
absen duluuuš¤³
***
Jenna menggeliatkan tubuhnya. Ia tertidur sangat nyenyak sekali malam tadi. Rasanya sangat nikmat. Tidur nyenyak dan bangun pagi dengan keadaan tubuh yang segar bugar. Namun tunggu dulu, sekarang jam berapa?
Jenna bangun dari rebahannya dan melirik ke sekitarnya. Ia mencari jam dinding namun ia tidak menemukannya. Jenna melirik ke arah tirai, tirai itu masih tertutup berarti ini masih malam kan? Jenna pun kembali menjatuhkan kepalanya ke atas bantal namun belum juga kepalanya bersentuhan dengan bantal, tangan kekar Zayn lebih dulu menahan kepala itu.
"Ini sudah jam sembilan pagi Jennaira, kamu akan tidur berapa lama lagi?" Tanya Zayn.
"Jam sembilan?" Gumam Jenna.
"Iya," ucap Zayn.
Jenna terdiam sebentar, jam sembilan?
"APA? JAM SEMBILAN?!" Pekik Jenna. Wanita itu pun segera bangun dan turun dari atas kasur tanpa memperhatikan apapun sehingga kakinya terlilit selimut tebal dan ia pun jatuh dengan cukup keras.
"Kamu bisa hati hati tidak sih?! Grasak grusuk sekali," ucap Zayn. Pria itu tidak sempat menahan tubuh Jenna karena gerakan jatuhnya terlalu cepat.
Jenna mengaduh kesakitan. Zayn pun membantu wanita itu untuk duduk diatas kasurnya lagi, sementara itu Zayn memeriksa kaki Jenna.
"Aaaakh, sakit om," ucap Jenna. Zayn membali menekan pergelangan kaki milik Jenna dan wanita itu kembali mengaduh kesakitan.
"Kamu keseleo," ucap Zayn. Pria itu menggendong tubuh Jenna ke kamar mandi. Dia meminta Jenna untuk gosok gigi dan cuci muka saja dulu. Jenna pun menurut tanpa banyak membantah.
Setelah selesai di kamar mandi, Zayn kembali menggendong Jenna pergi ke unit apartement milik wanita itu. Zayn meminta Jenna untuk segera berganti baju karena Zayn akan mengantar wanita itu ke klinik karena pergelangan kakinya terlihat membengkak.
Jenna lagi lagi hanya menurut. Ia tidak bisa berjalan akibat ulahnya sendiri. Beruntung ada Zayn yang membantunya, jika tidak mungkin ia hanya bisa menghubungi Ale.
Sementara itu di kantor, Adam sejak tadi mondar mandir. Ia cemas karena sejak pagi ia belum mendapatkan kabar dari anak semata wayangnya. Tadi ia sudah ke apartement anak itu namun Adam tidak menemukannya bahkan nomornya juga tidak bisa dihubungi.
Adam belum memberitahu istrinya mengenai anaknya yang tidak ada kabar. Ia takut jika nantinya istrinya ikutan cemas. Adam masih mencoba menghubungi anaknya namun belum ada jawaban apa apa. Sahabat dari anaknya juga, Ale tidak tahu kemana Jenna.
Ditengah kebingungannya, tiba tiba ada panggilan masuk dari nomor Zayn. Adam langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Iya Zayn, ada apa?" Tanya Adam.
"Ini Jenna papi. Jenna minjem ponsel om Zayn," ucap Jenna.
"Jenna? Jennaira anak papi?" Tanya Adam.
"Iya papi. Anak siapa lagi, masa iya anak mang Ucup," ucap Jenna.
"Sembarangan! Kamu kemana sih dari kemarin papi hubungin gak bisa bisa. Pagi pagi papi ke apart kamu gak ada," ucap Adam.
"Jenna baik baik aja pi, cuma tadi pagi Jenna keseleo. Jatoh dari atas kasur, keserimpet selimut. Terus ditolongin om Zayn," ucap Jenna.
"Zayn? Kenapa kamu bisa sama dia?" Tanya Adam.
"Bisa pi. Udah ya nanti Jenna hubungin lagi, kayaknya Jenna juga pulang ke rumah. Kaki Jenna sakit pi," adu Jenna.
