One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
198. Pesta Teman Mama


__ADS_3

***


Zayn terus menerus menciumi Jenna yang masih memejamkan matanya. Wanitanya ini masih terus menutup rapat matanya padahal sejak tadi Zayn terus menciumi wajah cantiknya. Setelah berbicara dengan Math tadi, Zayn langsung beranjak kembali ke dalam kamar. Dia masih belum membersihkan tubuhnya, sebab dia ingin mandi dengan Jenna.


Jenna sendiri hanya menggeliat pelan dan kembali memejamkan matanya. Dia membelakangi tubuh Zayn dan memeluk hangat tubuhnya yang diselimuti oleh bad cover. Zayn mendengus pelan, wanitanya ini selalu seperti ini setelah ia setubuhi. Nikmat sekali ketika miliknya masuk ke dalam sarang hangat itu. Sarang yang sangat rapat dan selalu memijat miliknya saat miliknya masuk ke dalam sarang itu.


Mata Zayn terpaku pada melihat bekas luka yang sudah mengelupas bagian hitamnya dan kini menyisakan garis putih sebagian. Benar sekali apa yang dipikirkan olehnya sebelumnya. Jika luka ini akan membekas.


Untungnya tadi dia sudah menghubungi Ghani dan mengatakan apa yang dia butuhkan. Ghani sebagai teman dekatnya tentu saja mengiyakan dan akan memberikan obat yang diinginkan oleh Zayn.


"Nggshh, mass, sakit ih," ucap Jenna. Squishynya di tangkup dan direm*s dengan cukup keras. Tentu saja Jenna mengerang kesakitan.


"Mandi atau aku gempur lagi," ucap Zayn.


"Mas, masih ngantuk," ucap Jenna. Wanita itu dengan manjanya memeluk tubuh Zayn dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Zayn.


"Jangan menggoda ku sayang, aku belum beli pengaman lagi," ucap Zayn.


"Arshhh, sakit sayang," ringis Zayn saat Jenna memelintir put*ng dadanya.


"Makanya jangan mesum mas. Kamu kan udah gempur aku masa mau gempur lagi. Gak puas puas ih," ucap Jenna.


"Biarin lah, salah sendiri lubang kamu nikmat banget," ucap Zayn.


"Sttt, diem mas. Aku nyaman kayak gini, dada kamu keras tapi nyaman. Aneh banget kan," ucap Jenna pelan.


Zayn pun membenarkan letak tidurnya dan menggunakan satu tangannya sebagai bantalan sedangkan satu tangannya lain ia gunakan untuk memeluk tubuh Jenna.


"Aku belum mau punya anak sayang, apapun alasannya. Meskipun setelah kita menikah nanti, aku akan tetap menggempur kamu. Tapi kamu harus selalu konsul dengan dokter kandungan yang aku perintahkan," ucap Zayn.


"Merintah banget mas, kalo aku mau punya anak cepet cepet gimana?" Tanya Jenna.

__ADS_1


"Aku gak akan buat kamu hamil. Gak ada bantahan lagi. Aku gak mau kasih sayang kamu kebagi sama anak anak kita nanti," ucap Zayn.


"Aku juga belum kepikiran mas, aku masih nyaman berduaan sama kamu. Kamu tenang aja sih, asalkan jangan sampai lupa pake pengaman," ucap Jenna.


"Aku udah gak mau lagi pake pengaman. Gak enak, milik ku gak bisa rasain milik kamu," ucap Zayn.


"Untung ya mas, waktu accident itu aku gak lagi subur. Coba kalo aku subur, mungkin aku udah berbadan dua saat ini," ucap Jenna.


"Yah untungnya juga aku bisa memakai alasan itu untuk menjerat kamu. Akhirnya aku punya lubang yang bisa aku masuki dengan bebas," ucap Zayn.


"Sstt, mesum mulu. Bobo lagi mas, aku masih ngantuk," ucap Jenna.


"Tapi gak bisa bobo nyenyak kalo gak keluar dulu yang," ucap Zayn.


"Udah diem ah," ucap Jenna.


