
***
Jenna tidak mau ambil pusing soal video itu. Ia cepat cepat melempar ponselnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum berangkat ke kantor. Niat Jenna ingin memasakan makanan untuk Zayn, namun setelah datangnya video syur itu, Jenna jadi tidak ingin memasakannya lagi. Biarkan saja pria itu kelaparan. Jenna benar benar dibuat kesal sekali.
Jenna menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk mandi kemudian mengeringkan rambutnya. Selesai mengeringkan rambut, Jenna mulai memilih milih baju. Sebuah dress berwarna hitam dengan panjang sampai ke atas lutut. Ia akan memadukannya dengan jas berwarna putih. Jenna memakai pakaian pilihannya, lalu memoleskan sedikit make up.
Selesai bersiap, Jenna mengambil tas jinjing miliknya juga hells miliknya. Tidak ada yang memasak untuknya karena dia berada di apartement. Jika saja di rumah, sudah pasti bi Uci akan membuatkannya makan pagi.
Ya sudah lah, Jenna akan take away makanan saja sekalian membelikan untuk Zayn juga. Meskipun kesal, Jenna tetap akan memperhatikan keadaan Zayn. Selain makanan, Jenna juga berniat membeli vitamin untuk penguat imunnya. Jenna tahu, semalaman Zayn sudah pasti begadang untuk menyelesaikan masalah di kantornya.
Jenna menggunakan mobil jemputan yang dikirimkan oleh Zayn, karena pria itu mengatakan pada Jenna untuk mampir ke perusahaan Nagendra Group. Jenna tidak bisa menolak, karena orang suruhan Zayn menjemputnya sampai ke depan pintu apartementnya.
Jenna langsung menuju ke perusahaan Nagendra Group setelah dijemput. Namun sebelum itu, Jenna akan membeli makanan dan vitamin di apotek. Jenna berniat untuk membeli paket bento nasi hokben saja.
Perjalanan dari apartement ke perusahaan Zayn sekitar empat puluh menit. Itu waktu menambah saat Jenna take away makanan juga membeli vitamin. Jenna keluar dari dalam mobil setelah pintu mobil itu dibuka oleh seorang bodyguard.
"Terima kasih," ucap Jenna.
"Sama sama nona Adam," ucapnya.
Jenna pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan. Beberapa karyawan menyapanya namun tidak sedikit juga yang melayangkan tatapan sinisnya pada Jenna. Jenna menghiraukannya saja, toh itu semua tidak akan berpengaruh apa apa di hidupnya.
Dari jarak dekat lift, Jenna melihat Zayn yang sudah berdiri tegap dan sedang menatap ke arahnya. Saat Jenna sudah dekat, Zayn langsung merentangkan tangannya seolah ingin Jenna masuk ke dalam pelukannya. Namun Jenna menggelengkan kepalanya dan menarik tangan pria itu untuk masuk ke lift.
__ADS_1
"Sayang ih, kan mau peluk. Kok malah narik masuk lift," ucap Zayn sedikit kesal.
"Lagian kamu ini, masa iya kita tebar kemesraan di depan karyawan karyawan kamu. Emang kamu gak tahu apa, beberapa karyawan wanita di kantor kamu ini natapnya sinis banget ke aku," ucap Jenna.
"Masa iya? Yang mana? Biar aku kasih mereka pelajaran," ucap Zayn. Jenna menghela nafasnya kemudian menggelengkan kepalanya.
"Gak usah, hiraukan saja. Lagian aku juga enggak ambil pusing soal itu," ucap Jenna.
Zayn tersenyum kemudian merangkul bahu Jenna. Ia bahagia karena wanitanya memiliki hati yang luas serta pemikiran yang dewasa. Zayn benar benar senang sekali. Tak lama, pintu lift pun terbuka. Mereka berdua keluar bersama menuju ke ruangan kerja Zayn.
