
Ramein lah, 10 bab up hari ini🥹✊️✊️
***
"Usap usap punggung aku dong. Biar cepet bobonya," ucap Zayn. Jenna pun menurut dan mengelus elus pelan punggung Zayn. Lambat laun Jenna mendengar dengkuran halus keluar dari Zayn. Nafas pria itu juga sudah teratur. Sepertinya Zayn sudah terlelap.
"Bobo yang nyenyak ya. Biar cepet sembuh," ucap Jenna. Wanita itu mengecup pelan kening Zayn dan ikut terlelap. Jenna menggerakan tubuhnya agar semakin menempel dengan Zayn. Bukan apa apa, ia hanya nyaman saja saat bersama dengan pria ini. Apalagi ketika tidur. Gerakan Jenna itu membuat dada-nya semakin menempel dengan Zayn.
Tanpa Jenna tahu, Zayn sebenarnya belum tertidur. Ia hanya pura pura tidur saja. Dengan sengaja ia menenggelamkan wajahnya pada dada Jenna. Ternyata wanita ini tidak memakai br*. Zayn tahu karena dada Jenna terasa empuk sekali.
Semakin lama, tidur Jenna semakin nyenyak. Zayn mengurai pelukannya dan membuka satu persatu kancing teratas piyama Jenna. Squishy Jenna terpampang jelas di depan wajahnya. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Zayn memasukan put*ng Jenna ke dalam mulutnya. Perlahan ia menyedotnya namun makin lama makin kencang. Untungnya tidur Jenna tidak terganggu.
Beberapa jam berlalu, Jenna terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah Zayn, pria itu masih tertidur lelap. Namun ia melihat jika mulut Zayn sedang menyusu padanya. Jenna menghela nafasnya dan mencoba melepaskan squishy-nya. Namun ternyata Zayn mengigit put*ng-nya.
"Kesempatan banget sih," gumam Jenna. Ia pun kembali tertidur dan semakin menarik kepala Zayn agar semakin mendekat. Ternyata Zayn juga melakukan hal yang sama. Zayn memeluk erat tubuh Jenna.
***
Pagi hari yang gerimis menyambut pagi Jenna. Perlahan Jenna membuka matanya. Ia melirik jam di nakas, sudah pukul enam pagi ternyata. Perlahan Jenna bangun dan melepaskan pelukan Zayn. Ia melihat put*ng miliknya yang sedikit lecet. Ia hanya mendengus pelan dan pergi dari sana menuju ke kamar mandi. Ia mencuci muka dan mengosok giginya kemudian menghangatkan bubur milik Zayn dan memasak sisa bahan semalam. Jenna hanya membuat masakan simpel saja. Sup tahu sutra.
Setelah selesai masak, Jenna kembali ke unit-nya untuk mandi dan ganti baju.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, jenna sudah bersiap. Ia memakai kaos lengan pendek yang dimasukan ke dalam celana pendek. Jenna memakai jaket oversize berwarna hitam yang menutupi tubuhnya sampai ke atas lututnya. Jenna menyanggul rambutnya dan mengambil tas slempang. Untuk alas kaki, ia memakai sepatu cats berwarna putih yang memiliki hak cukup tinggi.
Setelah siap, Jenna pun kembali ke unit Zayn untuk melihat pria itu. Ternyata Zayn sudah mandi dan sudah bersiap ke kantor.
"Om, kenapa udah pake baju kantor? Hari ini om gak boleh pergi ke kantor. Om harus istirahat total. Kondisi om belum memungkinkan untuk ke kantor hari ini," ucap Jenna.
__ADS_1
"Gak papa sayang. Aku gak papa, ayo sarapan bareng," ucap Zayn. Ia menarik Jenna keluar apartement. Niatnya ia akan membawa Jenna makan pagi di restoran bawah yang masih satu gedung dengan apartement ini.
Mereka sarapan pagi dengan tenang. Jenna hanga meminta roti sandwich dan segelas susu putih hangat. Sedangkan Zayn makan nasi dan lauk lainnya. Minumnya ia meminta air putih.
