
Crazy up niii, ramein napee
***
"Anda sedang apa?" Tanya Anya membuat Yura berjingkrak kaget. Tanpa menjawab pertanyaan Anya, Yura pun melenggang pergi begitu saja dari sana sembari menatap tajam ke arah Anya. Anya sendiri hanya menggidikan bahunya acuh. Ia pun mengetuk ruangan Jenna dan masuk.
"Nona, tadi orang yang katanya anak tuan Hendri diam di deket pintu masuk itu. Gak tahu lagi ngapain, tapi dia kayak nguping pembicaraan kalian. Pas saya tanya lagi apa, bukannya jawab dia malah pergi. Mana natap saja tajam banget. Aneh," ucap Anya.
"Hiraukan saja. Dia gak bakalan ngapa ngapain palingan cuma kasih gebrakan dikit doang. Ini berkas tolong diantarkan ke bagian department pemasaran. Sisanya kamu kasih ke tuan Rendra, katanya orang suruhannya udah nunggu di lobby," ucap Jenna.
"Oke. Ada lagi?" Tanya Anya.
"Enggak dulu untuk sekarang. Setelah makan siang nanti ikut saya meeting ke kantor Rendra group," ucap Jenna.
"Baik nona. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Anya. Jenna hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Anya pun keluar dan melakukan tugasnya. Sementara Jenna membalas beberapa email dan chat yang masuk.
Ale sendiri kembali sibuk dengan ponselnya. Ia sedang bertukar pesan dengan Ryan. Sesekali Ale terkikik geli bahkan senyum senyum sendiri. Sudah seperti orang gila saja. Namun Jenna tidak protes apalagi menanyakan Ale kenapa. Melihat dari gelagatnya saja Jenna sudah mengerti. Ale sedang dimabuk asmara. Setelah sekian lama akhirnya dia kembali berpacaran lagi. Tapi tak menutup kemungkinan sebagai sahabat, Jenna takut Ryan hanya bermain main dengan Ale.
"Napa lo Jenn? Kok bengong," ucap Ale.
"Lo sama Ryan udah pacaran?" Tanya Jenna.
"Belum lah, masih pendekatan. Masa iya baru kenal udah jadian," ucap Ale.
"Halah, so soan gitu. Terus kemarin apa waktu di padang? Belum kenal juga udah cip*kan," sindir Jenna. Ale hanya cengengesan saja. Ucapan Jenna memang tidak pernah panjang, tapi sedikit savage.
"Ya kan terbawa suasana ngab. Gimana sih," ucap Ale.
__ADS_1
Jenna hanya mendengus kesal. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya ditemani Ale. Mereka juga sesekali menyelingi kesunyian itu dengan pertanyaan dan jawaban. Sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan makan siang. Terpaksa Ale harus pergi karena Jenna juga pergi.
Jenna dan Ale berpisah di lobby. Gadis itu dijemput oleh Ryan sedangkan Jenna naik mobil bersama pak Ucup menuju ke kantor om Rendra ditemani Anya juga.
***
Jenna menghela nafasnya. Ini adalah tempat terakhir yang ia kunjungi sebelum pulang. Yaitu bertemu dengan para donatur. Setelah bertemu dengan om Rendra tadi, Jenna kembali ke kantor papinya. Tiba tiba disana mereka kedatangan seorang klien penting. Klien itu cukup rumit sampai Jenna harus terus menerus menghela nafas ketika meladeninya. Jika saja dia tidak penting sudah pasti Jenna tendang dari kantor.
Sudah sepuluh menit ia menunggu di restoran yang dijadwalkan tapi satu pun dari mereka tidak ada yang datang. Jenna tahu mereka sibuk, tapi bisa kan mereka datang sebentar saja. Jenna berdecak kesal. Ia pun bangun dan pergi dari sana. Namun sebelum itu, saat ia membalikan tubuhnya seseorang lebih dulu menyambar bibir Jenna membuat wanita itu membulat. Jenna hendak mendorong pria lancang itu namun setelah ia mengeluarkan suaranya Jenna tersenyum lebar.
"It's me sayang," bisik Zayn.
Jenna kembali menyatukan bibir mereka. Wanita itu mengalungkan tangannya pada leher Zayn dan mencium pria itu cukup agresif. Zayn memeluk pinggang Jenna. Senyum miring terbit di bibirnya saat merasakan ciuman yang begitu agresif.
