
***
Ibu mana yang tidak bahagia melihat anaknya sudah sadar daru tidurnya. Apalagi Jenna tertidur dengan alasan tertentu. Bukan capek melainkan karena pengaruh obat bius yang sengaja diberikan agar tubuhnya tidak kesakitan ketika di obati.
Kembali lagi, seberusaha apapun Zayn untuk menyelamatkan Jenna, jika takdir sudah berkehendak Jenna akan celaka, maka dia akan celaka. Buktinya hari ini. Hari dimana Jenna kecelakaan dengan disengaja. Tentu saja Zayn beranggapan disengaja, karena tidak mungkin jika tidak disengaja Jenna tidak akan celaka. Apalagi kejadian hari ini murni karena sudah direncanakan.
Setelah makan bersama dengan Jenna tadi, Zayn pamit sebentar. Dia akan menemui Mathew untuk mulai beraksi. Dia akan beraksi diam diam, seolah doa memang tidak akan balas dendam. Namun itu hanya anggapan bodoh, Zayn tentu saja akan balas dendam. Dia tidak akan tinggal diam melihat kekasihnya di aniaya seperti ini. Apalagi orang yang menganiayanya adalah orang yang paling tidak ia sukai.
Eliza. Mantan kekasihnya.
Dia kembali hadir dan mengacaukan kehidupannya dengan Jenna. Kehidupan yang ia kira awalnya akan berjalan baik, namun ternyata berjalan tidak baik. Sejak awal, jika saja Jenna tidak kuat mungkin dia akan memilih menyerah untuk bersama Zayn. Tidak habis pikir dengan tingkah dan kelakuan Eliza, tapi memang itulah yang terjadi.
"Eliza terpantau sedang pesta kecil kecilan bersama dengan teman temannya tuan. Dia datang ke sebuah club yang ada di salah satu tempat tidak jauh dari apartementnya yang lama," ucap Mathew.
"Apa dia terlihat bertingkah aneh seperti sudah melakukan sesuatu?" Tanya Zayn.
"Tidak tuan, dia hanya bersenang senang hari ini," ucap Mathew.
"Keseharian dia pasti ke club. Mencari mangsa untuk mendapatkan uang, lalu bagaimana caranya aku membuat wanita gila itu meminum obat yang akan membuatnya kesakitan?" Gumam Zayn. Dia nampak berpikir begitu juga Mathew. Cukup sulit memang untuk melakukan hal itu. Zayn harus pandai pandai menyusun rencananya agar berjalan mulus.
Rencana Eliza saja berjalan sesuai dengan apa yang dia mau. Lalu kenapa rencananya tidak bisa berjalan. Tentu saja harus!
Senyum iblis terbit di wajah Zayn. Ia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Ia tidak memberitahu Math rencananya, dia hanya meminta Math untuk melakukannya. Tentunya dengan bantuan asisten sekaligus tangan kanannya ini, Zayn bisa dengan mudah melakukannya. Rencananya harus berhasil.
"Kau pulang dulu dan hubungi Ghani untuk meminta obatnya. Pastikan tidak menimbulkan kecurigaan. Orang yang selama ini membututi kau, coba kau buat dia celaka dengan kebodohannya sendiri. Orang itu sudah pasti orang orang suruhan Eliza," ucap Zayn.
__ADS_1
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Mathew.
Zayn hanya mengangguk sekilas dan pergi dari sana. Math pun sama, pergi dari sana untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh tuannya. Zayn pergi kembali ke dalam ruangan rawat Jenna. Dipastikan wanita itu sudah bangun lagi sepertinya. Zayn tidak ada disana, Jenna pasti akan uring uringan mencarinya.
Untungnya beberapa tempat di rumah sakit ini terlihat privat dan jarang dilewati orang orang. Apalagi lorong menuju ke ruang rawat Jenna, sangat sepi. Karena tidak banyak yang menggunakan ruangan vvip. Hanya sebagian saja.
Ceklek..
