
***
"Wow, Jenna cantik banget sih lo," komentar Ale saat Jenna sudah berada di hadapannya. Wanita yang jadi sahabatnya ini memang benar benar terlihat sangat luar biasa malam ini. Dress sexy dan make up tipis serta ramnut pirang asli. Benar benar memukau.
"Ya karena gue cewek Ale. Wajar kalo cantik. Yang gak wajar sih kalo ganteng, jenis kelamin gue kan cewek," ucap Jenna.
Ale terkekeh mendengarnya, "Ya kan ada loh cewek yang ganteng juga."
"Ada tapi bukan gue, oke," ucap Jenna.
Keduanya tertawa bersama. Jenna terlihat seperti melupakan masalah tadi. Padahal sebenarnya dia hanya pura pura melupakannya. Agar dia tidak terlihat menyedihkan di depan orang banyak. Apalagi Eliza akan datang, kita lihat reaksi Zayn. Apa akan terlihat biasa saja atau sebaliknya.
Jenna bukan tidak percaya. Dia hanya kurang percaya saja. Sebab sebelum mendengar ucapan Ivander juga, Jenna sudah sedikit curiga namun sengaja ia tahan agar dia dan Zayn tidak bertengkar. Jenna paling malas dengan pertengkaran. Bukan apa apa, dia adalah orang yang malas berdebat. Sebab jika Jenna sudah marah, mulutnya akan jahat sekali.
Dia hanya mencoba menjaga perasaan Zayn. Meskipun sebenarnya laki laki itu entah melakukan hal yang sama padanya entah tidak. Yang penting Jenna jadi baik saja padanya, itu sudah lebih dari cukup.
Sebenarnya Jenna sudah malas untuk bersikap dewasa dengan Zayn. Sesekali dia ingin childish, tapi sepertinya Zayn tidak akan memberikan sifat itu untuk Jenna. Mengingat Zayn seperti apa, Jenna sudah mundur duluan untuk tidak lagi bersikap manja.
"Ngomong ngomong, lo masih lama disini?" Tanya Ale.
"Enggak, gue harua pulang besok. Empat hari lagi gue married," ucap Jenna.
"WHAT?! ARE YOU KIDDING JENNAI?" Tanya Ale berteriak saking terkejutnya. Ale refleks, begitu juga Jenna. Dia refleks menabok lengan Ale setelah wanita ini berteriak. Untungnya di area sini tidak banyak orang, bayangkan jika banyak. Mungkin Jenna akan malu.
Sementara Zayn dan Ryan hanya tersenyum melihat tingkah para wanitanya. Mereka juga sedang mengobrol santai. Namun Zayn yang tidak cukup santai. Akibat ulah Ivander tadi, hubungannya dengan Jenna sedilit merenggang sesaat. Zayn harus menjelaskannya, mereka tidak boleh lama lama saling berdiam seperti ini.
"Kenapa wajah lo?" Tanya Ryan.
"Ivan ngajak ribut, dia malah provokasi Jenna soal kedekatan gue sama Eliza dulu," ucap Zayn.
__ADS_1
"Come on bro, itu cuma masa lalu. Wajar kalo lo jadiin Eliza sebagai alihan nafsu lo waktu itu. Cuma yang jadi pertanyaan, lo lepas perjaka sama siapa?" Tanya Ryan.
"Jenna," ucap Zayn.
"Nah itu, itu juga kan membuktikan kesetiaan lo. Mending lo cepet cepet selesaikan masalah lo sebelum makin runyam. Cewek soalnya suka ribet kalo udah ada yang menurutnya enggak enak di hati," ucap Ryan. Belajar dari pengalaman, sebab Ale juga sering seperti itu.
"Lo bener, ngomong ngomong lima hari lagi gue nikah," ucap Zayn.
Uhuk.. uhuk...
Ryan terbatuk saat meminum tequila miliknya. Jelas dia batuk sebab dia terkejut mendengar ucapan Zayn. Menikah? Lima hari lagi? What the f*ck, pria ini sangat gerak cepat sekali.
"Gue cuma minta jangan kasih tahu siapa siapa dulu. Biar nanti mereka tahu setelah undangan disebar. Gue harap lo sama cewek lo tutup mulut," ucap Zayn.
