
***
Ghani Levent, salah satu teman Ryan dan Zayn. Pria ini baru saja menyelesaikan urusan kantor juga wanita wanitanya di luar negeri. Ghani selalu bilang, jika bermain wanita merupakan obat penghilang stress. Dia sering bergonta ganti wanita dalam satu malam sebanyak dua wanita bahkan sampai tiga wanita untuk ia tiduri. Bukan menjadi hal baru lagi bagi Ryan dan Zayn, sebab mereka sudah tahu jika Ghani seorang player. Bahkan lebih parah dibandingkan dengan Ryan. Ryan masih dibatas normal, berbeda dengan Ghani. Sementara Zayn, pria itu yang lebih baik dibandingkan kedua temannya. Dia tidak pernah bermain wanita, tapi ke club sering. Hanya untuk minum saja.
Jenna dan Ale saling melirik. Mereka tidak tahu siapa pria ini. Namun bagi Jenna, wajah pria ini sedikit familiar. Dia seperti pernah melihatnya namun entah dimana. Jenna benar benar tidak bisa mengingatnya. Ale dan Jenna melihat ke arah tiga pria ini. Mereka terlihat seperti teman lama.
"Bangs*t, kalian udah bawa gandengan? Kenapa gak ngasih tahu?!" Tanya Ghani kesal. Pria itu duduk di sebelah Ryan.
"Untuk apa? Gue takut lo goda cewek gue, terus lo ambil. Mending prepare aja, ya gak Zayn?" Ucap Ryan.
Zayn menganggukan kepalanya. "Lo udah kebanyakan cewek club. Tapi enggak menuntut kemungkinan lo gak tertarik dengan dua wanita ini."
"Hahaha, memang Zayn yang paling mengerti. Lo tahu aja kalo gue naksir cewek sebelah lo. Nona Adam? Right?" Ucapnya. Zayn langsung menginjak kaki pria itu karena sudah melemparkan tatapan genitnya pada Jenna.
"Biasa aja kali, gak gue tikung kok. Palingan gue gas," ucap Ghani.
"Dipikir elpiji kali," ucap Ale acuh. Ia memakan kentang goreng milik Jenna sedangkan Jenna sudah jengah, ia ingat siapa pria ini. Pria yang selalu melemparkan tatapan genitnya pada Jenna. Dia salah satu investor di proyek miliknya dan Zayn. Ia ingat, dia Ghani Levent. CEO dari Levent enterprise.
"Kau siapa?" Tanya Ghani pada Ale.
"Apa itu penting?" Tanya Ale balik.
"Sialan!" Umpat Ghani kesal. Kini pria itu beralih menatap ke arah Jenna. Sedangkan Jenna yang di tatap juga menatapnya balik.
__ADS_1
"Kenapa tuan Levent?" Tanya Jenna santai, sedangkan di sebelahnya Zayn sudah ketar ketir. Karena takut Jenna berpaling. Pria itu langsung menarik tangan Jenna, mengkode agar wanitanya tidak melayani Ryan. Jenna menatap ke arah Zayn dan menganggukan kepalanya.
"Tidak, aku hanya ingin mengajak mu minum wine. Bagaimana?" Tanya Ghani.
"Boleh, kebetulan di depan anda ada wine. Bisa anda tuangkan untuk saya?" Tanya Jenna. Demi apapun, Zayn benar benar ketakutan saat ini. Ia takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Namun Zayn tetap memperlihatkan sisi cool-nya agar tidak terlihat ketakutan.
Ghani sendiri tersenyum miring dan langsung menuangkan wine yang diinginkan oleh Jenna. Pria itu menatap remeh ke arah Zayn, sebab wanita pria itu menanggapi sikapnya. Ia memberikan gelas berisi wine pada Jenna. Jenna mengaambil gelas wine itu dan meminta Ghani untuk melakukan chees. Saat Jenna akan menenggaknya, Zayn menarik gelas itu dan menggelengkan kepalanya.
"It's okay mas. Aku tidak akan mabuk," ucap Jenna tersenyum. Dia mengambil gelas wine itu dan meminumnya sedikit, sedangkan Ghani menenggaknya sampai habis.