Sedikit kesal namun untungnya Jenna sangat menyayanginya. Jadi dia masih bertahan dengan pria ini. Pria perusak lubang pipisnya, untungnya dia menyukai Jenna dan mau bertanggung jawab. Jika saja tidak mungkin Jenna sudah gila karena kebodohannya sendiri waktu itu.


"Pesta apa mas?" Tanya Jenna.


"Entahlah, kita hanya diminta datang," ucap Zayn.


"Ya sudah, peluk mas," pinta Jenna. Zayn hanya terkekeh pelan lalu memeluk Jenna dan mengecup pelan bibirnya baru mereka tertidur lagi. Kejadian beberapa jam lalu sudah mereka lupakan. Mungkin dengan melakukan hal itu mereka bisa dengan mudah melupakan semua kejadian gila yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.


***


Beberapa jam berlalu, waktu tak terasa saat ini sudah malam lagi. Zayn dan Jenna sudah bersiap menuju ke acara teman mama Lita. Zayn tampak casual dengan jas navy miliknya dengan dalaman berwarna putih, sedangkan Jenna memakai dress berwarna putih tulang yang menjuntai ke bawah dengan model dress seperti duyung. Dress itu mengekspos bagian bahu tangan Jenna, karena dress itu hanya disangga dengan dua tali spaghetti.


Jenna menggerai rambutnya. Sengaja untuk menutupi sebagian punggungnya yang masih terdapat luka akibat kejadian kemarin.


"Bisa untuk tidak cantik sayang? Aku benar benar tidak rela pria lain melihat mu," ucap Zayn.

__ADS_1


"Mas kamu ini gimana sih, yang namanya mau ke pesta ya harus cantik, harus bersih, harus wangi juga. Masa iya aku kayak gembel. Kan gak pas pasangan sama kamunya," ucap Jenna.


Mereka tengah berada dalam perjalanan menuju ke acara pesta. Math di depan mereka hanya tersenyum tipis mendengar interaksi tuan dan nyonyanya. Dia diminta jadi supir malam ini.


"Ya kan gak usah secantik ini sayang. Aku bener bener gak rela kamu dilihat sama pria lain, apalagi kebanyakan pria disana pastinya pria hidung belang," ucap Zayn.


"Termasuk kamu?" Tanya Jenna.


"Enggak yang, aku cuma cukup sama kamu. Gak sama yang lain. Ingat itu," ucap Zayn.


"Iya aja deh, kan diluar sana udah pasti banyak cewek secan-,"


"Tapi aku maunya cuma sama kamu. Gak sama yang lain, hanya kamu. Paham?" Ucap Zayn memotong ucapan Jenna. Jenna hanya tersenyum mendengarnya. Prianya ini benar benar posesif sekali.


"Iya, iya mas. Udah jangan kesel gitu deh, kan cuma becanda. Jangan marah," ucap Jenna.


"Aku gak marah, aku gak akan mungkin marah sama orang yang aku sayang. Cuma aku gak mau kalo malam ini hanya tidur biasa saja," ucap Zayn berbisik.


Jenna melirik sinis ke arah Zayn, "Kamu ini kenapa sih gak pernah puas mas. Capek loh tadi juga."


"Resiko karena kamu mau sama aku, ya meskipun awalnya aku paksa kamu sih. Tapi aku gak peduli, apa yang aku mau harus aku dapatkan," ucap Zayn.


"Tuan egois," ucap Jenna.


"I'm," ucap Zayn.


Jenna menghela nafasnya dan memeluk sebelah tangan Zayn. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada bahu tangan Zayn. Dengan nyamannya bersandar sembari menikmati perjalanan menuju ke tempat acara. Entah dimana tempatnya, Jenna tidak tahu. Yang jelas dia hanya mengikuti kemana pun Zayn pergi.


Zayn memang keras kepala, suka memerintah, dan yang paling tidak Jenna sukai adalah pria itu terlalu mendominasi. Tapi mau bagaimana lagi, Jenna sudah sangat menyukai pria ini.


"Besok kita terbang ke Paris," ucap Zayn.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2