
***
"Papa dengar, hari ini kalian akan pergi ke Bali untuk peresmian hotel yang menjadi proyek kalian?" Tanya Rendra.
Yap, Jenna dan Zayn saat ini sedang berada di ruangan Rendra, ayah Zayn. Disana juga ada Lita. Tidak biasanya wanita yang sangat Zayn sayangi itu berada disini. Pasti ada hal penting sampai dia datang kesini. Belum lagi papanya meminta dia dan Jenna masuk ke ruangannya.
"Iya pah, sore ini berangkat kalo enggak ada halangan. Zayn sama Jenna udah setuju," ucap Zayn.
Rendra mengangguk. "Adam sudah tahu?"
"Sudah om, papi sudah tahu," jawab Jenna.
"Jenna sayang, jangan panggil om lagi. Panggil papa dan mama ya? Lagi pula kalian akan segera menikah kan?" Tanya Lita.
"Ah, kami baru saja berbaikan lagi tante. Jenna belum bisa memberikan jawaban tentang hal itu. Jenna harap tante bissa mengerti," ucap Jenna lembut.
"Semua ini gara gara wanita ular itu. Mama tidak akan membiarkan dia hidup tenang," ucap Lita.
"Ma, sudah lah. Jangan mau berurusan dengan dia lagi. Mama juga kemarin ketemuan sama dia kan? Zayn tahu dari ponsel Jenna, ada nomor tidak dikenal masuk ke ponsel Jenna. Disana dia mengirimkan foto mama ketika bertemu dengan Eliza di restoran kan?" Tanya Zayn.
"Kamu buka buka ponsel aku?" Tanya Jenna.
"Iya sayang. Maaf jika aku tidak sopan, tapi aku melakukan hal ini karena kamu tidak memberitahu ku. Kamu menyembunyikannya dan menyimpannya sendirian," ucap Zayn.
"Mama gak bermaksud buat nemuin dia karena mama kembali menerima dia. Bukan begitu Zayn, mama menemui dia karena sudah geram dengan dia yang semena mena. Dia menemui calon menantu mama ini dan memperngaruhinya, mama tidak suka Zayn. Makanya mama memperingati dia untuk tidak mengganggu kehidupan kalian lagi," jelas Lita.
"Maksud mama kamu baik Zayn. Dia hanya tidak ingin wanita itu mengacaukan masa depan hubungan kalian. Kamu tahu sendiri kan mama kamu selalu nekat kalo ada hal yang enggak mengenakan," ucap Rendra.
"Jenna sayang, mama mohon. Kamu jangan pernah ragu dengan anak mama, jujur saja baru kali ini mama melihat Zayn begitu mencintai kamu. Bahkan dia seperti orang gila kemarin saat kamu pergi tanpa kabar," ucap Lita.
"Tante tenang aja. Selagi Zayn menjaga kepercayaan yang Jenna berikan, Jenna akan selalu bersama dengannya. Zayn yang membantu Jenna sedikit demi sedikit sembuh dari trauma Jenna," ucap Jenna.
"Bagus lah. Ingat ya, mulai sekarang kamu harus manggil mama sama papa. Jangan om sama tante terus, mama gak suka," ucap Lita.
"Jenna usahakan, ma," ucap Jenna. Lita tersenyum mendengar ucapan Jenna. Ia pun memeluk wanita itu. Namun matanya melirik ke arah tangan Jenna. Seperti ada yang aneh dari sana.
__ADS_1
"Sayang, gelang yang diberikan Zayn dimana?" Tanya Lita.
"Jenna menyimpannya kemarin dan lupa memakainya lagi. Nanti Jenna pakai lagi," ucap Jenna.
"Jangan pernah dilepas ya? Itu tanda kalau kamu milik keluarga kami," ucap Lita. Jenna hanya mengangguk sekilas.
Tiba tiba Zayn menarik tangan Jenna dan memasangkan gelang yang di maksud oleh Lita. Jenna mengernyit heran, kenapa gelang ini ada pada pria ini? Seingatnya dia menyimpannya di tas miliknya.
"Aku mengambilnya sayang," ucap Zayn menjawab keheranan Jenna.
"Nah kalo gini kan cantik. Oh iya, kalian mau makan siang dimana? Bareng boleh?" Tanya Lita.
