One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
31. Bertemu Investor


__ADS_3

✊️✊️✊️


***


Dua puluh menit kemudian, Jenna berjalan keluar kantor bersama dengan Zayn. Kedua mahluk itu akan mengadakan pertemuan dengan klien dari kantor lain dan bertemu diluar kantor. Jenna sengaja diikut sertakan karena kemauan Adam. Ia ingin Jenna tahu seperti apa pertemuan untuk menggaet para investor.


Mathew membawa kedua mahluk berbeda jenis itu menuju salah satu restoran terkenal yang ada di suatu tempat. Beberapa kilo meter dari kantor.


"Investor kita kali ini adalah pria semuanya. Dia teman saya semasa kuliah, kamu jangan genit nanti disana," ucap Zayn memperingati.


Sedangkan Jenna yang sedang sibuk dengan ponselnya terhenti saat mendengar ucapan pria ini. Tidak boleh genit? Memangnya dia Yura apa.


"Ya terserah saya lah om, itu kan hak saya mau genit atau enggak juga. Lagian saya juga jomblo, siapa tahu dia jodoh saya," ucap Jenna.


"Pokoknya kamu gak boleh genit. Jodoh kamu cuma saya, gak ada yang lain. Awas saja kalo kamu berani genit genit," ucap Zayn.


"Dih, kepedean. Emang saya mau sama om?" Tanya Jenna.


"Harus mau. Kalo kamu maksa gak mau, ya gampang tinggal kasih tahu papi kamu soal kita. One night love in club," bisik Zayn diakhir ucapannya.


Jenna menghela nafasnya. Ia kesal bukan main saat Zayn membahas kejadian mengerikan itu. Padahal Jenna tidak memiliki niat apapun nanti di restoran. Ia hanya ikut karena perintah dari papinya. Sedangkan Zayn, pria itu selalu saja posesif padanya. Padahal kan mereka bukan sepasang kekasih. Lagi pun Jenna tidak pernah kepikiran untuk mencintai pria lain lagi.


Memangnya ada yang mau dengan wanita yang sudah tidak perawan? Kan tidak ada.


Jenna memilih diam setelah Zayn mengatakan itu. Moodnya tiba tiba menurun begitu saja. Satu hal yang selalu membuat Jenna tidak mood adalah membahas masa lalu. Moodnya akan hancur seketika.


Sedangkan Zayn terus menatap ke arah Jenna. Ia berharap wanita itu kembali berbicara namun sudah beberapa menit berlalu wanita itu masih diam saja. Ia masih memainkan ponselnya.


Saat Zayn akan merebu ponsel Jenna, tiba tiba mobil berhenti. Ternyata mereka sudah sampai di tempat tujuan. Jenna langsung keluar dari dalam mobil setelah mobil berhenti di depan lobby restoran. Jenna masuk begitu saja ke dalam restoran meninggalkan Zayn. Ia tidak peduli lagi dengan pria itu. Mau salah duduk atau tidak dia nantinya, yang jelas dia masuk saja.


Toh ini restoran milik keluarga Ale.

__ADS_1


Saat masuk, Jenna langsung disambut oleh mama dan papa Ale.


"Loh, Jenna, akhirnya kamu mampir juga," ucap Bila, mama Ale.


"Iya tan, ada kerjaan disini. Gimana kabar om sama tante?" Tanya Jenna


"Om sama tante baik baik aja Jen. Kamu pangling banget sekarang udah jadi bussiness woman," ucap Alen, papa Ale.


"Belum om. Jenna baru juga napak di dunia bisnis belum jalan," ucap Jenna tersenyum.


"Kamu ada pertemuan ya? Soalnya tadi ada yang booking privat room," ucap Bila.


"Atas nama Ghani Levent?" Tanya Jenna.


"Iya, itu klien kamu?" Tanya Alen.


"Iya om. Kalo gitu Jenna masuk dulu ya? Ruangannya disana kan?" Tunjuk Jenna ke arah pintu besar yang ada tak jauh dari depannya.


