One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
103. Baikan


__ADS_3

🥺


***


Ale melotot tidak percaya. Bagaimana bisa pria ini senekat ini? Ale bukan wanita gampangan, apa pria ini menganggapnya seperti itu?


Sejak tadi Ryan tidak melepaskan Ale. Ia hanya sesekali melepaskan ciumannya saat Ale kehabisan nafas. Bahkan tangan pria itu bergerayang diatas tubuhnya. Ale benar benar bisa goyah jika diperlakukan seperti ini terus menerus. Memang, ciuman Ryan berawal dengan terburu buru dan sangat menuntut. Namun makin lama, Ale membalasnya. Ia terbuai dengan kelembutan yang diberikan oleh Ryan.


Cukup lama sekali mereka berciuman sampai Ryan melepaskan ciuman itu. Ia tersenyum ketika melihat bibi Ale yang membengkak. Bahkan nafas wanita itu tersenggal senggal. Tangan Ryan terangkat, mengusap bibir Ale yang basah dengan jempolnya.


"Ini bayaran yang aku mau," ucap Ryan.


"Tapi saya tidak mau membayarnya dengan seperti ini. Saya bukan wanita gampangan, jadi jangan sama kan saya dengan wanita penghibur yang sering anda panggil," ucap Ale. Ia mendorong tubuh Ryan agar menyingkir. Ale pun bangun dan berjalan ke arah nakas, ia mengambil tissue dan mengelap bibirnya.


Ryan melotot seketika saat Ale melakukan hal itu. Bahkan terlihat jika wanita itu mengusap bibirnya cukup keras. Ryan bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah Ale. Namun Ale mengangkat tangannya seolah berbicara jangan maju lagi.


"Ini bayaran atas tumpangan yang anda berikan. Semoga cukup, saya tidak memiliki uang cash lagi. Permisi," ucap Ale. Ia menyimpan uang seratus ribuan sebanyak tiga lembar dan pergi dari sana. Namun dengan cepat Ryan menahannya.


"Alesha, kamu kenapa sih? Kamu marah karena rumor itu?" Tanya Ryan namun Ale tidak berbicara lagi. Ia melepaskan cekalan tangan Ryan dan berjalan keluar kamar.


"Alesha, itu hanya rumor. Aku tidak dekat dengan siapapun selain kamu. Apa kamu bisa percaya?" Tanya Ryan.


"Memangnya apa gunanya saya percaya atau tidak? Gak ada yang berubah. Cukup ya, saya cape hari ini dan butuh istirahat. Saya ingin pulang," ucap Ale.


"Tidur disini saja, aku masih merindukan kamu," ucap Ryan. Ia menggenggam tangan Ale namun dengan cepat Ale menepisnya.


"Saya punya rumah sendiri dan saya juga tidak ingin tinggal disini. Awas," ucap Ale.


"Alesha, aku mohon," ucap Ryan.

__ADS_1


Ale menggelengkan kepalanya mantap. Ia mendorong tubuh Ryan dan keluar dari unit itu. Ryan mengekori Ale.


"Aku antar," ucap Ryan. Ia merangkul pinggang Ale dan masuk ke dalam lift. Namun lagi lagi Ale melepaskannya.


***


Setelah berbaikan tadi, Jenna dan Zayn kembali mesra. Saat ini mereka sedang masak bersama. Sebenarnya hanya Zayn yang masak karena Jenna hanya merecoki sejak tadi. Entah itu mengganggu Zayn dengan memeluk pria itu dari belakangnya atau menambahkan bumbu yang berlebih pada nasi goreng yang sedang dibuat olehnya. Zayn merasa seperti sedang mengurusi anak kecil saja.


"Sayang, udah cukup. Nanti nasi gorengnya enggak enak nanti," ucap Zayn. Ia menggendong tubuh Jenna dan mendudukan wanita itu diatas meja pantry. Sebelum kembali mengaduk nasi goreng, Zayn sempat mengecup dulu bibir Jenna.