"Enggak ma. Jangan ganggu waktu Zayn sama Jenna. Kami baru saja berbaikan lagi," ucap Zayn menolak.
"Om," peringat Jenna karena Zayn menolak kemauan mamanya.
"Zayn gitu amat sama mama sendiri. Kan mama mau iktu makan siang sama calon mantu," ucap Lita.
"Jenna, kamu manggil anak papa dengan sebutan om?" Tanya Rendra.
Memang ketika bertemu dengan Zayn pertama kalinya, Jenna tidak tahu pria ini. Namun setelah bertemu beberapa kali, Jenna malah memanggilnya om. Alasannya simpel, karena Zayn lebih tua darinya.
"Nanti nama panggilannya di ubah pelan pelan ya? Panggil Zayn dengan sebutan 'mas'. Kamu harus membiasakan itu ya sayang, kan nanti kalian akan segera menikah," ucap Lita.
"Jenna akan mencobanya ma," ucap Jenna.
"Ya sudah, Zayn dan Jenna pergi dulu. Sekalian kami pami karena nanti sore kami akan langsung berangkat ke Bali," ucap Zayn.
Lita dan Rendra mengangguk, "Hati hati ya kalian. Zayn, jagain calon mantu. Awas kalo lecet sedikit aja."
"Iya ma, iya. Ada lagi?" Tanya Zayn.
"Bikinin mama cucu, mama udah gak sabar pengen punya cucu loh," ucap Lita membuat Jenna terdiam. Ternyata kedua orang tua Zayn sudah tahu sejauh mana hubungan mereka.
"Enggak ma. Zayn belum mau punya anak, lagian Zayn gak mau perhatian Jenna kebagi sama anak Zayn nanti. Zayn mau puas puasin dulu sama Jenna," ucap Zayn.
__ADS_1
Lita hanya mendengus pelan. Apa yang dilakukan Zayn saat ini sama persis seperti Rendra dulu. Waktu itu Rendra menolak istrinya hamil cepat. Makanya Rendra meminta Lita untuk memasang KB. Namun tanpa sepengetahuan Rendra, Lita menghentikan KB itu dan lahir lah Zayn.
"Ya udah Zayn sama Jenna pamit dulu," ucap Zayn.
"Iya," ucap Lita dan Rendra.
Zayn dan Jenna pun keluar dari dalam ruangan kerja Rendra. Zayn merangkul pinggang Jenna posesif. Bahkan pria itu menatap tajam ke arah karyawan pria yang menatap wanitanya dengan tatapan menyukai.
"Sekarang kita kemana?" Tanya Jenna.
"Makan siang dulu baru ke rumah kamu buat packing," ucap Zayn.
"Makan dimana?" Tanya Jenna.
"Restoran, tentu saja," ucap Zayn.
"Bosen. Kok restoran mulu sih?! Jenna maunya makan bakso gerobakan," ucap Jenna.
"Sayang, resto aja ya?" Pinta Zayn.
"Enggak. Maunya bakso gerobakan, itu enak. Ada langganan aku, tempatnya bersih plus baksonya enak. Kalo kamu gak mau ya aku aja yang makan kesana," ucap Jenna.
"Okey, okey. Kita kesana sekarang sayang. Sesuai yang kamu mau," ucap Zayn.
"Gitu dong, kan ganteng kalo nurut," ucap Jenna tersenyum. Zayn hanya mengela nafasnya dan ikut tersenyum. Menghadapi Jenna benar benar membutuhka kesabaran extra. Apalagi kemarin mereka baru saja berbaikan. Zayn harus banyak mengalah.
"Oh iya, kapan kamu cek ponsel aku? Terus gelang ini?" Tanya Jenna.
"Cek ponsel semalam. Waktu kamu masih tidur. Aku gabut makanya mainin ponsel kamu, soalnya kalo mainin milik kamu, kamu marah," ucap Zayn.
Sebuah tangan langsung melayang saat Zayn mengatakan hal itu. Itu tangan Jenna.
"Kalo gelang, kamu gak simpen itu di tas. Aku dapetin gelang itu dari Ghani, hotel yang kamu tempatin itu milik Ghani."
Tbc.
__ADS_1