
***
Apa yang diucapkan oleh Ale memang benar adanya. Mereka berkuliah memasuki jurusan yang fashionnya sama seperti pekerjaan keluarganya.
Tentu ini kemauan orang tua mereka masing masing. Namun mereka tidak pernah menenkan untuk ini dan itu. Baik Jenna atau pun Ale sama sama berkuliah dan masuk jurusan sesuai yang mereka mau.
Jika dipikir pikir, setelah lulus kuliah mereka tidak perlu susah susah mencari pekerjaan karena orang tua mereka sudah memiliki usaha sendiri. Mereka sebagai anak hanya perlu meneruskannya saja.
"Ya mungkin ini takdir kita juga. Kuliah sesuai fashion orang tua. Padahal orang tua kita gak ada tuh maksa maksa kita buat masuk jurusan ini atau itu," ucap Jenna.
"Hahaha, iya bener banget lo. Tapi Jen, lo mau kapan menyudahi masa pengacara ini? Maksudnya kapan lo mulai kerja?" Tanya Ale.
"Gak tahu juga Le. Kayaknya nanti dulu deh soalnya gue juga baru lulus," ucap Jenna.
"Sama sih. Gue juga belum punya plan buat kerja deket deket ini. Masih enakan jadi pengacara," ucap Ale.
"Iya deh si paling pengacara," ucap Jenna.
"Hooh, pengangguran banyak acara," sambung Ale.
Kedua gadis itu pun tertawa. Jokes mereka memang receh dan rendah sekali. Padahal lucunya dari mananya coba.
Jenna kembali memakan kentang gorengnya sampai habis kemudian lanjut memakan sosis bakar sedangkan Ale, cewek itu sedang sibuk makan mie jebew. Tangannya tidak diam, karena ia sibuk berselancar di sosial media.
Ngomong ngomong soal semalam, Jenna berharap tidak bertemu dengan pria itu lagi. Rasanya malas saja bertemu dengan pria yang memanfaatkan kebodohannya saat mabuk.
Setelah kejadian semalam, Jenna menjadi enggan untuk dekat dengan pria lain. Apalagi dirinya sudah tidak tersegel lagi. Apa ada yang mau menerimanya begitu saja?
Sudah pasti tidak akan. Pria zaman sekarang menginginkan wanita peraw*n meskipun mereka sudah tidak perjaka. Miris memang, tapi itu kenyataannya.
"Heh, bengong lagi lo. Ada masalah apa sih?" Tanya Ale.
Jenna menghela nafasnya, "Semalam gue ke club."
Ale terdiam. Ia menatap ke arah sahabatnya. Tatapannya sulit diartikan.
"KENAPA ELO KAGAK NGAJAK GUE BANGSUL? KAN GUE MAU KESANA," teriak Ale membuat beberapa pengunjung cafe melirik ke arah meja mereka.
__ADS_1
Jenna hanya tersenyum dan meminta maaf menggunakan kedua tangannya yang disatukan seperti ini 🙏.
Sungguh benar benar sangat memalukan sekali. Kenapa ia harus berteman dengan modelan manusia seperti Ale?!!
"Malu maluin terus hidup lo," ucap Jenna.
"Ya abisnya gue syok. Kok lo bisa ke tempat kayak gitu? Mana kagak ngajak ngajak gue lagi," ucap Ale tak terima. Ia memang sangat ingin mengetahui seperti apa club itu. Selama ini ia hanya mendengarnya dari teman temannya saja.
"Gue juga gak tahu kenapa gue bisa ke tempat gituan," jawab Jenna.
"Lo minum?" Tanya Ale sedikit pelan. Jenna menganggukan kepalanya.
Brakk...
Ale menggebrak meja saat mendengar pengakuan sahabatnya ini membuat Jenna beringkrak kaget.
"Anji*g lo! Bisa kagak sih gak usah pake ngagetin segala? Kalo gue jantungan gimana?" Tanya Jenna kesal.
"Ehe, yaa sorry kan replek. Fiks sih kita harus kesana. Lo pokoknya harus ajak gue ya jing. Awas aja kagak," ucap Ale. Ia menganggak telunjuknya seolah mengancam Jenna jika tidak mengajaknya maka Ale akan melakukan sesuatu.
