereka berdua berucap bersamaan.


Jenna dan Ale kompak menggelengkan kepalanya membuat Ryan dan Zayn saling pandang. Mereka cukup aneh dengan sikap para wanita yang menjadi kekasih mereka ini.


"Kayaknya beban lo sama gue sama deh Jenn," ucap Ale.


"Gue lebih berat Le, ada sesuatu hal yang enggak bisa gue bilang ke lo. Karena itu privasi gue," ucap Jenna.


"Ya udah Jenn, gue tahu maksud lo. Suatu saat gue juga pasti bakalan kayak lo," ucap Ale.

__ADS_1


Lagi dan lagi mereka berdua menghela nafasnya bersamaan. Beban mereka sepertinya sangat berat sekali sampai mereka menghela nafas yang cukup panjang.


Tbc.


__ADS_2