"Miss me?" Tanya Zayn saat ciuman lepas.
Jenna menganggukan kepalanya. Wanita itu pun memeluk tubuh Zayn. Menghirup tubuh Zayn dengan rakus seolah ia tidak akan merasakan harum itu lagi.
"Hanya lima hari sayang," ucap Zayn.
"Tapi kangen," ucap Jenna.
"Miss you more mommy," ucap Zayn membuat Jenna memukul pelan dada pria itu. Ia benar benar merindukan pria ini. Setelah datang ke hadapannya, rasanya Jenna tidak mau melepaskan Zayn.
"Ah iya, Jenna hampir lupa. Donatur-,"
"Sttt, aku sudah mengaturnya. Besok kita baru membahasnya. Saat ini aku benar benar menginginkan mu," ucap Zayn.
__ADS_1
"Kamu pulang dari Boston kok langsung minta jatah? Kan aku bukan istri kamu," ucap Jenna heran.
"Besok kita nikah. Gak ada penolakan sayang," ucap Zayn. Pria itu mengangkat tubuh Jenna dan membawanya pergi dari restoran itu. Untungnya keadaan resto sepi jadi Jenna tidak perlu malu ketika digendong seperti ini oleh Zayn.
"Kita mau kemana?" Tanya Jenna.
"Hotel terdekat sayang. Apa kamu tidak merasakannya? Sejak di dalam pesawat dia sudah berontak ingin segera dipuaskan," ucap Zayn. Ia sedikit menggesekan miliknya sampai Jenna memejamkan matanya. Kebetulan mereka sudah berada di dalam mobil dengan posisi Jenna diatas pangkuan tubuh Zayn.
"Jangan, itu dosa," ucap Jenna.
"Dosa yang nikmat sayang. Makanya jangan susah ketika aku mengajak kamu menikah," ucap Zayn. Jenna hendak menyela namun Zayn tidak mau mendengarnya. Mereka keluar dari dalam mobil menuju ke dalam hotel. Sebelumnya Zayn sudah reservasi. Hotel ini milik Ryan. Jenna berontak minta diturunkan karena malu dengan tatapan petugas hotel nanti. Zayn pun menurutinya.
Kamar mereka berada di lantai paling atas. Zayn memesan presiden suit. Setelah keluar dari dalam lift dan masuk ke dalam kamar, Zayn benar benar tidak memberikan jeda pada wanitanya. Ia langsung menyerang Jenna. Bibir wanita itu tidak terelakan lagi menjadi sasaran pertama Zayn. Jenna bahkan kewalahan karena Zayn dengan rakus meraup bibirnya.
Jenna membalas ciuman itu. Ia dipangku oleh Zayn dan didudukan diatas pangkuannya karena Zayn duduk di sofa. Jenna berada diatas tubuh Zayn. Perlahan tangan lentik Jenna membuka kemeja milik Zayn satu per satu. Begitu juga Zayn, pria itu dengan tidak sabaran menarik kemeja Jenna menyebabkan kancing kemeja milik Jenna berhamburan kemana mana. Baju bagian atas mereka sudah terlepas begitu juga dengan penutup kedua squishy Jenna.
"Pelan pelan," ucap Jenna. Ia merem*s pelan rambut Zayn.
"Kenapa semakin membesar? Aku gemas sekali," ucap Zayn. Sebelah squishy milik Jenna dimasukan ke dalam mulutnya sedangkan sebelahnya lagi ia rem*s dengan pelan namun intens.
"Mendes*hlah sayang. Aku merindukan suara kamu," ucap Zayn.
"M-malu," ucap Jenna terbata.
Zayn yang tidak sabaran pun merem*s dengan kuat squishy milik Jenna menyebabkan wanita itu merintih dan mendes*h kesakitan. Zayn yang sudah dirundung oleh nafsu pun dengan tidak sabaran mengankat tubuh Jenna membawa ke atas kasur.
"Aku tidak akan bermain pelan. Jangan harap permainan selesai dengan cepat sayang, karena aku tidak akan berhenti sebelum pagi hari tiba."
__ADS_1
Tbc.
Ommoooo, zayn mengewrikannnnnn🥹🥹👍