One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
75. Kepikiran


__ADS_3

***


Semalaman penuh Jenna tidak bisa tidur karena ucapan Zayn yang cukup mengganggunya. Bodohnya dia karena mengatakan hal yang sebenarnya. Jenna memang menjadikan Zayn sebagai pelampiasan tanpa sadar. Padahal Jenna sudah diperingatkan oleh Ale dan Cahu. Tapi ternyata ia tidak bisa menahan dirinya sendiri.


Sikap pemaksa Zayn meminta Jenna untuk menjadi kekasihnya tentu saja tidak Jenna terima awalnya. Namun semakin lama bersama Jenna jadi nyaman dengan pria itu. Bahkan terkadang Jenna terbayang sikap Mario yang ada kesamaan dengan Zayn.


Sekitar pukul empat pagi, Jenna keluar dari dalam kamar inapnya. Ia harus segera menemui Zayn dan meminta maaf karena menjadikan pria itu sebagai pelampiasannya. Bahkan semalam Zayn tidak mau membahasnya lagi dan tidak mengirimi pesan seperti biasanya. Jenna merasa bersalah juga merasa aneh dengan pria itu.


Suasana pagi yang masih gelap di terobos Jenna. Sedikit takut namun ia melawannya. Jenna mengenakan legging dan tanktop yang dibalut jaket swater. Ternyata apa yang dibilang Ale benar, Bandung di pagi hari cukup dingin sekali udaranya.


Iya Ale tahu karena Jenna memberitahunya. Meskipun jarang bertemu namun mereka selalu mengobrol melalui pesan singkat.


Jenna celingukan di depan kamar Zayn. Ia bingung, jika ia mengetuk pintu takutnya Zayn masih tidur. Tapi jika tidak diketuk, yang ada ia tidak akan tenang. Ia hanya tidur beberapa jam saja setelah Zayn pergi.


"Akhh," ringis Jenna saat tubuhnya ditarik. Posisi Jenna membelakangi pintu kamar Zayn.


Brugh.


Pintu kamar Zayn di tutup setelah Jenna masuk. Wanita itu pun membalikan tubuhnya saat sudah berada di dalam kamar Zayn.


"Miss me?" Tanya Zayn pelan.


Jenna melengkungkan bibirnya ke bawah. Ia kemudian memukul dada Zayn dengan kepalan tangannya✊️.


"Sakit sayang, kenapa di pukul," ucap Zayn.


"Aku gak bisa tidur gara gara kamu om. Kenapa tiba nanya gitu? Jenna orangnya ceplas ceplos kalo ngomong," ucap Jenna.


Zayn tersenyum dan menarik Jenna ke dalam pelukannya. Jujur saja ia juga tidak bisa tertidur. Ia ingin memeluk Jenna semalaman agar tidurnya nyenyak namun ia sendiri tadi yang pamit tidur pada Jenna. Ego Zayn cukup tinggi jika harus kembali ke kamar Jenna.


"Maafin aku, aku salah. Udah jadiin kamu pelampiasan," ucap Jenna. Ia memeluk erat tubuh Zayn. Menghirup dalam aroma tubuh Zayn.


"Jangan bahas hal yang buat aku gak suka sayang. Bahas yang lain aja," ucap Zayn.

__ADS_1


"Maaf," cicit Jenna.


"Its okay," ucap Zayn. Ia pun menarik Jenna untuk duduk di tempat tidurnya. Tangan Zayn terangkat untuk menyingkirkan rambut Jenna yang menghalangi kecantikan wajah Jenna.


"Jangan marah," ucap Jenna.


"Enggak, kenapa aku harus marah? Kalo pun aku marah, aku gak mungkin kecup kamu tadi," ucap Zayn.


"Justru aneh, biasanya gak bakalan pergi sebelum Jenna balas ciuman om," ucap Jenna.


"So, kamu kesini buat itu?" Tanya Zayn, senyum miring tercetak jelas di wajahnya.


"Ih enggak gitu. Ya aneh aja om," ucap Jenna.


Zayn tidak mendengarkan ucapan Jenna. Pria itu lebih tertarik dengan bibir Jenna yang sedari tadi menggodanya. Ia menyatukan bibirnya dengan bibir Jenna yang langsung disambut hangat oleh wanita itu.