"Masss," rengek Jenna saat Zayn masuk ke dalam ruangan bernuansa abu muda ini. Zayn tersenyum dan mendekat ke arah Jenna. Jenna langsung memeluk pria ini. Entah kenapa sejak kejadian itu Jenna tidak mau jauh jauh dari Zayn. Karena menurutnya berada dekat dengan Zayn maka hidupnya akan terasa sangat aman.
"Kenapa hm?" Tanya Zayn. Dia mengelus pelan rambut Jenna. Sudah ia duga sebelumnya dan memang benar benar terjadi. Wanitanya ini memang sangat manja sekali, namun Zayn menyukainya. Menyukai Jenna yang sangat manja hanya kepadanya.
Sementara itu, Jeni dan Lita tersenyum senang melihat kedekatan Jenna dan Zayn. Mereka bahagia karena akhirnya kedua anak mereka bersatu dala satu ikatan yang cukup sakral. Meskipun belum benar benar sakral karena keduanya belum menikah, hanya tunangan. Namun tak apa. Sebagai orang tua keduanya tentu saja tetap senang.
"Ada urusan sebentar sayang. Aku titip kamu sama mama sama mami kamu, enggak lama kan?" Tanya Zayn.
"Lama. Aku bangun dari tadi," ucap Jenna.
"Benarkah? Ya sudah maafkan aku ya?" Ucap Zayn.
"Aku maafin kalo kamu bawa aku pergi dari sini. Aku gak mau disini mas, mau pulang," ucap Jenna.
Zayn menghela nafasnya. Sebelumnya dia sudah menduganya saat membawa Jenna kesini, wanita ini akan meminta pulang.
"Jenn, kondisi kamu masih belum stabil oke? Jangan pulang dulu," ucap Jeni.
__ADS_1
"Mi, Jenna gak betah disini. Pengen pulang," ucap Jenna memelas. Wanita ini kemudian mematap ke arah Zayn dengan puppy eyes-nya. Seolah sedang meminta Zayn untuk menuruti kemauannya.
"No sayang. Nanti setelah kondisi kamu membaik baru kita pulang oke? Aku janji," ucap Zayn.
"Benar itu Jenna sayang, kamu masih belum stabil. Mama harap kamu tetap disini sampai kondisi kamu benar benar baik. Mama gak mau kamu sampai drop gara gara keluar rumah sakit cepat. Ya?" Ucap Lita.
Semua orang yang ada disini membujuknya. Untungnya tidak ada papinya, papi dan papa Rendra pergi ke kantor lagi. Jenna sedikit terselamatkan dari ceramahan papinya karena dia memaksa pulang.
Jenna menghela nafasnya. Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya terus memeluk Zayn sampai dia puas. Puas memeluk prianya semaunya.
"Mama sama tante gak usah kesini lagi gak papa. Lebih baik kalian istirahat di rumah saja, di rumah lebih enak dibanding disini. Biar Zayn yang jaga Jenna, lagian di luar dan beberapa titik juga Zayn sudah menempatkan bodyguard. Kalian tidak perlu khawatir," ucap Zayn.
"Iya Zayn, tante ngerti kok. Makasih ya selalu jaga Jenna, selalu ada untuk anak bandel ini. Semoga kamu tetap tahan dengan sikap manjanya," ucap Jeni sembari mendekat. Dia akan segera pulang karena hari semakin sore dan sudah pasti suaminya langsung pulang ke rumah, karena Jeni memintanya. Pun sama halnya dengan Lita.
"Iya tante. Zayn justru senang karena itu," ucap Zayn.
"Jenn, mami pulang dulu gak papa ya? Bareng sama Lita. Papi kamu paling besok kesini lagi sekalian mami bawain sarapan buat kamu. Jangan petakilan, kasihan Zayn kecapean urus kamu," ucap Jeni memperingatkan anak perempuannya.
"Iya mi, iya. Hati hati pulangnya. Mama Lita juga," ucap Jenna.
"Iya sayang," ucap keduanya.
Kedua wanita itu pun pergi dari dalam ruangan rawat Jenna. Meninggalkan Jenna dan Zayn berdua saja. Sejak tadi Jenna tidak melepaskan pelukannya pada Zayn, dia terus memeluk pria ini.
Tbc.
__ADS_1