One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
28. Bertemu Cahu


__ADS_3

draft 1bab ilang sesek banget hati saya😭


***


Jenna diantar pulang oleh Zayn satu jam yang lalu ke rumahnya. Wanita itu kini sudah membersihkan diri dan sedang rebahan di kasur besar miliknya. Tidak ada yang ingin dia lakukan. Bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar rasa gabutnya ini hilang. Sudah sejak ia rebahan ia menscroll sosial medianya. Namun tidak ada yang menarik. Sedangkan menonton drama korea kesukaannya, ia tidak memiliki stok film.


Sungguh benar benar sangat gabut.


Jenna tadi sudah menghubungi Ale, cewek itu bilang jika dia ingin tidur dan tidak mau keluar. Maklum saja Ale sudah bekerja dengan serius di restoran milik keluarganya.


Jenna tidak memiliki teman dekat selain Ale. Dia tipekal orang yang malas mengenal orang baru lagi. Jadi teman dekatnya hanya itu itu saja.


"Ya elah gabut banget," gumam Jenna. Wanita itu menyimpan ponselnya dan tidur terkurap. Menyembunyikan wajahnya pada bantal guling miliknya. Ia ingin jajan keluar, sekedar mencari angin atau jodoh mungkin. Tapi jika sendirian ia malas juga. Tidak ada teman mengobrol selama di jalan.


"Nasib jomblo gini amat ya tuhan," ucap Jenna. Wanita itu mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.


"Au ah, mending gue tidur aja," ucapnya. Jenna menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan memejamkan matanya untuk tidur. Pagi nanti ia harus ikut papinya ke lapangan untuk meninjau proyek pembangunan apartement baru.


Tak berselang lama, Jenna pun sudah terlelap damai. Wanita itu lupa mematikan lampu di kamarnya. Alhasil lampunya tetap menyala sejak ia tidur.


Tiba tiba pintu kamarnya dibuka. Masuklah Jeni, mami Jenna. Jeni sengaja masuk untuk mengecek keadaan anaknya. Tumben sekali anak ini tidur dengan lampu menyala. Dan tumben juga anak ini sudah tidur. Biasanya anak ini akan begadang.


"Tidur nyenyak sayang," bisik Jeni. Wanita itu mengecup kening anak semata wayangnya dengan sayang. Jeni mematikan lampu kamar Jenna dan keluar dari sana.


***


Pagi harinya, Jenna bangun seperti biasa dan bersiap ke kantor. Rasanya hidupnya sangat monoton sekali. Terus saja melakukan hal seperti itu berulang ulang. Rasanya Jenna ingin melakukan perubahan dalam hidupnya, namun harus seperti apa.


Jenna keluar dari dalam kamarnya setelah bersiap. Ia mengenakan celana levis panjang dengan jas berwarna hitam. Sedangkan dalamnya, Jenna menggunakan kaos putih crop top. Jenna mengikat rambutnya. Tak lupa tas selempang yang selalu ia bawa sudah menggantung di bahunya.


"Makan dulu Jen," ucap Jeni.

__ADS_1


"Males mi, makan mulu gak ada perubahan," ucap Jenna. Namun wanita itu tetap duduk di kursi meja makan.


"Makan itu keperluan. Kamu gak makan sama aja kamu nyari penyakit," ucap Jeni.


Jenna hanya mengangguk sekilas. Ia malas mendengar ceramahan maminya pagi pagi seperti ini. Mereka semua pun makan bersama dalam keadaan tenang. Jenna sendiri hanya makan roti panggang dan susu saja. Sepertinya anak ini memang sedang malas makan pagi.


Setelah selesai makan, Jenna dan Adam pun pamit pada Jeni. Mereka berdua akan berangkat ke kantor. Namun sebelum ke kantor, mereka akan berangkat ke proyek lebih dulu. Meninjau sejauh mana pembangunan apartement yang sedang di garap.


"Jenn, kamu udah diskusi sama Zayn soal proyek kalian berdua?" Tanya Adam.


"Belum pi. Lagian om Zayn masih abu abu. Katanya dia bingung antara milih proyek hotel atau resort," ucap Jenna.