Zayn tidak peduli dengan ucapan Jenna beberapa jam yang lalu. Mau Zayn dijadikan pelampiasan atau pun apa, Zayn tidak peduli. Jenna hanya perlu waktu untuk menyadari cintanya pada Zayn. Zayn sudah tahu dan merasakan jika Jenna sudah memiliki perasaan kepadanya. Buktinya wanita ini tidak pernah menolak dirinya.


Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Bertukar saliva. Lidah mereka saling membelit. Bahkan kini Jenna sudah tertidur diatas kasur milik Zayn. Wanita itu menjadi lebih pro dalam berciuman karena Zayn. Sebelumnya Jenna tidak pernah melakukan hal seperti ini. Namun setelah bersama Zayn, dia berbeda.


"Tidur disini ya?" Pinta Zayn.


Jenna menganggukan kepala membuat Zayn tersenyum. Ia pun bangun dari atas tubuh Jenna dan berjalan menuju pintu kemudian menguncinya. Jenna merentangkan tangannya saat Zayn akan naik ke tempat tidur. Zayn masuk ke dalam pelukan Jenna. Menyembunyikan wajahnya diantara dua gunung kembar yang berukuran cukup besar.


"Boleh?" Tanya Zayn.


"Apa?" Ucap Jenna tak paham.


"Biar aku bobo, pengen ini," ucap Zayn. Tangan kanannya merem*s pelan squishy milik Jenna membuat wanita itu mendesis.


"Nanti adik kamu bangun. Aku masih menstruasi," ucap Jenna.


Zayn tersenyum miring, "Terus kalo kamu gak menstruasi, kamu mau melakukan itu lagi?"

__ADS_1


"Enggak!" Jenna gelagapan sendiri mendengar ucapan Zayn.


"Jujur saja sayang, aku selalu ingin melakukan itu terus menerus. Tapi belum ada ikatan apa apa diantara kita, aku hanya bisa membatasi diri ku," ucap Zayn.


"Maaf," ucap Jenna.


"Berhenti mengatakan hal itu. Aku tidak suka," ucap Zayn. Tangannya bergerak untuk melepaskan sweater dan br* milik Jenna, lalu menyingkap tali spaghetti tanktopnya ke bawah sehingga menampilkan dua gunung indah berwarna putih.


Tanpa menunggu lagi, Zayn langsung melahapnya. Memasukan put*ng itu ke dalam mulutnya. Ia merapatkan tubuhnya dengan tubuh Jenna. Sebelah squishy milik Jenna tidak menganggur. Zayn memainkannya. Jenna sendiri mengusap pelan punggung dan kepala belakang Zayn. Sesekali ia meringis ngilu karena ulah mulut Zayn.


Beberapa menit berlalu, ponsel Jenna berdering. Jenna meraihnya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata Ale.


"Apa, ini masih subuh anjir," rutuk Jenna pelan. Takutnya ia membangunkan Zayn.


"O EM JI JENNAI, GUE ABIS KISSING SAMA COWOK. MANA GANTENG LAGI AAAKKKK," teriak Ale.


Jenna sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya akibat teriakan Ale. Subuh subuh begini anak itu meneriakinya? Yang benar saja. Jika dekat sudah pasti Jenna akan menyeledingnya.


"Sama siapa? Kok mau?" Tanya Jenna.


"Dia pemilik restoran yang gue kunjungin malam ini. Gak tahu kenapa dia tiba tiba ngajak gue dinner. Eh tahunya dia nyosor, mana pro banget ciumannya. Gue jadi mabuk sama ciuman dia," ucap Ale.


"Sadar neng, cari tahu dulu asal usul cowok itu. Takutnya dia punya cewek gimana? Masa mau patah hati lagi. Ribet yang ada," ucap Jenna.


"Dia gak punya pacar katanya. Kita sempet tukar cerita tadi. Dia juga kenal sama laki lo," ucap Ale.


"Laki gue? Maksudnya om Zayn?" Tanya Jenna. Ia berbicara sepelan mungkin karena takut Zayn terganggu.


"Iyalah. Laki lo yang cakep plus tajir itu. Katanya dia temennya. Mereka udah temenan lama cuma jarang nongki bareng aja karena sibuk kerja katanya," ucap Ale.


"Siapa namanya?" Tanya Jenna.


"Ryan."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2