One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
174. Kekhawatiran


__ADS_3

***


Acara tunangan pun telah selesai, semua tamu undangan sudah pergi meninggalkan tempat acara. Begitu juga dengan Jenna dan Zayn, kedua manusia itu sudah berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan pulang ke apartement. Sebenarnya, baik Lita atau pun Jeni meminta mereka untuk lebih sering tinggal di rumah masing masing, bukan di apartement. Namun Zayn hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Menurutnya lebih baik tinggal tidak serumah dengan orang tua, bukan karena dia sudah mandiri dan memiliki apapun, tetapi Zayn melakukan ini agar menjadi lebih dekat dengan Jenna. Selain itu juga, Zayn memang sengaja karena tidak mau berjauhan dengan Jenna.


Terhitung, pernikahan mereka tinggal satu bulan lagi. Namun mereka masih terlihat santai, sebab yang mengurusnya adalah kedua orang tua mereka. Mereka hanya tinggal menerima beresnya saja.


Sejak masuk ke dalam mobil, Jenna terus terdiam. Zayn hanya menganggapnya jika wanitanya kelelahan. Jadi dia tidak banyak bertanya lagi. Padahal sebenarnya Jenna sedang khawatir. Acara tunangannya memang berjalan lancar tanpa ada hambatan. Semua karena sudah dipersiapkan dengan matang. Namun yang Jenna khawatirkan ke depannya.


Meskipun belum tentu terjadi, tetapi hal itu terus memenuhi pikirannya. Jenna khawatir tentang hubungannya dengan Zayn. Eliza dan Mario masih menjadi bayang bayangnya. Apalagi tadi saat dia dan Zayn akan masuk mobil, Mario datang. Namun dengan cepat bodyguard Zayn menahannya. Alhasil, Mario tidak bisa mendekat ke arah Jenna.


Eliza memang tidak datang hari ini, tetapi tidak menutup kemungkinan wanita itu akan datang dikemudian hari. Mengingat sebelum acara ini dilangsungkan, Eliza selalu datang mengganggu. Jenna menghela nafasnya, pemikiran seperti ini selalu membuatnya khawatir sekali. Seharusnya tunangannya dilakukan secara tertutup, tetapi mami Jeni dan mama Lita selalu menginginkan hal yang tidak sederhana. Jenna takut jika hubungannya dengan Zayn tidak akan berjalan mulus sampai pernikahan. Selain Eliza dan Mario, ada Hendri dan keluarganya yang selalu mengganggu. Selain mereka semua, mungkin masih banyak lagi orang diluaran sana yang sama seperti Eliza, Mario, Hendri dan keluarganya.


"Sayang," panggil Zayn. Jenna menolehkan kepalanya ke arah Zayn.


"Kenapa?" Tanya Jenna.


"Kamu yang kenapa, dari tadi terus melamun. Ada yang mengganggu pikiran kamu?" Tanya Zayn.


Jenna terdiam, memang iya ada yang mengganggu pikirannya. Namun ia tidak mau memberitahu Zayn soal ini. Biarlah dia yang menanggungnya sendiri.


"Gak ada mas. Aku cuma capek aja," ucap Jenna.


"Beneran? Cerita aja, aku siap dengerin. Apapun keluhan kamu. Sekarang kamu tunangan aku, selangkah lagi kamu akan jadi istri sah aku. Sudah seharusnya aku jadi pendengar dan jadi tempat sandaran untuk kamu," ucap Zayn.


Rich hanya diam saja. Pria itu fokus menyetir. Bertindak seolah olah tidak terjadi apa apa.

__ADS_1


"Iya mas. Nanti aku cerita, aku capek banget pengen tidur. Kalo udah sampe kamu bangunin aku," ucap Jenna.


Zayn tersenyum lalu menarik tubuh Jenna dan memeluknya. "Tidurlah."


Jenna mengangguk dan memejamkan matanya. Rasa lelah ini selalu membuatnya cepat tertidur entah kenapa. Apapun masalah yang Jenna hadapi, selain membereskannya, Jenna pasti akan memilih tidur dulu. Selain untuk merefresh otaknya dia juga melakukan itu karena memang seluruh anggota tubuhnya memerlukan istirahat.