"Itu gampang. Gue gak banyak bergaul begitu juga Ale, kayaknya rahasia itu akan tetap aman," ucap Ryan. Zayn hanya mengangguk sekilas. Pria itu pun melangkah mendekat ke arah Jenna. Jenna yang sedang berbicara dengan Ale pun seketika berhenti saat Zayn mendekat dan merangkul pinggangnya.
"Aku benar benar kepanasan sejak berada disini. Semua tatap mata terus menatap ke arah mu," bisiknya.
"Kenapa? Kita akan segera resmi menjadi suami istri. Apalagi tinggal hitungan hari kita akan menikah. Masalah akan mulai berdatangan untuk menghancurkan niat baik kita. Aku harap kamu bisa bertahan dengan masalah masalah itu," ucap Zayn.
Jenna terdiam dan menatap ke arah Zayn tang tengah tersenyum ke arahnya. Pria itu mengecup pelan pipi Jenna.
"Berapa banyak masalah yang datang selama ini? Apa kamu akan menyerah hanya karena omong kosong Ivan? Sudah aku katakan bukan, perjaka ku diambil oleh wanita cantik yang sekarang sedang aku rangkul pinggangnya," ucap Zayn pelan.
"Mas," ucap Jenna.
"No, jangan sekarang. Aku benar benar tidak bisa menahan hasrat ku lagi sayang. Kedua benda kesukaan ku sepertinya sengaja kamu perlihatkan. Padahal itu adalah favorit ku," ucap Zayn yang lagi lagi menyindir Jenna perihal dress yang dipakainya.
Jenna hanya mampu diam. Entah kenapa lidahnya tiba tiba kelu. Apa yang dikatakan oleh Zayn benar adanya. Jenna harus tahan dengan semua masalah yang datang silih berganti. Mereka sudah di tahap ini, seharusnya Jenna belajar dari masalah di masa lalunya. Setiap masalah pasti selalu datang, apalagi mereka akan segera menikah. Banyak angin badai yang akan menenggelamkan kapalnya bersama Zayn.
__ADS_1
"I need time with you," ucap Jenna.
Zayn tersenyum, "Aku akan memberikan jatah kita nanti sayang. Pesta belum selesai."
"Pokoknya sekarang," ucap Jenna.
"Hei, kalian berdua bertingkah seolah tidak ada aku dan Ryan disini," ucap Ale.
"Sstt Ale, ini masalah rumah tangga gue," ucap Jenna.
"Yah, calon pasutri ini memang selalu membuat siapa saja iri. Sudahlah ayo kita duduk, pegal rasanya terus berdiri sejak tadi," ucap Ale.
"Ayo babe," ucap Ryan.
Mereka berempat berjalan bersama menuju ke sebuah meja yang dimana mereka akan duduk disana. Namun saat mereka berbalik, tepat di sana ada Eliza dan Vocky. Eliza langsung berjalan ke arah Zayn dan memegang lengan pria itu.
"Hai tampan, miss me?" Tanya Eliza.
Zayn menatap sinis ke arah Eliza dan langsung melepaskan tangan wanita itu. Rasanya seperti gatal karena ketempelan ulat bulu.
"Sayang, kotor," ucap Zayn mengadu. Pria itu mengarahkan tangannya yang dipegang Eliza tadi. Jenna tersenyum dan mengelap bekas tangan Eliza menggunakan sapu tangan yang ada di saku atas tuxedo Zayn kemudian membuang bekas sapu tangan itu.
"Udah bersih mas, ayo pergi," ucap Jenna.
"Terima kasih sayang," ucap Zayn. Mereka berdua pun berbalik dan berjalan menjauh. Namun Eliza tidak habis akal, dia mengejar keduanya dan menarik tangan Jenna kemudian mengangkat tangannya untuk menampar Jenna. Namun dengan cepat tangan Eliza ditahan seseorang.
Dia adalah Ivander.
"Jangan mengacau di pesta gue. Lo gak di undang kenapa lo datang ha? Gue gak mungkin ngundang benalu yang udah numpang hidup di temen gue," ucap Ivan menatap tajam ke arah Eliza.
__ADS_1
Tbc.