
***
Tidur Jenna kali ini benar benar nyenyak sekali. Dia bahkan tidak terganggu saat Zayn membawanya ke bandara. Perjalanan cukup lancar, tidak macet seperti biasanya. Saat Zayn memangku tubuh Jenna dan mengeluarkan wanita itu dari dalam mobilnya, Jenna juga tidak bangun. Wanita ini benar benar kebo sekali. Pantas waktu itu mami Jeni pernah mengatakan jika Jenna adalah wanita yang sangat sangat hobi tidur. Bahkan saat dia kuliah, weekendnya akan dihabiskan hibernasi selama dua hari di akhir pekan.
Jenna memang ratunya tidur. Dia tidak akan terganggu sama sekali dengan gerakan dan bunyi sesuatu meskipun dia mendengarnya, namun dia tetap stay memejamkan matanya. Menikmati nikmatnya tidur tanpa merasa terganggu sedikit pun.
Beberapa jam berlalu mereka masih berada dalam pesawat. Jenna tertidur di samping Zayn. Saat ini mereka tengah beristirahat di dalam sebuah kamar kecil yang sengaja Zayn buat di dalam jet pribadi miliknya. Kamar ini selalu menjadi tempatnya beristirahat saat ia sedang melakukan perjalanan jauh ke luar negeri.
Sejak naik ke atas tempat tidur, Jenna tidur terlentang. Ia memang tidak akan banyak bergerak saat tidur. Tidur ternyamannya memang terlentang, untungnya Jenna tidak pernah mereog saat tidur. Bahkan juga tidak pernah ngorok. Zayn membalikan tubuhnya jadi tidur miring. Ia menatap wajah Jenna. Dia juga terbangun dari tidurnya.
"Cantik banget, pantesan banyak yang deketin. Panas banget rasanya aku lihat isi DM instagram kamu. Apalagi lihat langsung cowok cowok yang berusaha ngambil perhartian kamu alias caper," ucap Zayn. Pria itu menaikan tangannya ke atas squishy Jenna dan menangkupnya. Dengan gerakan perlahan Zayn mulai merem*snya. Pria itu memang sangat nafsuan. Bahkan dia selalu tidak pernah merasa puas. Dia ingin terus menerus melakukan itu dengan Jenna lagi dan lagi.
"Empuk banget sayang, untungnya tadi aku sempet buka kaitan br*nya. Bayanginn kalo enggak, pasti dada kamu bakalan sakit," ucap Zayn. Pria itu terus menerus merem*s milik Jenna. Sedangkan Jenna, wanita itu sama sekali tidak merasa terganggu. Dia masih nyaman dalam tidurnya.
"Kamu bener bener kebo banget yang. Aku dari tadi main main di area squishy kamu, kamu gak bangun bangun. Kayaknya kalo ada gempa aja kamu tetep tidur," ucap Zayn terkekeh. Pria itu mencoba mengencangkan remas*nnya diatas squishy Jenna.
Tiba tiba Jenna melenguh dan bergerak ke arah samping. Dia menarik tangan Zayn yang berada diatas squishynya dan memegangnya. Namun matanya masih terpejam.
"Ngantuk mas, jangan ganggu," ucap Jenna sembari matanya masih terpejam.
"Kamu udah tidur tiga jam loh yang, masa masih ngantuk," ucap Zayn.
__ADS_1
"Ya pokoknya masih ngantuk mas. Jangan ganggu," ucap Jenna.
"Tapi aku suka ganggu kamu," ucap Zayn.
Perlahan Jenna membuka matanya. Beberapa kali Jenna mengerjapkan matanya sampai ia membuka seluruh matanya. Jenna melirik ke arah Zayn yang tengah tersenyum menatapnya. Jenna hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ia melirik lagi ke arah lain, tunggu, dia dimana? Ini bukan kamar apartement atau pun kamar miliknya yang ada di rumah papi Adam. Ini juga bukan apartement Zayn. Lalu dimana dia berada saat ini?
"Mas, kita di kamar siapa?" Tanya Jenna. Wanita itu perlahan bangun dan duduk di atas kasur yang tadi ia tempati.
