One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
236. Bernasib sama


__ADS_3

yang aku kejar bukan lagi soal cuan di novel ini. yang aku kejar itu jumlah pop harus sampe 1M. Makasih buat yang selalu stay dan nungguin cerita ini.


jadi pembaca yang bijak ya. Boleh berkomentar asal gunakan kata kata yang enak dibaca, dan ketika mengkritik jangan lupa juga memberi saran. Oke?😊🤝


***


Mendekati hari hari menuju pernikahan memang sudah tidak aneh lagi jika banyak kejadian kejadian yang membuat setiap orang tidak habis pikir. Entah itu masalah, celaka atau yang lainnya pasti saja akan dijumpai. Mungkin itu yang disebut ujian mendekati hari pernikahan.


Setiap masalah bahkan sebelum mendekati hari pernikahan pun sudah Jenna rasakan. Rasanya dia masih seperti mimpi bisa berada di titik sekarang. Jika di pikir pikir, dulu dia sangat pesimis jika dia tidak akan mampu melewatinya. Namun spekulasinya salah. Waktu menjawab semuanya.


Terbukti, Jenna masih mampu berdiri di kakinya saat ini. Entah sadar atau tidak, semuanya sudah menjadi skenario jalan kehidupannya. Jenna hanya tokoh dan tuhan adalah sutradaranya. Dia tidak mampu melawan apalagi bernegosiasi dengannya, dia hanya bisa menjalaninya dan terus menjalaninya sampai nafasnya sudah tidak bersama dengan jiwanya lagi.


Tuhan tidak pernah salah dalam memberikan cobaan. Dia tahu bahu mana yang kuat untuk menjalani setiap cobaan yang diberikan olehnya. Dibuktikan dengan keadaan Jenna saat ini. Tuhan menempatkan Jenna pada posisi sekarang bukan hanya karena kebetulan. Semuanya sudah diseeting sedemikian rupa. Air mata dan tawa yang jadi pelengkapnya.


Banyak yang bilang jangan terlalu dalam ketika menghela nafas, seolah beban hidupnya terasa paling berat. Namun sebagian orang tidak tahu, jika menghela nafas dapat membuat keadaan seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya, meskipun masalah belum tentu selesai.


Sejak tadi Jenna terus duduk di pinggir kolam. Kedua tangannya bertumpu di sisi kiri dan kanannya. Matanya sesekali terpejam. Terkadang fokus mengosongkan pikirannya dan hiruk pikuknya kehidupan, tapi entah kenapa dia selalu gagal untuk fokus akhir akhir ini. Mungkin pikirannya terus berkecamuk. Apalagi dia akan menjadi seorang istri besok. Yang artinya tugasnya lebih besar lagi.


Menikah di usia dua puluh tiga tahun tidak pernah terpikirkan oleh Jenna sebelumnya. Sebab yang dia pikirkan hanya tidur, bermain, bekerja dan tidur lagi. Monoton, namun Jenna senang melakukannya. Apalagi tidur.


"Hei," sapa seseorang membuat mata terpejam Jenna jadi terbuka. Jenna tersenyum saat menoleh, melirik ke arah samping dimana orang itu berada. Dia adalah Ale, sahabatnya.


"Kapan lo balik dari Paris?" Tanya Jenna.

__ADS_1


"Kemarin malam. Cuma gue gak langsung kesini, lo tahu Ryan juga kayak Zayn. Gak mudah lepasin gue, padahal jelas jelas gue masih pacar dia, bukan istrinya," ucap Ale.


Jenna tersenyum kecil mendengar ucapan Ale. Jenna selalu menganggap ucapan Ale ini adalah keluh kesahnya. Sebab dulu sebelum dia benar benar mencintai Zayn, dia juga merasakan hal yang sama. Apalagi sifat Zayn dan Ryan sebelas dua belas. Yang artinya sama saja. Hanya berbeda sedikit.


"Gue yakin lo juga akan segera menyandang status nyonya Andreas," ucap Jenna.


"Gak dulu. Gue bukan elo Jenn. Gue gak bisa percaya gitu aja sama Ryan. Apalagi lo tahu Ryan seorang player. Banyak wanita yang udah dia celup. Gue cuma antisipasi aja sejak dini," ucap Ale.


