
***
Berdrama. Jenna sama sekali tidak suka melihatnya. Ia ingin pulang, tapi dia tidak bisa sebab dia harus menghargai Ivander, meskipun Ivander menyebalkan. Zayn sendiri hanya diam melihat drama di depannya. Dia merangkul pinggang Jenna. Untungnya wanitanya mau dan tidak melepaskan dirinya. Mengingat tadi dia sempat kesal karena ucapan Ivander.
Eliza sendiri dengan tidak malunya terus mencoba mendekati Zayn namun Ivander terus menghalanginya. Pria itu seolah tidak mau Eliza mendekat pada temannya.
"Tadi temen kamu kayak komporin aku buat gak percaya sama kamu, tapi sekarang dia bela kamu," ucap Jenna pelan.
"Ivan memang seperti itu sayang," ucap Zayn. Jenna hanya mengangguk pelan.
Aneh sekali, tadi pria itu memprovikasi seolah Jenna tidak boleh percaya begitu saja pada Zayn. Mengingat hubungan Zayn dan Eliza bertahan tiga tahun lamanya. Bahkan Jenna juga belum mencari tahu apa saja yang dilakukan keduanya selama tiga tahun itu.
Mungkin Jenna harus mencari tahunya. Tapi dia bingung juga, pernikahannya tinggal beberapa hari lagi. Namun apakah Jenna akan menikah dengan Zayn, yang dimana Jenna masih ragu untuk itu semua?
Awalnya iya, Jenna memang yakin Zayn lah pria yang baik untuknya. Namun entah mengapa dia jadi ragu seperti ini. Pasalnya apa yang dikatakan oleh Ivander ada benarnya, seharusnya Jenna berpikiran sampai kesana bukan?
Jenna bukan bermaksud tidak percaya pada Zayn. Hanya saja dia jadi tidak yakin setelah mendengar ucapan Ivander tadi.
"Sayang, kenapa melamun? Apa ucapan Ivander masih mengganggu kamu?" Tanya Zayn. Dia sedikit aneh sebab Jenna terdiam sejak tadi, bahkan dia tidak menyimak ucapan Ivander dan Eliza yang sedang adu mulut. Untungnya mereka berada di area pojok. Jadi tamu undangan yang lain tidak terlalu mendengar dan memperhatikannya.
"Menurut kamu," ucap Jenna. Wanita itu sedikit bergeser dari tubuh Zayn, namun Zayn dengan cepat menariknya lagi.
__ADS_1
"Aku akan menjelaskannya nanti jika kamu memang benar benar ingin tahu. Tapi jangan harap kamu bisa membatalkan acara pernikahan kita setelah kamu tahu yang sebenarnya," ancam Zayn berbisik.
"Aku yang menikah dan aku berhak memutuskan untuk melanjutkan pernikahan kita atau tidak," ucap Jenna.
"Jika kamu ingin perusahaan om Adam hancur, silahkan. Kamu ingat kan siapa aku, bahkan aku akan menghalalkan segala cara untuk bisa memiliki kamu," ucap Zayn.
Jenna menghela nafasnya. Dia sudah tidak mood lagi meladeni ucapan Zayn. Apa yang terjadi kali ini memang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Saat awal awal Zayn memaksa Jenna untuk menikah dengannya.
"Lo undang Zayn artinya lo undang gue juga. Lo lupa kalo gue ini masih tunangannya Zayn. Bahkan cincin tunangan dari Zayn masih gue pake," ucap Eliza sembari menunjukan tangan kirinya, lebih tepatnya jari manisnya yang dimana disana terdapat cincin berlian.
"Ngaca, lo udah bukan tunangan temen gue lagi. Sadar diri itu perlu," ucap Ryan.
"Harusnya yang sadar diri itu cewek ganjen itu," ucap Eliza sembari menunjuk ke arah Jenna.
"Halah, lo lihat dia, dia diem aja karena emang kenyataannya dia itu cewek ganjen. Harusnya dia bela diri lah kalo dia emang enggak ganjen," ucap Eliza. Ucapannya kali ini benar benar di tujukan pada Jenna. Jenna hanya menatap Eliza dari kepala sampai ujung kakinya. Dress merah menyala yang sangat ketat, ditambah polesan make up yang tebal. Benar benar mencerminkan wanita penghibur.
