One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
30. Chocolate Tasty


__ADS_3

ramein ya🥹


***


"Lucu Jennai, bukan culu," koreksi Zayn.


Jenna nyengir, "Iya itu maksudnya."


Zayn hanya menggelengkan kepalanya saja. Sepintar apapun otak wanita ini, lidahnya tetap saja suka keseleo. Entah disengaja atau tidak.


"Kamu mau boneka itu?" Tanya Zayn.


"Enggak," ucap Jenna. Lagi lagi Zayn menghela nafasnya. Tadi ia diuji dengan dimiripkan dengan larva merah sekarang diuji dengan seperti itu. Jika memang tidak mau boneka itu, kenapa harus menunjukan jika ia menginginkan boneka itu.


Zayn pun memilih diam. Ia melihat ke arah depan sedangkan Jenna sibuk dengan ponselnya. Mumpung belum sampai kantor, ia memilih memainkan ponselnya. Karena sudah sampai ke kantor, ia pasti akan sibuk bekerja.


"Nanti siang kamu ikut meeting ke luar kantor. Sekalian kita makan siang," ucap Zayn.


"Sama om?" Tanya Jenna.


"Iya."


Jenna hanya mengangguk saja. Hingga mobil mereka sampai di kantor milik Adam. Zayn sering kesini karena memang ia memiliki pekerjaan dengan perusahaan ini. Selain itu juga dia ingin mendekati Jenna.


Zayn sudah tidak memaksa Jenna menjadi kekasihnya. Ia berpikir, lama lama Jenna akan kesal juga jika terus terusan dipaksa. Maka dari itu Zayn berusaha mendekatinya dan mengambil hatinya.


Zayn dan Jenna berpisah ketika sudah sampai di dalam kantor. Mereka memasuki ruangan masing masing. Jenna ke ruangannya sedangkan Zayn ada meeting disini. Biasanya Zayn yang selalu meminta Adam ke kantornya, namun semenjak Jenna bekerja disini ia selalu datang kesini.


Adam hanya bisa menerimanya saja. Toh Zayn pria yang baik. Ia dan Jeni pernah membahas tentang kedekatan putri mereka dengan Zayn. Jeni sendiri memang menyetujuinya dan memang ingin Zayn yang menjadi menantunya. Namun balik lagi pada Jenna, Jeni hanya berpendapat dan sisa keputusannya ada di tangan Jenna. Begitu juga dengan Adam, ia tidak pernah memaksa untuk ini itu mengenai pasangan untuk Jenna. Apapun yang Jenna pilih, itu adalah keputusannya dan dia sendiri yang akan mempertanggung jawabkannya.

__ADS_1


Zayn masuk ke dalam ruang meeting disusul oleh Adam dan juga Rendra, papanya. Mereka semua adalah petinggi petinggi di kantor. Meeting pun dimulai saat Zayn, Adam, dan Rendra masuk.


Sementara Jenna, wanita itu sudah sibuk berkutat dengan laptop dan beberapa berkas. Sebagian berkasnya sudah selesai. Tinggal beberapa lagi. Setelah semuanya selesai, Jenna pun keluar dari dalam ruangannya menuju ke ruang divisi pemasaran. Ia sudah selesai mengecek data penjualan dan produksi. Semuanya sudah balance.


"Nona Lee, berkasnya sudah selesai di cek. Terimakasih," ucap Jenna.


"Wah, biasanya tidak secepat ini. Tapi setelah kamu bekerja disini, semuanya jadi cepat selesai," ucap Lee.


"Memang benar, setelah adanya nona Adam, pekerjaan jadi terkendali dan cepat selesai," ucap pak Andre.


Jenna hanya tersenyum dan pamit dari sana. Ia berkutat dengan pekerjaan sejak pagi. Kepalanya sedikit pusing. Ia memutuskan untuk membuat coklat dingin saja.


Tanpa disadari Jenna, Zayn sejak tadi memperhatikan wanita itu. Bahkan Zayn mendengar pujian pujian yang diberikan karyawan karyawan tadi. Ternyata wanita itu memang cukup kompeten juga. Zayn pun pergi dari sana mengikuti langkah Jenna.


Jenna sedang membuat minuman dingin dari coklat. Kegiatan Jenna sejak tadi tidak putus dari pandangan Zayn. Wanita itu langsung meminum minuman buatannya. Jenna duduk pada ujung meja. Hanya menempelkan pantatnya saja.