"Kamu makan dulu," ucap Jenna. Zayn mengangguk dan ikut duduk di samping Jenna. Jenna mengeluarkan makanan yang ia beli diluar tadi. Mereka berdua pun makan pagi bersama. Sesekali Zayn menyuapkan makanannya pada Jenna, begitu pun sebaliknya. Jenna yang selalu lapar pun dengan cepat menghabiskan bento box miliknya. Tiba tiba ia terpikirkan oleh Ale. Bagaimana keadaannya hari ini?
"Mas, coba kamu telepon om Ryan. Aku pengen tahu keadaan Ale," ucap Jenna.
Jenna mengernyit mendengar ucapan Zayn, tentu saja dia memikirkannya. Ale sahabatnya dan pasti dia baru saja mendapatkan musibah setelah melewati malam yang panjang bersama Ryan. Jenna sudah yakin jika Ale saat ini bukanlah seorang virgin lagi. Mengingat Ryan seorang player. Semoga saja Ryan bertanggung jawab terhadap Ale.
"Tentu saja aku memikirkannya mas. Bagaimana pun dia sahabat aku, bertahun tahun lamanya aku lewatin hidup aku dengan dia juga. Meskipun sekarang kami jarang bertemu, bukan berarti kepedulian aku berkurang," ucap Jenna.
"Jangan terlalu baik, enggak semua orang bisa memberikan feedback sama ke kamu, sama halnya seperti pertemanan. Lakukan sewajarnya," ucap Zayn memperingati.
"Iya, iya mas. Udah teleponin sekarang, Jenna mau tahu keadaan Ale," ucap Jenna.
Zayn menghela nafasnya dan menuruti kemauan calon istrinya ini. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ryan. Cukup lama sampai Zayn harus berulang kali meneleponnya namun Ryan tidak kunjung mengangkatnya.
__ADS_1
"See? Dia mungkin masih tertidur dengan Ale," ucap Zayn.
"Kalo Ale hamil gimana?" Tanya Jenna dengan polosnya. Zayn hampir tertawa mendengar dan melihat raut muka polos wanitanya. Benar benar menggemaskan sekali.
"Ya kita juga jangan kalah sama mereka sayang. Kita harus segera menikah supaya cepat cepat memiliki anak," ucap Zayn.
"Iih mas, enggak gitu konsepnya. Punya anak kok dijadiin perlombaan sih?!" Erang Jenna.
"Ya harus lah sayang. Kamu gak tahu nikmatnya aku ketika masukin kamu dengan berbagai gaya. Belum lagi waktu kamu ambil alih permainan, dengan brutalnya kamu mompa dari atas," ucap Zayn.
"Stop! Jangan bahas itu please. Apa yang terjadi kemarin itu semua gara gara om Ryan! Jenna musuhan sama dia, gak mau baik baik lagi," ucap Jenna.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Hari ini jangan ke kantor om Adam dulu ya? Temenin aku bobo," ucap Zayn.
"Mana bisa! Bisa bisa aku di pecat, aku udah ambil cuti aku sehari dan sekarang aku harus masuk lah. Masa iya anak pemilik perusahaan enggak masuk. Aku gak mau makan gaji buta," ucap Jenna.
Oke, Zayn sudah terbiasa dengan keras kepala seorang Jennaira Adam. Ia sudah tidak asing lagi dengan nada bicara seperti ini. Jika dilanjutkan sudah pasti mereka berdua akan bertengkar. Zayn malas bertengkar dengan Jenna, karena dengan begitu dia tidak bisa dekat dekat dan bermesraan dengan wanita ini.
"Ya udah, aku anter kamu sekalian aku mau pulang ke apartement. Badan aku kayak mau sakit aja," ucap Zayn.
"Mas, Ale gimana?" Tanya Jenna lagi. Astaga, wanita ini benar benar memiliki kepedulian yang sangat tinggi sekali. Bahkan Ale belum tentu memberikan feedback yang sama pada wanita ini.
"Dengerin aku," ucap Zayn sembari memegang kedua bahu Jenna agar menghadap ke arahnya. "Ale sudah besar, apa yang dia lakukan hari ini memang kesalahan Ryan. Tapi aku yakin, dia juga menikmati permainannya dengan Ryan. Masalah dia akan syok atau enggaknya, itu urusan dia. Paham?"
__ADS_1
Tbc.