"Gue gak perlu pembelaaan siapa pun termasuk pembelaan dari tunangan gue yang sejak tadi diem aja. Karena apa? Karena gue gak seperti yang lo omongin, jadi gue gak perlu pembelaan sedikit pun," ucap Jenna. Ucapannya kali ini berisi nada sindiran untuk Zayn, karena memang pria ini terus diam saja tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun.
"Van, thanks udah nyambut gue sebagai tamu undangan sekaligus menyadarkan gue tentang Zayn. Gue pergi duluan," ucap Jenna. Wanita itu berbalik setelah melepaskan dirinya dari Zayb lalu pergi dari sana. Dia sudah muak.
Hinaan Eliza, drama yang terjadi, juga sikap Zayn. Entah mengapa hari hari menuju pernikahannya dengan Zayn semakin berat saja. Jenna sudah sangat lelah jika harus bersabar lagi. Bukannya Jenna tidak mau bersabar, dia hanya lelah karena terus menerus ada di posisi seperti ini.
__ADS_1
"Zayn! Kamu gak bisa pergi ninggalin aku," teriak Eliza tanpa rasa malu sedikit pun. Zayn memang pergi mengejar wanitanya. Dia tidak akan membiarkan Jenna lepas begitu saja, apalagi hanya karena terprovokasi ucapan Ivander.
Di luar hotel, Jenna terus berjalan tanpa mempedulikan teriakan Zayn yang memintanya berhenti. Jenna ingin sendiri saat ini, tapi sepertinya Zayn tidak mengerti. Jenna terus berjalan bahkan tidak memikirkan sakit di kakinya. Heels yang dipakai olehnya berukuran sangat pas jadi jika dibawa berjalan cepat maka kakinya akan lecet.
"JENNAIRA NAGENDRA, KAU TIDAK MENDENGARKAN AKU?!" Teriak Zayn. Pria itu terus berjalan bahkan setengah berlari sampai dia meraih tangan Jenna dan menarik wanita itu ke dekatnya.
"Cukup Jenna, aku tidak akan mentoleransi lagi. Apa hukuman beberapa saat lalu tidak kamu pikirkan?" Tanya Zayn sedikit emosi. Bahkan kedua tangannya memegang kedua bahu Jenna. Cukup kuat sampai Jenna meringis kesakitan.
"Sakit mas," ucap Jenna.
"Dan setelah ini akan lebih sakit lagi," ucap Zayn. Pria itu memangku tubuh Jenna seperti karung. Bahkan dia tidak mempedulikan teriakan Jenna. Jenna sejak tadi sudah berteriak.
"MAS JANGAN GILA, AKU GAK MAU," teriak Jenna.
Zayn tidak mendengarkannya. Pria itu terus berjalan menuju ke mobilnya. Disana sudah ada Mathew dan beberapa orang bodyguard yang menunggu.
Jemma dipaksa Zayn masuk ke dalam mobil. Setelah masuk, Jenna tetap berontak. Dia tidak mau dibawa oleh Zayn, saat ini dia ingin sendiri. Meredakan pikirannua yang kacau serta emosinya yang tidak stabil. Tapi Zayn mana mengerti, pria itu bahkan tidak melepaskan tangan Jenna. Jenna yakin pergelangan tangannya sudah memerah karena cekalan tangan Zayn.
"Lepas, sakit," ucap Jenna.
"Kamu harus terbiasa dengan rasa sakit Jenna Nagendra," ucap Zayn.
__ADS_1
Air mata Jenna sudah turun tanpa disuruh. Dia menangis karena kesakitan. Entah fisik atau pun perasaannya sedang terluka saat ini. Semuanya karena Zayn. Dia ingin sekali menarik lagi kata katanya jika Zayn adalah pria baik untuknya. Nyatanya tidak, Zayn jahat. Jahat sekali. Sayangnya sifat jahatnya itu ditampakan saat Jenna sudah benar benar mencintainya.
Tbc.