Beberapa menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi pun sampai di depan lobby apartement. Jenna sudah tertidur lelap.


"Rich, kau bawa pulang saja mobil ini. Tidak perlu pesan taxi," ucap Zayn.


"Baik tuan."


Zayn melirik ke arah Jenna yang tidak terganggu sama sekali dengan hal itu. Pria itu pun keluar lebih dulu. Dia membuka pintu mobil di samping Jenna lalu mengeluarkan wanita itu perlahan. Tadi memang Jenna meminta untuk dibangunkan setelah sampai, namun Zayn tak sampai hati untuk melakukannya. Bagaimana pun dia tidak mau mengganggu ketenangan tidur Jenna.


Zayn masuk ke dalam apartementnya setelah pintu dibukakan oleh Rich. Rich pergi dan Zayn masuk membawa Jenna. Dia langsung menuju ke kamar utama.


Perlahan, Zayn menidurkan Jenna ke atas kasur. Seharusnya Jenna mandi dulu dan bersih bersih, namun Zayn tidak tega melakukannya.


"Sleep well my fiance," bisik Zayn sembari mengecup pelan bibir manis itu.


Pria itu juga ikut tidur disana. Hanya melepaskan jas, tuxedo dan kemejanya. Zayn memang suka tidur tanpa atasan, alias shirtless. Ia menarik tubuh Jenna ke dalam pelukannya lalu tertidur. Masih sore sebenarnya, namun karena acara mereka tadi, mereka jadi kelelahan dan memilih tidur cepat.


***


Malam harinya sekitar pukul delapan, Jenna terbangun lebih dulu dari pada Zayn. Wanita itu menggeliat karena Zayn tidak memeluknya. Tumben sekali. Namun meskipun tidak memeluk, tetapi kaki pria itu melilit kakinya.

__ADS_1


Dengan pelan Jenna melepaskan kedua kakinya dari lilitan kaki Zayn. Dan... berhasil. Dia langsung beranjak dari sana menuju ke kamar mandi. Tubuhnya pegal sekali, sepertinya dia harus mandi agar tubuhnya lebih segar.


Jenna ingin berendam, tetapi sudah malam. Takutnya dia malah masuk angin. Besok papinya masih memberinya libur kerja, Jenna bersyukur sekali. Setidaknya dia bisa tidur seharian lagi. Sesuatu hal yang sudah jarang Jenna dapatkan sejak beberapa tahun terakhir.


Jenna berdiri dibawah guyuran air shower. Air itu membasahi tubuh Jenna. Sejenak Jenna memejamkan matanya, menikmati gemerincik air yang turun ke tubuhnya. Ia tidak keramas, ia menggunakan penutup kepala agar rambutnya tidak basah.


Saat sedang asik menikmati hangatnya air shower, tiba tiba sebuah tangan memeluknya. Jenna terlonjak kaget kemudian hendak berbalik namun ditahan.


"Tubuh mu sangat indah," bisik Zayn.


Bulu kunduk Jenna langsung berdiri setelah mendapatkan serangan dari bisikan iblis itu. Namun kenapa Zayn bisa masuk? Dia ingat jika dia mengunci pintunya.


"Apartement ini memiliki finger print sayang, kita berada di apartement berbeda. Meskipun tanpa kunci aku bisa masuk. Karena semua pintu disini menggunakan akses finger print," ucap Zayn.


"Lepas mas, aku masih mandi," ucap Jenna. Hanya itu yang keluar dari dalam mulutnya.


"Aku merindukan ini sayang," ucap Zayn. Tangannya merembat naik ke atas dan menangkup satu squishy Jenna lalu merem*snya pelan.


"Mm-mas-ssh," rintih Jenna saat miliknya di tangkup oleh Zayn.


Zayn tersenyum miring mendengarnya. Dia hanya perlu memancing Jenna dengan sentuhan sentuhan itu.


"Sudah lama kita tidak melakukannya. Aku benar benar merindukannya. Merindukan kamu yang tersiksa oleh kenikmatan dibawah ku, sayang."


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2