
***
Pagi hari sudah datang. Namun satu detik pun Jenna tidak memejamkan matanya. Hidungnya seperti akan flu bahkan kepalanya terasa sakit. Suhu tubuhnya juga berbeda dari sebelumnya. Jenna melirik ke arah jam di tangannya, sudah pukul tujuh pagi. Jenna beranjak dari sana untuk membersihkan dirinya ke kamar mandi. Bukan air hangat melainkan air dingin. Sengaja agar tubuhnya terlihat segar, mungkin. Wanita itu juga keramas agar kepalanya tidak kembali pening.
Setelah selesai, Jenna mengeringkan rambut sembari menunggu pakaiannya datang. Tak lama, pakaian yang ia mau datang. Sebuah celana levis panjang yang besar ke bagian betis atasannya ia memakai tanktop crop yang dipadukan dengan jas berwarna hitam. Rambut Jenna sudah mengering. Ia pun segera memakai bajunya. Menggerai rambutnya, Jenna sudah siap dengan outfitnya pagi ini. Wanita itu keluar dari dalam kamar hotel yang ia sewa malam tadi dan pergi ke lobby. Disana Anya sudah menunggunya.
Jenna mengenakan kaca mata hitam. Namun tetap ada yang mengenalinya sebagai anak Adam. Mereka melempar senyum ke arah Jenna yang Jenna tanggapi hanya anggukan kepala saja. Ia masuk ke dalam mobil.
"Selamat pagi nona," ucap Anya.
"Pagi. Maaf membuat mu berangkat pagi," ucap Jenna.
"Tidak apa apa nona. Ini pekerjaan saya, keluarga saya juga sudah mengerti," ucap Anya. Jenna hanya mengangguk sekilas.
Anya pun melajukan mobilnya menuju ke kantor. Tidak ada percakapan di dalam mobil, karena Jenna tidak ada bertanya apapun. Ia hanya diam sembari menatap kosong ke arah depan. Anya sendiri hanya diam karena ia tidak akan berbicara jika tidak ditanya.
Sekitar tiga puluh menit berlalu mereka sampai di kantor Adam. Di kantor sudah banyak orang lalu lalang. Kebanyakan mereka adalah karyawan baru yang datang lebih pagi. Berbeda dengan senior, mereka akan datang sesuai waktu yang ditentukan.
Jenna keluar dari dalam mobil diikuti oleh Anya. Jenna sengaja memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang memerah akibat tidak tidur semalaman. Beberapa karyawan yang ada disana menyapa Jenna. Jenna menyunggingkan senyum tipisnya untuk membalas sapaan mereka.
Ia masuk ke dalam lift bersama dengan Anya. Nafas Jenna terasa panas. Bahkan kepalanya pening, mungkin ini semua akibat dia yang tidak tidur semalaman. Sialan, seharusnya ia tidur saja semalam dan tidak perlu memikirkan masalah yang tidak penting.
"Aku hanya ingin menghadiri dua meeting saja hari ini. Sisanya aku ingin berdiam di ruangan ku saja," ucap Jenna.
__ADS_1
"Baik nona," ucap Anya. Jenna masuk ke dalam ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya dan mulai melihat jadwalnya di ipad yang sudah dikirimkan oleh Anya. Namun pasti akan ada perubahan jadwal karena Jenna menginginkan dua meeting saja hari ini.
Jenna memulai pekerjaannya. Sebenarnya bukan bekerja seperti biasa, wanita itu hanya membuka buka berkas yang belum tersentuh olehnya.
Sementara itu di lobby, Zayn sudah berada di perusahaan Adam. Ia langsung masuk lift menuju ke ruangan Jenna. Sekalian juga disini ia ada meeting. Ia menatap ke arah layar kecil yang menampilkan nomor lift. Sebentar lagi, ia akan sampai ke ruangan Jenna.