Setelah selesai makan, Jenna dan Zayn langsung menuju ke kantor. Tidak ada percakapan diantara mereka, lebih tepatnya Jenna yang tidak menjawab ucapan Zayn. Zayn sendiri sejak tadi berusaha mengajak Jenna berbicara namun Jenna tidak menggubrisnya. Saat sampai ke kantor pun, Jenna menolak ciuman dari Zayn dan pergi begitu saja dari sana. Jenna masuk begitu saja menghiraukan Zayn.
"Dia kenapa sih?" Gumam Zayn.
***
Jenna masuk ke dalam kantornya. Ia mendumel sejak tadi. Sungguh ia sangat kesal sekali dengan pria itu. Jika akhirnya pria itu kembali bekerja disaat tubuhnya belum benar benar sehat, untuk apa semalaman suntuk ia menjaga Zayn bahkan merawat pria itu. Bahkan sup yang dibuat oleh Jenna tidak dimakan sama sekali. Rasanya double double kesalnya.
"Pagi sayang," sapa Adam. Mereka bertemu di depan pintu lift.
"Pagi pi," jawab Jenna ketus.
"Kesel banget pih. Kesel banget," ucap Jenna. Mereka berdua pun masuk ke dalam lift saat pintunya sudah terbuka.
"Kesel kenapa?" Tanya Adam.
"Gak tahu, pokoknya kesel banget," ucap Jenna. Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Anaknya ini memang masih labil sekali.
"Kerjaan kamu hari ini apa aja?" Tanya Adam.
"Kayak biasa. Emang kenapa?" Tanya Jenna.
"Mami minta kamu pulang pas makan siang. Kelihatannya kamu juga kecapean banget sampe bawah mata kamu gelap. Papi kasih kompensasi kamu buat pulang terus istirahat," ucap Adam.
__ADS_1
"Emang gak papa pih?" Tanya Jenna.
"Gak papa sayang, dari pada kamu sakit. Papi gak mau hal itu terjadi. Mending kamu pulang aja lagi. Terserah mau ke apartement atau pun rumah juga," ucap Adam. Pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dari dalam sana.
"Jenna emang kurang tidur kayaknya pi, badan aja agak meriang," ucap Jenna.
"Ya udah pulang aja. Dari pada makin drop, biar kamu istirahat saja. Nanti gak usah juga ketemu sama mami kalo kamu mau ke apart," ucap Adam.
"Ya udah Jenna ijin pulang aja ya pi. Ke apart, bilangin sama mami nanti Jenna temuin mami aja sorean," ucap Jenna.
"Iya sayang. Lain kali jangan paksain diri kamu masuk kerja kalo kamu meriang," ucap Adam. Jenna mengangguk dan memeluk tubuh papi-nya. Ia pun kembali masuk ke dalam lift untuk menuju ke lobby lagi. Entah kenapa tubuhnya tiba tiba drop seperti ini. Padahal kemarin dia tidak melakukan hal hal yang aneh.
Jenna pulang diantar supir pribadi keluarganya. Ia meminta diantar ke apartement-nya. Mungkin tidur seharian di apartement akan mengembalikan stamina tubuhnya.
Sementara itu di kantor Nagendra, Zayn gelisah karena memikirkan sikap kekasihnya tadi. Apa Jenna semarah itu padanya karena Zayn memaksakan diri ke kantor lagi ini.
Zayn mengacak acak rambutnga frustasi. Tingkah Jenna seperti tadi cukup membuatnya kepikiran.
"Mathew, tolong reservasi restoran Korea terdekat dan buat janji temu dengan Jennaira Adam," ucap Zayn.
"Baik tuan. Hanya itu saja?" Tanya Math.
"Itu saja."
"Baik tuan, saya permisi dulu," ucap Mathew. Zayn hanya mengangguk sekilas. Ia pun mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia masih gelisah dan khawatir karena kepikiran soal Jenna. Sepertinya tadi pagi dia memang membuat kesalahan yang membuat Jenna kesal sehinhva menolaknya.
"Tapi apa kesalahan gue," gumam Zayn.
__ADS_1
Tbc.