"Kalo kamu maunya apa?" Tanya Adam.


"Jenna maunya hotel aja. Biar gak perlu keluar daerah. Males soalnya," ucap Jenna.


Memang benar, proyek hotel diadakan di sekitaran Jakarta sementara proyek resort dibangun di luar Jakarta. Jenna malas jika harus pergi pergian.


"Gak usah pi, biarin aja om Zayn yang pilih tanpa campur tangan orang lain. Laki laki kok gak bisa milih," ucap Jenna. Adam hanya tersenyum saja, anak perempuannya ini memang sangat paten jika sudah membuat keputusan. Ternyata sifat Adam turun semuanya pada Jenna, anak semata wayangnya.


Tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi sampai di proyek. Cuaca masih pagi namun sudah sepanas ini. Jenna memakai kaca mata hitam, matanya selalu sakit saat mendapatkan cahaya sesilau itu.


"Ini proyeknya pi?" Tanya Jenna.


"Iya ini, gimana menurut kamu, tempatnya bagus gak?" Tanya Adam.


"Lumayan sih, deket keramaian. Semoga aja banyak yang cek in nantinya," ucap Jenna.


"Papi samperin dulu mereka," ucap Adam menunjuk kumpulan pekerja yang sedang istirahat. Jenna hanya mengangguk sekilas.


Sepeninggal Adam, kini Jenna berdiri sendirian melihat lihat area pembangunan. Tentunya wanita itu berada jauh dari area pembangunan. Tiba tiba ada seseorang yang mendekatinya.

__ADS_1


"Jenna?" Tanyanya membuat Jenna mengernyit. Ia menyipitkan matanya. Sedetik kemudian senyum terbit di wajahnya.


"Lo, Cahu?" Tanya Jenna.


"Gila gila, my Jejen keren banget anjir," ucap pria bernama Cahu.


"Lo apa kabar Hu? Kok baru liat lagi gue, lo menghilang gitu aja dari peradaban," ucap Jenna. Ia menerima uluran tangan Cahu.


"Si anjir, dikira gue punah apa. Gak anjir, gue gak ngilang. Cuma pas lulus SMA gue langsung ke Palembang. Gue kuliah disana dan gak balik balik Jakarta. Lo sendiri, lo kuliah dimana?" Tanya Cahu.


"Nah ini nih, tipekal temen yang gak beruntung dimiliki. Kuliah gue aja lo gak tahu," ucap Jenna.


"Ya gimana gue mau tahu, lo kan jarang up foto di sosmed," ucap Cahu.


"Lah, iya juga," ucap Jenna tertawa ngakak. Sebenarnya Cahu ini bukan hanya temannya namun ia juga adalah sodara jauh Jenna. Ibunya Cahu dengan maminya masih satu rumpun keluarga, hanya saja berbeda marga.


"Ngakak lo," ucap Cahu kesal.


"Sorry, sorry. Ngakak banget soalnya, gue kuliah di Harvard. Baru lulus bulan kemarin," ucap Jenna.


"Apa? Kok udah lulus? Gue juga masih nyusun skripsi," ucap Cahu tak habis pikir.


"Ya gue kan pinter, jadi lulus cuma tiga setengah tahun aja," ucap Jenna.


"Iya deh, si paling pinter. Yang dapet rank satu mulu dari SMP," ucap Cahu. Mereka pun terus mengobrol bahkan mereka tidak masalah dengan panasnya cuaca.


Dari kejauhan, Zayn menatap tak suka kedekatan Jenna dan pria itu. Entah dari mana asalnya pria itu muncul. Kenapa harus Jenna terlihat begitu dekat dan akrab dengan pria itu. Zayn sungguh tidak suka. Bahkan panasnya udara pagi ini kalah dengan panasnya hati Zayn melihat kedekatan Jenna. Selama bersamanya, Jenna tidak pernah tertawa selepas itu. Bahkan Jenna sering saja melawan dan terkesan diam saja ketika bersamanya.


"Zayn," sapa Adam.


"Om, kalo boleh Zayn tahu, siapa pria yang bersama dengan Jenna itu?" Tanya Zayn.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2