
***
Cukup lama Jenna dan Zayn menghabiskan waktu di warung yang ada di pesisir pantai tadi. Kini mereka beranjak untuk berjalan jalan di sekitaran pantai. Kaki Jenna belum menyentuh air laut, jadi ia akan berjalan jalan disana. Tentunya bersama dengan Zayn, karena pria itu pasti akan terus mengikutinya.
Mereka melepas alas kaki yang mereka gunakan kemudian menentengnya. Jenna juga melipat celananya agar tidak basah begitu juga dengan Zayn.
"Kamu gak takut kulit kamu gosong Jenn?" Tanya Zayn.
"Udah pake sunblok. Santai," ucap Jenna. Zayn hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Mereka berjalan santai di tepian pantai. Kaki mereka sudah basah karena deburan air yang sampai ke kaki mereka.
Pasirnya putih, disini juga bersih. Sepertinya pantai ini dirawat dengan baik oleh pengelolanya. Jenna sangat menikmati hari ini. Ia suka pantai namun jarang sekali bermain ke pantai. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan rebahan dan menonton film.
"Om, nunggu sunset boleh?" Tanya Jenna.
"Boleh," ucap Zayn.
Jenna mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya bersama Zayn. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, sepertinya sunset akan segera tiba.
"Jen, duduk disana. Jangan jalan mulu, nanti pegel kaki kamu," ucap Zayn.
Lagi lagi Jenna hanya mengangguk sebagai jawabannya. Mereka berdua duduk diatas pasir putih. Menunggu sunset yang sebentar lagi akan tiba.
"Kalo kamu mau, kamu bisa cerita sama saya. Dari pada kamu pendam sendiri. Siapa tahu dengan cerita sedikit demi sedikit masalah kamu selesai," ucap Zayn.
"Cerita apa emangnya. Jenna gak punya cerita, lagian kan kerjaan Jenna tiap harinya cuma sebatas kantor sama rumah," ucap Jenna.
"Gak usah pura pura Jenn. Jatohnya kamu kayak siksa diri kamu sendiri. Kalo gak mau cerita sama saya juga gak papa, saya gak maksa," ucap Zayn.
Jenna menghela nafasnya. Sebenarnya banyak sekali yang ingin diungkapkan oleh Jenna. Hatinya ingin mengeluarkan semua unek unek dan kesakitan yang dirasakan namun sayangnya mulut Jenna seolah terkunci dan tidak bisa mengatakan semuanya.
Cukup berat, namun mau bagaimana lagi. Hubungan tiga tahun lamanya bukanlah waktu yang sebentar. Bahkan selama itu Jenna sudah memberikan semua kepercayaan, hati, dan perasaanya untuk Mario. Namun sayang seribu sayang, ibarat air susu dibalas air tuba.
__ADS_1
Jenna menundukan kepalanya. Kedua kakinya ditekuk. Ia menyembunyikan air matanya yang keluar. Jenna heran, kenapa di depan Zayn dia bisa terlihat selemah ini?
Zayn tersenyum kecil, tangannya terulur untuk mengelus pelan punggung Jenna. Lambat laun, telinga tajam Zayn mendengar isak tangis dari mulut Jenna. Zayn pun merangkulnya dan membawa Jenna ke dalam pelukannya.
Dan untuk kesekian kalianya, Jenna kembali menangis di depan Zayn.
Jenna memang pandai menyembunyikan kesedihannya di depan orang lain. Namun entah kenapa di depan Zayn dia sangat melow sekali.
"Sakit ya?" Ucap Zayn. Jenna tidak menjawabnya. Wanita itu justru semakin erat memeluk tubuh Zayn.
"Kalo aja kamu gak larang saya buat pukulin dia, mungkin saat ini dia sudah berdiam diri di rumah sakit," ucap Zayn. Memang beberapa waktu yang lalu Zayn sempat bilang ingin membuat Mario babak belur namun Jenna menahannya. Bagaimana pun tidak perlu bertindak seperti itu.
Selingkuh adalah masalah Mario, jadi biarkan dia yang menanggungnya sendiri. Meskipun Jenna sakit hati, Jenna tidak mau siapa pun ikut campur dalam masalahnya. Terlebih dia dan Mario sudah lama putus.