Jenna cemberut saat ia dijauhkan dari nasi goreng itu. Namun di sampingnya, ada sebuah timu yang cukup panjang dan sedikit besar. Muncul ide jahil di otaknya. Jenna pun mengambil timun itu.


"Om, lihat sini," ucap Jenna. Zayn yang sedang mencoba nasi goreng pun menoleh. Tiba tiba ia tersedak melihat tingkah wanitanya.


Bagaimana ia tidak tersedak, ia melihat Jenna yang memegang timun dengan satu tangannya dan mengul*m timun itu. Tiba tiba saja otaknya dibuat travelling oleh tindakan Jenna. Zayn pun mematikan kompor dan berjalan ke arah Jenna.


"Becanda ih. Ayo makan, laper," ucap Jenna.


"Pengalihan," ucap Zayn. Ia pun berbalik dan memindahkam nasi goreng ke piring. Total ada dua piring. Jenna duduk lebih dulu kemudian di susul oleh Zayn. Harum semerbak nasi goreng menyeruak ke dalam hidungnya. Jenna langsung menyendoknya dan memakannya. Nasi goreng itu lengkap dengan telor ceplok mata sapi.


"Pelan pelan sayang, gak akan ada yang ngambil kok," ucap Zayn.


"Laper banget. Kamu gak ngasih aku makan dari tadi siang," ucap Jenna.


"Salah siapa marah terus diemin aku," ucap Zayn.


"Kan kamu yang bikin kesel ih, kok nyalahin," ucap Jenna kesal.


"Iya deh iya. Maaf ya," ucap Zayn. Jenna tidak menjawabnya tidak juga mengangguk. Ia lebih fokus makan nasi goreng.

__ADS_1


Selesai makan nasi goreng, Zayn dan Jenna langsung pergi ke kamar Jenna. Jenna tadi sempat membawa buah lengkeng ke kamarnya untuk ia makan. Cukup banyak karena wanita itu membawa satu keranjang berukuran sedang sampai penuh. Ia juga membawa sebuah wadah untuk cangkang kulit kelengkeng.


"Nonton dulu ya? Dari tadi siang aku tidur mulu, jadi sekarang enggak begitu ngantuk," ucap Jenna.


"Boleh, tapi jangan lama lama," ucap Zayn.


"Oke."


Mereka pun duduk di depan sofa. Jenna melipat kakinya dengan keranjang lengkeng di pangkuannya. Sedangkan Zayn menyalakan tv. Mereka duduk bersebelahan.


"Mau nonton apa? 360 lagi? Atau fifty shades?" Tanya Zayn.


"Mesum mulu otaknya. Yang lucu aja, film dua anak botak dari Malaysia deh om. Seru tuh," ucap Jenna. Zayn pun menurutinya. Ia men-play film itu di youtube. Jenna mulai memakan buah kelengkeng berukuran jumbo itu. Ia juga menyuapi Zayn. Mereka makan sama sama sembari menonton tv.


"Seneng banget kalo kita kayak gini deh," ucap Zayn.


"Makanya kalo apa apa itu kasih pemahaman dulu. Biar aku gak nyari tahu sendiri. Kamu ngomongnya gak ada apa apa mulu. Tahunya duar, dia sama kamu udah mau tunangan dan udah rencanain pernikahan. Waktu dia ngomong kalo aku rebut kamu juga, secara gak langsung aku merasa banget meskipun kenyataanya enggak," ucao Jenna.


"Maafin aku. Aku salah, aku emang seharusnya jujur aja sama kamu soal Eliza. Tapi serius yang, aku sama dia udah selesai sejak empat tahun yang lalu," ucap Zayn.


"Kenapa batal tunangannya?" Tanya Jenna. Zayn terdiam. Melihat itu Jenna pun kembali berbicara.


"Kalo emang gak bisa cerita atau gak mau di bagi gak papa. Suatu saat nanti aku juga bakalan tahu kalo kita masih sama sama kayak gini," ucap Jenna.


"Maksud kamu?" Tanya Zayn.


"Rencana kita kan sampe nikah, tapi kita gak tahu rencana pencipta kan?" Tanya Jenna.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2