"Gue bahkan gak mau ke tempat terkutuk itu lagi Le. Udah lah skip jangan bahas lagi, males gue," ucap Jenna. Bukan apa apa, jika membahas hal ini lagi sudaj pasti Jenna akan teringat kejadian mengerikan itu lagi.
"Kenapa harus sama gue sih? Lo kan udah gede berangkat sendiri aja. Manja," sindir Jenna.
"Kayak lo gak tahu aja bokao gue kayak gimana kalo gue pergi kagak bareng ama lo," ucap Ale.
Papa Ale memang lebih mempercayai Jenna dibandingkan anaknya sendiri. Bahkan mama dan papa Ale beserta adiknya lebih pro pada Jenna dibandingkan dengan dirinya.
Entah pelet apa yang digunakan oleh Jenna sampai sampai ia dipercayai sebegitu besarnya oleh keluarga Ale.
"Ya makanya gue males ajak lo karena itu. Takutnya lo banyak tingkah nanti di club, yang repot kan gue. Mana gue dipercaya buat jagain lo. Kan aneh, gue juga masih perlu penjagaan," ucap Jenna.
"Ya udah terima aja neng. Mau gimana lagi," ucap Ale.
Jenna tidak menjawab ucapan Ale. Lebih tepatnya ia tidak bicara lagi.
"Gue harus balik duluan. Ada oma sama opa soalnya di rumah. Gak papa?" Tanya Jenna.
__ADS_1
"Balik aja. Santuy sama gue mah," ucap Ale.
"Oke. Lo hati hati baliknya Le," ucap Jenna.
"You too ngee."
Mulut Ale memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi ketika mengeluarkan kata kata yang toxic.
***
Zayn tersenyum miring saat melihat raut wajah wanita yang melihatnya. Kebetulan hari ini ia ada meeting dengan kliennya diluar kantor.
Mungkin ini yang disebut jodoh. Ternyata kliennya memilih cafe yang juga dikunjungi gadis semalam. Gadis yang menggodanya sampai ia terbawa arus iblis untuk mengga*li wanita itu.
Wanita itu juga lumayan cantik. Hanya saja tubuhnya pendek. Tapi tidak apa apa. Yang jelas Zayn tidak akan melepaskannya. Enak saja, wanita itu sudah mendapatkan perjakanya dan wanita itu harus tanggung jawab.
Beruntung saat wanita itu keluar, meeting sudah selesai jadi Zayn bisa pamit duluan. Sementara sisa urusannya akan diurus oleh Mathew.
Zayn berusaha mengejar wanita itu yang akan masuk ke parkiran. Ternyata mobil mereka juga terparkir bersampingan.
Terlihat dari cara jalan wanita itu, jika ia sedang buru buru. Padahal Zayn tidak akan melakukan apa apa padanya.
Wanita itu berusaha membuka kunci mobilnya namun sepertinya terlihat kesusahan. Zayn pun berinisiatif membantunya. Ia mengambil kunci mobil yang ada di tangan wanita itu dan dengan satu kali tekan kunci mobil terbuka.
Wanita itu nampak syok melihat dirinya. Zayn tahu wanita ini pada malam itu tidak sepenuhnya mabuk. Zayn mencondongkan tubuhnya sehingga wanita di depannya ini juga ikut mencondongkan tubuhnya.
Posisinya saat ini mereka berada di samping kanan pintu mobil Jenna. Jenna menempelkan punggungnya pada pintu mobil saat pria ini mendekatkan tubuhnya.
"Tidak perlu terburu buru nona. Aku tidak akan membawa mu kembali ke atas ranjang," bisik Zayn.
Ceklek.
Suara pintu mobil milik Jenna yang terbuka oleh tangan Zayn. Pria itu mengeluarkan smirknya dan pergi begitu saja ke dalam mobilnya yang bersebelahan dengan mobil Jenna.
Jenna benar benar mati kutu. Ia tidak tahu harus bereaksi apa tadi. Bahkan deru nafas pria itu masih Jenna ingat wanginya.
Tbc.
__ADS_1
Omooooooo.... ramein heh🥹