"Sekarang giliran saya yang menuangkan wine untuk anda. Bukannya itu yang sering dilakukan untung menjalin hubungan erat sesama pebisnis?" Tanya Jenna.
"Tentu saja nona Adam," ucap Ghani. Jenna tersenyum licik dan mengambil wadah minuman wine lalu menuangkannya sampai penuh ke gelas milik Ghani. Ghani terlihat melotot saat melihat gelas wine miliknya penuh. Jenna langsung mendekatkan gelas miliknya ke gelas milik Zayn sampai terdengar bunyi trek.
"Gelas pertama untuk perkenalan kita," ucap Jenna. Ghani tersenyum paksa dan menatap gelas wine miliknya yang penuh dengan wine.
"Tentu saja tidak, aku akan meminumnya," ucap Ghani. Ia mengambil wine miliknya dan menenggaknya sampai habis. Jenna kembali menuangkan wine ke gelas Ghani sampai penuh lagi, ia juga menuangkannya sedikit ke gelas miliknya.
"Gelas kedua untuk keberhasilan proyek saya dan Zayn yang anda juga menjadi investornya," ucap Jenna. Ia kembali mendekatkan gelasnya agar kembali berbunyi. Jenna menatap ke arah Ghani yang yang sepertinya enggan untuk meminumnya. Namun terlihat terpaksa tetapi dia tetap meminumnya. Kejadian itu berulang sampai gelas kelima, Ghani memang seorang alcoholic. Jadi dia terlihat biasa saja meskipun kepalanya sudah keleyengan. Begitu pun dengan Jenna. Namun perut Ghani terasa seperti di kocok, mau tak mau dia pamit ke kamar mandi untuk muntah. Sedangkan Jenna, setelah Ghani pergi wanita itu menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi yang ia duduki.
"Mampus teler kan lo, sekate kate dah pake ngajak tuh cowok minum," ucap Ale.
"Bawa dia pulang Zayn," ucap Ryan.
__ADS_1
"Sayang," panggil Zayn. Jenna hanya bergumam saja. Ia mendaratkan kepalanya yang pusing akibat minum wine ke bahu Zayn.
"Aku, gak, mabuk," ucap Jenna.
"Terus apa? Halu lo," ucap Ale. Bukan apa apa, dia hanya kesal pada Jenna yang menantang Ghani si pemabuk itu. Sudah tahu lawannya tidak sebanding, wanita itu tetap melakukannya. Ale kan jadi gemas, rasanya ingin sekali menyentil usus dua belas jarinya.
"Diem, deh," ucap Jenna. Ia terus berbicara terbata. Ia ingat, namun entah mengapa kepalanya terasa seperti melayang.
"Kita pulang ya?" Ucap Zayn.
"Hmm, mau naik di atas kamu," ucap Jenna pelan. Zayn tersenyum kecil mendengarnya. Ia pun segera mengangkat tubuh Jenna pergi dari sana meninggalkan Ryan dan Ale, sedangkan Ghani setelah muntah ke kamar mandi, pria itu langsung pergi ke hotel untuk menuntaskan hasratnya. Ia sudah meminta bawahannya untuk menyewa seorang wanita club dan membawanya ke sana.
"Kita pulang sayang," ucap Ryan.
"Ada yang ingin aku bicarakan dulu disini," ucap Ale.
"Apa hm?" Tanya Ryan.
"Aku belum bisa menentukan kapan pernikahan kita mas. Sebab aku belum tentu hamil. Jadi lebih baik kita menjalaninya saja dulu," ucap Ale. Ia menatap ke arah Ryan, sebenarnya dia bukan tidak mau menikah karena belum hamil, namun ia memang tidak ingin menikah dengan Ryan karena Ale tidak mencintai pria ini.
"Kamu pasti hamil sayang, jangan terus menyangkalnya. Jika perlu kita melakukannya lagi malam ini sampai seterusnya sampai kamu hamil. Kamu tahu sendiri seperti apa bahagianya mama aku ketika tahu kamu hamil cucunya," ucap Ryan.
"Enggak bis-,"
__ADS_1
"Bisa. Aku bahkan bisa meniduri kamu semau yang aku bisa," ucap Ryan.
Tbc.