"Kamu kenal mereka?" Tanya Zayn. Jenna hanya mengangguk sekilas dan tidak bicara lagi. Zayn hanya bisa menghela nafasnya. Ia pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam sana.


Disana ada dua pria yang sedang menunggu mereka. Jenna tidak kenal mereka siapa. Bahkan Jenna tidak tahu, lebih tepatnya tidak mau tahu.


"Akhirnya datang juga tamu special kita," ucap salah satu dari mereka.


Zayn menarik kursi untuk Jenna. Mau tak mau Jenna menerimanya. Akan sangat tidak sopan jika ia tidak menerima kursi itu.


"Apa kabar Zayn?" Tanyanya.


"Baik Gan, lo gimana?" Tanya Zayn.


"Baik dong."

__ADS_1


"Jenn, perkenalkan, dia Ghani Levent dan dia Ryan Andreas. Mereka investor yang akan membantu pembangunan hotel yang akan kita ambil," ucap Zayn memperkenalkan kedua temannya itu.


"Jennaira Adam," ucap Jenna singkat. Ia bahkan tidak mengulurkan tangannya atau pun menyebutkan nama panjangnya.


"Jadi ini yang membuat seorang Zayn Nagendra tertarik? Memang sangat cantik," ucap Ryan.


"Bagaimana jika langsung ke pembahasan inti saja? Setelah selesai kalian bisa melanjutkan pembicaraan kalian," ucap Jenna tegas. Aura seorang bossy terpancar dari nada bicaranya.


"Wah, menarik juga ternyata," ucap Ghani menggoda Zayn. Zayn melayangkan tatapan tajam pada kedua temannya ini. Mereka memang sangat gatal sekali jika melihat wanita cantik di depannya. Mata mereka akan lapar.


Jenna pun memulai pertemuannya. Kedua pria itu bukan sibuk pada apa yang dibahas oleh Jenna, melainkan lebih fokus pada siapa yang berbicara. Sedangkan Zayn, pria itu beberapa kali menendang kaki Ghani dan Ryan. Namun kedua pria itu menghiraukannya.


Empat puluh menit berlalu, Jenna sudah selesai menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Jadi, bagaimana. Apa anda berdua setuju dengan kontraknya?" Tanya Jenna.


"Setuju," ucap Ghani dan Ryan bersamaan.


"Baik, kalau begitu saya membutuhkan tanda tangan persetujuan dari tuan tuan," ucap Jenna. Ia menyodorkan kertas berisi kontrak kerja sama untuk ditanda tangani oleh Ghani dan Ryan. Begitu juga dengan Zayn dan Jenna selaku orang yang akan menjalankan proyek ini.


"Saya rasa pertemuan cukup sampai disini. Tuan Nagendra, jika anda masih ingin berbincang dengan mereka silahkan. Saya akan menunggu diluar ruangan ini, kebetulan saya masih memiliki janji dengan pemilik restoran ini," ucap Jenna


"Kenapa harus terburu buru nona Adam? Bukannya ini pertemuan pertama kita?" Tanya Ryan.


"Saya sengaja terburu buru karena memang ada hal lain yang harus saya urus tuan Ryan. Terimakasih atas kerja samanya, semoga kita tetap menjadi rekan kerja yang baik," ucap Jenna. Wanita itu berdiri dari duduknya. Ia merapatkan kedua tangannya pada perut ratanya dan sedikit membungkukan tubuhnya.


"Permisi," ucap Jenna. Ia sengaja melakukan itu karena tidak mau berjabat tangan dengan mereka. Bukannya jijik, hanya saja mereka pasti sama mesumnya dengan Zayn dan Jenna tidak suka.


Sepeninggal Jenna, Ghani menyenggol bahu Zayn.


"Jadi itu? Hebat juga, sekali tangkep dapet spek bidadari," ucap Ghani. Ryan dan Ghani memang mengetahui kedekatan Zayn dan wanita bernama tengah Adam itu. Dia bukan wanita main main, dalam namanya saja sudah mengembam dua marga. Dan kedua marga itu adalah marga yang sangat dihormati di dunia bisnis.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2