Jenna mengangguk, "Gue paham Le. Lo boleh antisipasi sejak dini, cuma jangan terlalu lama. Bisa bisa lo hamil sebelum nikah."


"Kalo di pikir pikir, dulu kita gadis baik baik ya Jenn. Gak pernah nakal apalagi masuk club. Palingan masuk club juga cuma menghargai pesta temen kita waktu kuliah. Itu pun kita bener bener di specialkan, sebab kita gak diijinin buat minum wine dan sejenisnya," ucap Ale tersenyum kecut.


Memang benar. Jika dipikir pikir, Jenna dan Ale adalah dua gadis baik baik yang tidak pernah memiliki catatan buruk dalam kisah hidupnya. Menyentuh wine dan minuman sejenisnya saja tidak pernah. Apalagi bermain pria. Jenna menang berpacaran saat itu, tapi LDR. Bertemu juga jarang secara langsung bahkan tidak pernah. Sedangkan Ale, gadis itu hanya selalu menelan pahitnya di khianati. Setiap pria yang datang padanya hanya sekedar main main lalu pergi setelah puas. Kadang Ale juga iri dengan Jenna. Tapi setelah melihat ke sisi saat ini, dia tidak iri. Justru malah bersyukur. Setidaknya dia tidak pernah merasakan sakitnya di selingkuhi. Apalagi sampai melihat kekasih kita sedang tidur dengan wanita lain.


"Kita udah gak gadis sebelum waktunya gak sih? Semua karena keegoisan pria yang terobsesi dengan kita. Tapi untungnya, obsesi mereka tidak mengarah pada kekerasan. Lo bisa bayangin, gimana jadinya kalo cowok yang saat ini obses sama kita, kayak obsesi cowok cowok di novel. Mereka sayang pasangan mereka, tapi gak jarang ceweknya juga sakit batin sama fisik gara gara mereka," ucap Ale.


"Kita kayaknya kebanyakan baca novel gak sih? Sampai sampai gue merasa kisah hidup kita hampir kayak jalan cerita novel," ucap Jenna.


"Namanya juga cerita fiktif," ucap Ale.


"Tapi ngomong ngomong, setelah lo menyandang status sebagai nyonya Zayn Nagendra, lo gak bakalan lupain gue kan?" Tanya Ale tiba tiba.


"Bego. Kagak lah, meskipun lo ngeselin tapi lo selalu ada Le," ucap Jenna.

__ADS_1


"Kadang mulut jujur lo itu cukup nyakitin," ucap Ale.


"Drama," rutuk Jenna.


Keduanya tertawa bersama. Memang terkadang setiap perjalanan hidup tidak pernah bisa di prediksi. Jika iya, mungkin kita bisa merubahnya lebih dulu sebelum sebuah kejadian besar terjadi dan merubah hidup kita. Tapi kembali lagi, yang namanya hidup memang ditentukan oleh manusia, tapi tuhan yang menjalankan semuanya.


"Gue berasa mimpi udah mau jadi bini orang aja. Untungnya orang yang nyelup gue jadi suami gue," ucap Jenna.


"Zayn gak mungkin lepas tanggung jawab. Selama ini, gue lihat lihat dia emang seserius itu sama lo Jenn. Sekarang tinggal kalian berdua menjalani hidup kalian nanti. Pokoknya kalo nanti lo disakitin Zayn, lo bilang gue aja. Gue bantu lo buat nyari duda kayak, lo cakep pasti banyak yang mau," ucap Ale.


"Hampir lupa, dulu kita sering halu nikah sama sugar daddy kalo enggak sama duda kaya raya modelan duda duda di novel. Konyol gak sih kalo di inget inget?" Tanya Jenna.


"Konyol banget, udah kayak orang gila aja. Tapi dengan kayak gitu, sadar gak sadar kita seneng gak sih? Halu kita emang ketinggian, tapi seenggaknya kita bahagia dengan halu yang kita ciptakan," ucap Ale.


"Yap, bener banget," ucap Jenna.


Memang tidak ada salahnya berhalusinasi terlalu tinggi. Asal jangan sampai lupa diri. Takutnya jatuhnya akan sakit sekali nantinya.


Tbc.



Jenna yang sedang meratapi nasib🫂🫂

__ADS_1


__ADS_2