Zayn langsung berangkat ke perusahaan om Adam setelah mendapatkan informasi jika wanitanya sudah berada dikantor. Zayn dengan tidak sabar langsung keluar dari dalam lift dan berjalan masuk ke dalam ruangan Jenna. Ia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
Jenna terlihat memijat keningnya. Karena pintu ruangannya tidak mengeluarkan suara saat dibuka, jadi Jenna tidak melihat ke arah pintu. Zayn berjalan perlahan, melihat keadaan wanitanya yang sepertinya stres Zayn sudah menyimpulkan. Semalaman Jenna pasti tidak tidur.
Zayn menarik tangan Jenna membuat wanita itu terlonjak kaget dan menatap ke arahnya. Jenna berdiri dari duduknya karena ditarik oleh Zayn. Pria itu langsung menarik Jenna ke dalam pelukannya.
"Kangen. Semalam kamu pergi gak bilang bilang, aku udah kayak orang gila nyari kamu gak nemu nemu," ucap Zayn mengadu.
"Bukannya semalam lagi sama Eliza? Aku pergi karena emang gak ada peran penting di acara semalam kan?" Tanya Jenna.
Jenna tidak menjawabnya dan mengurai pelukannya. Ia menatap ke arah Zayn.
"Bukannya semalam aku minta break dari hubungan kita? Kenapa kamu masih nemuin aku? Aku cuma butuh waktu aja buat nenangin diri aku dulu," ucap Jenna.
"Enggak akan pernah ada kata break apalagi putus. Aku gak akan pernah setuju soal seperti itu," ucap Zayn.
Jenna menghela nafasnya, "Egois."
__ADS_1
Wanita itu pun duduk kembali di kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya. Ia sudah malas berdebat, ini masih pagi. Moodnya sudah tidak bagus sejak semalam dan pagi ini apa harus hancur lagi? Jenna tentu tidak akan membiarkannya.
Dari wajahnya saja sudah Zayn simpulkan jika Jenna kurang istirahat. Apalagi tadi tangan wanita itu terasa panas.
"Kemarilah, aku tahu kamu begini karena ucapan Eliza kan? Kenapa kamu gak bilang kalau kamu ketemu dia?" Tanya Zayn. Ia kembali menarik tangan Jenna namun wanita itu menghempaskannya.
"Aku sedang bekerja. Kita bisa membahas itu setelah selesai bekerja. Tolong profesional tuan Zayn," ucap Jenna.
Zayn tersenyum miring mendengar ucapan Jenna yang formal. Gelang yang ia berikan beberapa waktu lalu pun tidak ada disana. Apa wanita ini melepaskannya? Oke Zayn tidak bisa diam saja jika sudah begini.
Zayn mengambil tas Jenna. Ia yakin jika disana ada gelang itu. Jenna tidak mungkin menyimpan gelang itu disembarang tempat. Ternyata benar, gelang itu ada disana. Zayn menarik tangan kiri Jenna dan memasangkannya kembali.
"Apa anda bisa sopan?" Tanya Jenna.
"Berhenti bersikap seperti ini," ucap Zayn.
"Saya sedang bekerja. Jika anda hanya mengganggu lebih baik anda keluar," usir Jenna.
"Eliza memang mantan pacar ku, bahkan kami hampir bertunangan dan melangsungkan pernikahan. Tapi karena suatu kebenaran yang aku dapatkan aku membatalkan semua niat ku dengan dia. Kami berpacaran selama lima tahun," ucap Zayn.
"Itu kan yang mau kamu dengar?" Sambungnya.
"Apa kamu tidak bisa sabar dulu? Aku juga akan menjelaskan semuanya kepada kamu sayang, tapi aku belum siap. Ada alasan yang menyebabkan aku tidak jujur soal ini. Lagi pula itu masa lalu dan tidak perlu mempengaruhi masa depan kita," ucap Zayn.
__ADS_1
"Landasan bertahannya hubungan karena kepercayaan kan? Aku sudah berusaha kembali mempercayai kamu, tapi apa? Bahkan ketika aku meminta penjelasan itu dari kamu, kamu selalu bilang kamu tidak ada hubungan apa apa dengan dia kan? Oke, anggaplah aku tidak sabaran. Aku memang seperti itu. Jika anda tidak suka, lebih baik kita akhiri hubungan ini," ucap Jenna.
Tbc.