
***
Persiapan acara tunangan Jenna dan Zayn sudah tersebar ke seluruh keluarga, hanya saja keluarga Yura tidak diberitahu jauh jauh hari. Bukan apa apa, Jeni sebagai mami dari Jenna hanya takut jika Hendri akan merusak acaranya. Selama ini dia sudah tahu rencana Hendri yang terus berusaha menjatuhkan perusahaan suaminya melalui anaknya, Jenna.
Jeni dan Adam tahu betul seperti apa Hendri. Pria itu selalu menghalalkan segala cara agar apa yang dia inginkan tercapai. Obsesi Hendri adalah menghancurkan Adam, mereka bersodara tetapi memang Adam yang paling unggul. Dia mewarisi perusahan Malik, yaitu papa Adam dan Hendri. Sebenarnya Hendri juga mendapatkannya, namun dia tidak pernah puas. Dia ingin Adam tidak memiliki apa apa, baru dia puas.
Bahkan dulu pernah kejadian dimana Hendri menculik Jeni dan memaksanya untuk melakukan hubungan intim, namun untungnya Adam cepat datang dan hal yang tidak dia inginkan pun tidak terjadi. Sejak saat itu, Adam memutus hubungannya dengan Hendri. Bagaimana pun dia akan memilih hubunggannya dengan Jeni. Dia tidak peduli tentang Hendri yang menjadi sodaranya atau bukan.
"Pih," panggil Jeni.
"Kenapa sayang?" Tanya Adam.
"Jangan mengundang keluarga Hendri ya? Aku mohon," ucap Jeni. Mereka saat ini sedang berada di ruang keluarga, menunggu kedatangan Jenna dan Zayn.
"Kenapa memangnya? Kamu takut dia mengacaukan acaranya?" Tanya Adam.
"Iya lah pi, aku gak mau acara penting anak kita jadi kacau gara gara dia," ucap Jeni.
"Kita gak bisa gitu mi, bagaimana pun orang luar tahunya dia adalah sodara ku meskipun aku sudah memutus hubungan dengan dia. Kita akan tetap mengundangnya," ucap Adam.
"Yah papi, padahal gak usah. Kita gak perlu ladenin omongan orang luar. Mami gak mau dia datang," ucap Jeni.
__ADS_1
"Maafkan papi, papi gak bisa egois. Dia juga rekan kerja Zayn, sudah pasti dia harus hadir. Tapi aku dengar, papa memberi dia pekerjaan diluar kota. Entah sudah pulang atau belum," ucap Adam.
"Pokoknya dia gak boleh datang pi. Mami gak mau, awas aja kalo dia ada. Mami gak mau tidur satu kasur lagi sama papi selama sebulan," ucap Jeni mengancam. Adam melotot seketika mendengarnya.
Sementara itu dilain tempat, tepatnya di apartement Jenna, wanita itu masih setia menggulung tubuhnya dibawah selimut. Dengan tambahan pelukan dari Zayn. Keduanya masih sama sama memejamkan matanya, padahal matahari akan segera naik.
Tidak peduli bangun sesiang apa, karena urusan acara tunangan mereka sudah di handel oleh mama Lita dan mami Jeni. Urusan cincin dan gaun serta jas yang akan digunakan oleh Zayn sudah ada di genggaman mereka berdua. Konsep tunangan juga sudah ditentukan. Tema dan dress code tamu juga sudah ditentukan, mungkin lusa undangan akan segera disebar. Acara tunangan tinggal beberapa hari lagi, namun untungnya media dan wartawan belum ada yang mengetahuinya. Sebab Zayn sudah meminta beberapa orang kepercayaannya untuk melakukan sesuatu sehingga beritanya tidak akan bocor. Bahkan Zayn juga meminta dua orang untuk mengawasi pergerakan Eliza dan Mario beserta keluarga Hendri, mereka terlalu membahayakan acara Jenna dan Zayn jika sudah tahu beberapa hari sebelumnya. Bisa bisa acara mereka akan hancur.
Jenna menggeliat dalam tidurnya, dia menoleh ke sampingnya. Disana ada Zayn yang masih setia menutup matanya. Semalam Zayn harus bekerja sampai pukul tiga dini hari. Ia harus tetap bekerja meskipun acara tunangannya sudah di depan mata. Pria itu rela bekerja di malam sampai dini hari agar besoknya bisa bersama dengan Jenna.
Jenna juga sama, wanita itu terkadang meminta sedikit pekerjaannya pada Anya. Kasihan wanita itu jika harus kerja rodi. Jenna tidak mungkin membiarkannya, mengingat Anya sudah memiliki seorang suami.
Jenna menggeser tubuhnya agar menatap ke arah Zayn. Dia tersenyum kecil saat melihat Zayn yang sangat nyaman sekali dalam tidurnya. Bahkan saat Jenna mengusap pelan alisnya, pria ini tidak terganggu sama sekali. Sepertinya Zayn memang benar benar kurang tidur dan kecapean.
Benar benar suami idaman. Sayangnya dia harus berjodoh dengan Jenna yang wanita karier. Sangat sulit sepertinya untuk Jenna menerima keputusan pertama Zayn. Melarangnya bekerja. Jenna bukan tipe wanita yang hanya dia di rumah dan menye menye tidak jelas. Dia pasti akan mati kebosanan di rumah. Namun kembali lagi, setelah menikah dia harus menuruti apapun ucapan Zayn.
"Ganteng banget, pantesan aja mantan kamu ngebet banget sama kamu. Aku harap kamu cuma cukup dan sangat cukup aja dengan lubang aku mas. Jangan kamu mau ke lubang yang lain," ucap Jenna. Wanita itu mengecup pelan pipi milik Zayn sampai membuat sedikit Zayn terbangun. Pria itu menolehkan kepalanya ke arah Jenna dan tersenyum.
"Morning sayang," ucap Zayn.
"Morning too mas," ucap Jenna.
__ADS_1
"Kenapa udah bangun? Bobo lagi aja," titah Zayn.
"Kebangun. Kan biasanya bangun jam segini buat ke kantor mas," ucap Jenna.
"Udah jam sembilan baru ke kantor? Kalo nanti kamu kayak gitu di kantor aku, hukumannya ya mendes*h dibawah aku," ucap Zayn.
Duk..
"Sshh, sakit sayang," ucap Zayn saat dadanya jadi sasaran empuk kepalan tangan Jenna.
"Makanya jangan mikirin soal selangk*ngan mulu dong. Gak habis habis kayaknya otak kamu. Isinya slengki mulu," ucap Jenna.
"Soalnya slengki kamu nikmat sayang. Apalagi waktu milik aku ditelan habis sama punya kamu. Benar benar sarang yang pas," ucap Zayn.
"Massss," erang Jenna kesal saat Zayn membahas hal vulgar seperti itu.
Zayn terkekeh dan menarik Jenna kemudian mengecup bibir wanita itu. Niatnya hanya mengecup, namun Jenna bermain disana, tentu saja Zayn akan membalasnya. Dia tidak mungkin akan mencampakan kegiatan ini begitu saja.
"Ukuran kamu berapa? Kok aku ngerasa tiap kamu masuk makin gede," ucap Jenna saat ciumannya terlepas.
"Panjangnya tujuh belas senti kalo gak tegang, kalo tegang aku gak tahu. Gak pernah ngukur. Dari pada ngukur kan mending masukin kamu aja."
__ADS_1
Tbc