"Kamu sih, ya udah kamu pulang sekarang ke rumah. Papi juga pulang sekarang ke rumah. Hati hati di jalannya," ucap Adam.
"Iya pi."
Sambungan telepon pun terputus. Adam bernafas lega karena putrinya baik baik saja meskipun tadi dia bilang kakinya keselo. Adam pun bergegas untuk pulang. Biarlah pekerjaannya di handel asistennya saja.
"Sakit," gumam Jenna.
"Tahan, salah sendiri kamu gak hati hati," ucap Zayn.
Jenna masih terus di urut oleh dokter itu. Dokter berkata keselonya cukup parah karena tulang pergelangan kaki Jenna sedikit bergeser.
Tak berselang lama, dokter pun selesai mengurut kaki Jenna. Kaki Jenna di lilit kain khusus berwarna cream. Setelah selesai Zayn kembali menggendong wanita itu dan masuk ke dalam mobilnya.
"Lain kali hati hati. Kamu jangan grasak grusuk kayak tadi. Berbahaya," ucap Zayn.
"Iya om. Berhenti ngomelnya napa? Jenna udah gede, tahu kok mana yang baik mana yang enggak. Jadi stop ya jangan bicara terus, nanti di rumah Jenna pasti kenal omel mami," ucap Jenna.
"Saya ngomel karena saya sayang sama kamu. Saya gak mau kamu kesakitan kayak tadi, ingat kamu kekasih saya," ucap Zayn.
__ADS_1
Lagi lagi kekasih. Hm, Jenna sudah bosan mendengarnya. Tapi biarlah, biarkan laki laki ini mengatakan apapun yang ingin ia katakan.
Zayn menghela nafasnya dan kembali fokus pada jalanan. Ia harus mengantarkan wanita ini ke rumah orang tuanya.
***
Sesuai dugaan Jenna tadi, mami Jeni sedang menceramahinya sejak ia sampai ke rumah. Jenna hanya bisa diam saja mendengarkan ceramah maminya. Bahkan papinya juga tidak bisa menyela karena Jeni memintanya diam.
"Mi, udah dong. Jenna lagi sakit malah nambah sakit, ceramahnya nanti lagi. Malu ada om Zayn," ucap Jenna pelan.
"Habisnya kamu ngeselin Jen, kamu itu udah besar. Bisa gak sih kamu jaga diri kamu? Kalo kayak gini terus kamu gak mami ijinin tinggal di apart sendirian," ancam Jeni.
"Mami, udah ya. Kasihan loh Jenna-nya dari tadi di marahin sama kamu. Nanti biar papi yang ngomong ke Jenna biar anak ini kalem dan enggak bar bar terus," ucap Adam.
"Iya deh. Itu anak papi juga," ucap Jeni.
"Oh, jadi Jenna cuma anaknya papi? Mami-nya Jenna yang asli siapa?" Tanya Jenna.
Zayn yang sejak tadi diam ingin sekali menjitak kepala Jenna. Apa wanita ini benar benar polos?
"Heh, sembarangan! Mami ya mami kamu Jenna," ucap Jeni.
"Sudah mi sudah. Anak kita kan emang kayak gini," ucap Adam.
Jeni menghela nafasnya dan duduk. Tatapannya kemudian beralih pada Zayn yang sejak tadi diam.
"Kamu bukannya anak teman mas Adam ya?" Tanya Jeni.
"Iya tante," ucap Zayn.
"Kenapa kamu bisa sama Jenna?" Tanya Jeni.
Jenna melirik ke arah Zayn. Ia mengkode pada pria itu agar tidak mengatakan hal yang tidak tidak di depan kedua orang tuanya. Bisa gawat jika Zayn mengatakan yang tidak tidak pada mereka berdua.
Zayn tersenyum dan menggenggam tangan Jenna. "Kami berdua berpacaran," ucap Zayn tersenyum.
__ADS_1
Mati sudah riwayat Jenna saat ini juga. Melihat maminya yang terlihat sangat terkejut itu, Jenna sudah bisa menyimpulkannya. Setelah ini pasti akan ada sesi wawancara tanya jawab antara Jenna dan maminya, Jeni.
Tbc.