"Jenna larang om karena Jenna gak mau orang yang Jenna kenal berurusan dengan dia lagi. Jenna juga kan udah gak hubungan sama dia lagi," ucap Jenna. Ia sudah menghapus air matanya dan tangisnya sudah sedikit mereda.
"Kamu peduli sama saya?" Tanya Zayn.
Demi apapun rasanya Zayn ingin sekali menjitak kepala Jenna saat ini. Tadi wanita ini menangis namun sekarang malah bertingkah menyebalkan. Zayn memutar bola matanya malas. Ia pun melepaskan tangaannya yang sedang memeluk Jenna begitu saja. Entah kenapa rasanya kesal sekali mendengar ucapan Jenna barusan.
"Kok dilepas pelukannya? Jenna jomblo om, lagi butuh pelukan untuk menghangatkan perasaan Jenna yang sedang galau," ucap Jenna.
"Abisnya kamu ngeselin banget Jenn. Untung saya suka sama kamu," ucap Zayn.
"Tapi Jenna gak suka sama om," ucap Jenna dengan polosnya.
"Gak peduli, kalo saya udah bosen ngejar ngejar kamu ya saya tinggal beberin semuanya sama papi kamu. Biar kita nikah," ucap Zayn.
"Kenapa gak sekarang aja cepu-in ke papi? Kenapa nunggu nanti," ucap Jenna.
Zayn menatap Jenna dalam, "Karena saya mau dapetin kamu dengan cara saya sendiri. Kesannya kalo saya paksa kamu sekarang, bukannya sakit hati dan trauma kamu sembuh yang ada malah tambah sakit karena dipaksa menikah."
__ADS_1
Hati Jenna terenyuh mendengar ucapan Zayn. Dibalik ucapannya ini tersimpan makna tersirat yang Jenna pahami. Zayn peduli padanya, buktinya dia hanya bilang jika dia akan memaksa Jenna untuk menikah dengannya namun tidak pernah melakukan aksinya. Zayn hanya banyak omong tentang pernikahan namun bukan karena tidak serius, melainkan Zayn ingin Jenna sembuh dari traumanya. Juga membuktikan jika tidak semua pria sama seperti itu.
Jenna tidak menjawab ucapan Zayn. Ia justru lebih fokus untuk melihat sunset di depannya. Namun hatinya cukup menghangat mendengar ucapan Zayn tadi.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sunset yang ditunggu tunggu pun tiba. Jenna dengan heboh langsung mempotret sunset itu dengan posisi berdiri sedangkan Zayn masih duduk. Diam diam ia mengambil foto Jenna.
Saat Jenna tengah asik mengambil gambar sunset, Zayn memanggil seorang fotograper pantai. Ia memintanya untuk mengambilkan fotonya dengan Jenna melalui ponselnya.
"Jenn, sini," ucap Zayn. Jenna yang sedang sibuk memoto pun terhenti dan mendekat ke arah Zayn. Pria itu memegang tangan Jenna.
"Lihat ke depan, sunsetnya cantik kan?" Tanya Zayn.
"Iya cantik banget," ucap Jenna.
"Cantik kayak kamu Jenn," bisik Zayn. Tubuh Jenna merinding mendengar bisikan Zayn. Wanita itu melepaskan tangannya yang digandeng Zayn dan kembali mengambil gambar sunset. Sedangkan Zayn pergi ke tukang foto tadi.
"Udah pak?" Tanya Zayn.
"Sudah, dilihat saja hasilnya," ucapnya.
Zayn pun melihatnya. Ternyata hasilnya sangat bagus. Banyak juga. Ia mengambil uang berwarna merah satu lembar dan memberikannya pada tukang foto itu.
"Gak kebanyakan ini mas? Kan fotonya juga pake ponsel mas," ucapnya.
"Enggak. Itu buat bapak. Ambil aja," ucap Zayn.
"Makasih mas, makasih banyak. Semoga mas sama mbaknya cepet cepet nikah ya," ucapnya.
"Iya mas, terimakasih doanya," ucap Zayn. Pria itu pun kembali pada Jenna. Jenna sendiri sudah kelelahan mengambil foto dan meminta pulang.
__ADS_1
Tbc.