"Kamar ku, kita sedang berada diatas udara," ucap Zayn.
"Hah? Atas udara? Maksudnya apa?" Tanya Jenna.
"Kenapa tiba tiba? Bukannya baru besok pagi kita berangkat? Aku belum packing sama sekali loh," ucap Jenna terkejut. Jelas saja dia terkejut, saat tidur tadi dia masih berada diatas tanah dan masih berada di Indonesia, sedangkan sekarang dia sudah berada diatas udara dan sedang dalam perjalanan menuju ke Paris.
"Karena aku gak mau kamu celaka lagi. Banyak bahaya yang mengintai kita," ucap Zayn.
"Astaga mas. Aku udah biasa kali sama hal yang kayak gitu, kemarin waktu di apart aku kebawa emosi juga jadinya ya gitu, aku gak bisa selamatin diri aku," ucap Jenna.
"I now dear. Kamu kuat, kamu hebat dan kamu pintar. Hanya saja aku tidak mau kamu kembali celaka. Itu saja. Please, maafkan aku jika aku tiba tiba membawa kamu. Tapi kamu tenang saja, papi Adam dan mami Jeni sudah mengijinkannya," ucap Zayn.
Jenna mengernyit, "Papi? Mami?" Tanyanya.
__ADS_1
Zayn tersenyum dan mengangguk. "Iya sayang, tadi mami Jeni berkata seperti itu. Dia ingin aku memanggilnya dengan sebutan mami, bukan lagi tante. Dia juga ingin aku memanggil om Adam dengan sebutan papi. Tapi masih agak kaku kalo ketemu. Pasti aku masih manggil om aja sama papi kamu."
Sejauh apa sebenarnya hubungan Zayn dengan kedua orang tuanya? Kenapa Jenna tidak pernah tahu? Bahkan sebelum Jenna mengenal Zayn, kedua orang tuanya lebih dulu mengenal pria ini. Sepertinya dia ketinggalan zaman. Buktinya dia tidak tahu sejauh dan sebaik apa hubungan Zayn dan kedua orang tuanya.
"Sebenarnya sejauh apa hubungan kamu sama mami papi?" Tanya Jenna.
"Apa mereka tidak mengatakannya? Dulu saat kamu masih berada di dalam kandungan, mami kamu selalu minta ditemani oleh ku. Saat itu aku baru masuk SD kelas lima. Sedangkan usia kandungan mami kamu sudah menginjak delapan bulan. Dulu kita bertetangga, namun saat kamu lahir dan berusia satu tahun, aku harus pergi dari Indonesia untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi," ucap Zayn menjelaskan.
"Bahkan dulu, aku sempat tidak mau pergi karena aku sangat senang melihat kamu hadir dan datang ke dunia ini. Aku sangat menyukai kamu, sejauh itu baru kali itu juga aku menyukai bayi. Entah kenapa," sambungnya.
"So, kamu yang menemani mami sampai melahirkan aku? Dan sampai usia ku satu tahun?" Tanya Jenna.
"Iya sayang. Bahkan dulu aku selalu berharap kamu cepat besar dan kita bisa bermain bersama," ucap Zayn terkekeh pelan saat mengingat impiannya dulu.
"Ngawur. Masa iya harus cepet gede, kan butuh waktu mas," ucap Jenna.
"Ya makanya, namanya juga anak kecil sayang. Setelah aku pergi ke luar negeri tepatnya ke Boston, beberapa tahun berlalu aku masih mengingat kamu. Mami Jeni selalu mengirimkan foto foto kamu. Itu sedikit mengobati rasa rindu ku. Tapi saat kamu dewasa, aku baru tahu kalo kamu sudah dekat dengan Mario. Ya sudah aku juga tidak mau mengganggu kalian, alhasil aku bertemu dengan Eliza," ucap Zayn.
Saat itu Jenna baru SMA kelas satu dan memang Mario sudah mendekatinya. Pria itu gencar sekali dalam mengambil hati Jenna. Namun Jenna tidak mudah ditaklukan. Mario perlu waktu beberapa tahun lamanya.
Tbc.
__ADS_1