Saat sedang asik minum, tiba tiba Zayn berdiri di depannya. Jarak pria itu sangat dekat dengannya. Jenna yang sedang minum pun tersedak bukan main.


Jenna memukul mukul dadanya pelan namun Zayn segera menahannya. Pria itu menarik tangan Jenna dan menahannya agar tidak memukuli dadanya lagi.


"Om ih, bisa gak sih gak ngagetin? Kalo aku jantungan gimana?!" Ucap Jenna kesal.


"Kamu masih muda dan keluarga kamu tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Kamu juga selalu mengecek kesehatan kamu kan?" Tanya Zayn.


"Ya iya, tapi kan yang namanya penyakit gak mandang umur, genetik, atau kerajinan seseorang dalam cek kesehatan," ucap Jenna.


Zayn mengangguk membenarkan ucapan Jenna. Tatapan pria itu pun beralih pada bibir wanita ini. Ada sedikit noda coklat di kedua ujung bibirnya. Zayn mengedarkan pandangannya. Di ruangan dapur kecil ini jarang sekali dimasuki oleh banyak orang. Setahu dia hanya Jenna yang menggunakannya.


Sementara Jenna kembali meminum minumannya. Sungguh sangat nikmat dan menyegarkan. Meskipun hawa di dalam kantor adem, tapi Jenna tetap ingin meminum coklat dingin.

__ADS_1


"Boleh saya minta?" Tanya Zayn.


"Yah, udah mau abis. Kenapa gak dari tadi," ucap Jenna. Ia menunjukan gelas yang tadi berisi penuh coklat dingin kini hanya tinggal seperempatnya saja.


"Saya tidak mau minum dari gelasnya, tapi dari sini," ucap Zayn. Pria itu memajukan wajahnya dan mengecup bibir Jenna yang kotor akibat minuman coklatnya.


Mata Jenna melotot sempurna bahkan gelas yang dipegang olehnya hampir jatuh jika Jenna tidak kuat memegangnya. Sedangkan mata Zayn tertutup. Bibirnya yang tadi diam kini mulai bergerak. Menikmati rasa coklat yang tertinggal di bibir Jenna.


Tidak lama, namun Zayn sangat puas. Ia pun melepaskan tautan bibirnya pada bibir Jenna. Ia tersenyum kecil saat melihat tubuh Jenna yang terdiam seolah terkejut. Padahal ini bukan ciuman pertama untuk wanita itu, namun anehnya wanita itu selalu bereaksi berlebihan.


"Chocolate tasty dan ada sedikit rasa yang cukup enak dari bibir mu. Apa itu karena lipstik yang kamu gunakan?" Tanya Zayn.


Wajah Jenna memerah. Ia malu sekaligus kesal karena Zayn mencuri ciumannya lagi dan lagi.


Bughh..


Jenna memukul bahu Zayn cukup keras. Namun Zayn tidak merasakan sakit. Pukulan Jenna tidak ada apa apanya.


"Om jangan selalu cium Jenna mendadak kayak gitu bisa gak? Seenaknya cium Jenna, nanti kalo ada yang masuk gimana?" Tanya Jenna.


"Ya biarlah mereka melihat. Toh itu mata mereka," ucap Zayn. Pria itu mengambil gelas yang ada di tangan Jenna dan meminumnya sampai habis.


"Sangat enak. Nanti tolong buatkan lagi ya untuk saya," ucap Zayn. Pria itu mengeluarkan senyum manisnya yang mampu membuat Jenna terpaku.


"Jangan lupa, dua puluh menit lagi kita meeting. Siapkan materinya baby girl," teriak Zayn. Pria itu pun pergi dari sana meninggalkan Jenna yang masih terkejut.


Jenna meraba bibirnya. Sudah kesekian kalinya bibirnya menempel dengan bibir Zayn. Anehnya dia tidak bisa mendorong tubuh Zayn. Seolah ada sengatan listrik yang dipancarkan oleh bibir Zayn agar Jenna diam saja.


"Gila, lama lama bibir gue jadi santapan tuh om om mesum. Mana pake bilang mau minuman ini tapi bukan dari gelas. Malah dari bibir gue, tapi ujungnya kan dihabisin juga sama dia. Aneh," ucap Jenna.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2