
***
Ale tersedak makanan yang sedang dikunyahnya saat mendengar panggilan seseorang ditambah orang itu merangkul dan mengecup pelan kepala Jenna. Jenna sendiri langsung mematung mendapat perlakuan seperti itu.
Itu adalah Zayn.
Pria itu baru saja sampai setelah meetingnya bersama dengan perusahaan Hendri. Pria itu terpaksa membatalkan acara makan siangnya dengan Jenna saat ia tahu jika klien baru yang dimaksud adalah Hendri. Zayn tahu betul siapa Hendri ini. Dia yang menyebarkan fotonya dan Jenna kemarin. Bahkan semalam Zayn sudah menutup perusahaan stasiun tv yang menyebarkan berita itu.
"Ini teman kamu?" Tanya Zayn. Ia mengambil duduk di sebelah Jenna.
"Iya. Namanya Ale. Le, kenalin dia Zayn Nagendra," ucap Jenna.
Zayn tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Ale masih membuka mulutnya karena terkejut. Ternyata seorang Zayn lebih tampan aslinya dibanding di foto.
"Le, iler lo tuh turun," ucap Jenna menahan senyumnya.
"Hah? Masa iya," ucap Ale terkejut. Ia pun mengambil tissue dan mengelap bibirnya. Padahal jelas jelas disana tidak ada air liurnya. Jenna hanya bercanda pada gadis itu.
"Kok makannya dikit? Gak mau nambah lagi?" Tanya Zayn.
"Enggak. Cukup ini aja," ucap Jenna.
"Yakin? Atau nanti mau beli cemilan buat di kantor?" Tanya Zayn.
"Gak tahu, lihat nanti aja. Om udah makan?" Tanya Jenna.
"Sudah." Padahal kenyataannya belum.
"Ya udah, terus ngapain kesini kalo udah makan?" Tanya Jenna. Ale sendiri hanya diam saja dan memakan makanannya sembari melihat keuwuan di depannya ini.
"Kangen sama kamu," ucap Zayn. Pria itu menyelipkan tangannya pada pinggang Jenna.
"Dih, aneh," ucap Jenna.
__ADS_1
"Habis ini kamu ke kantor aku, ada beberapa hal yang harus kita bahas soal proyek hotel," ucap Zayn.
"Bukannya pembangunannya udah berlangsung ya? Kok masih ada yang perlu di bahas sih?" Tanya Jenna.
"Dana untuk materialnya melonjak tinggi. Itu yang harus kita cari jalan keluarnya. Makanya itu papi kamu juga minta buat kita rundingin soal ini. Tadi om Adam bilang nomor kamu aktif tapi gak diangkat pas dia nelpon," ucap Zayn.
"Iyakah?" Jenna langsung mengecek ponselnya. Bodoh, ternyata ponsel miliknya di silent. Pantas saja sejak tadi ia tidak mendengar notif apapun. Panggilan dari papinya cukup banyak. Dan ternyata benar yang diucapkan oleh Zayn. Papinya meminta hal yang sama seperti apa yang diminta Zayn barusan.
"Waktu makan siang sudah habis sayang," ucap Zayn.
"Iya."
"Le, gue pergi duluan gak papa? Gue udah ditunggu soalnya di kantor," ucap Jenna.
"Santuy. Tapi lo masih hutang cerita. Next time kita ketemu lagi," ucap Ale.
"Oke. Gue duluan ya, bye," ucap Jenna.
"Permisi," ucap Zayn. Kedua sejoli itu pun pergi dari hadapan Ale. Ale hanya mengusap pelan dadanya. Jenna sangat beruntung sekali. Putus dari manusia dengan wajah topeng pulu pulu langsung dapet cowok spek dewa. Ganteng pol.
***
"Kalian tidak berguna. Semuanya tidak becus dalam bekerja!" Teriaknya pada bawahannya. Mereka semua sudah jadi sasaran amukan Hendri sejak tadi. Bahkan ada beberapa dari mereka yang dilempari map hingga terkena sampai wajahnya.
"Saya mempekerjakan kalian untuk bekerja. Kalian hanya memakan gaji buta. Apa kalian tidak malu hah?!" Teriak Hendri.
"Jika sampai kalian melakukan kesalahan lagi, siap siap untuk mendapatkan pemecatan dari saya. Keluar!!!" Teriak Hendri. Mereka semua pun keluar dari dalam ruangan Hendri.
Total ada tiga orang yang hari ini ikut meeting. Tapi tak satu pun dari mereka yang berhasil menggaet klien baru atau pun investor. Untuk itu ia marah besar pada bawahannya.
"Bagaimana ini, aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap dia yang semena mena seperti ini," ucap salah satu karyawan Hendri.
"Bukan hanya kau, tapi aku juga. Aku bertahan bukan karena ingin bekerja, tapi karena tuntutan ekonomi. Jika saja ada pekerjaan lain aku pasti akan memilih pekerjaan baru dari pada pekerjaan ini," ucap temannya.
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi, kita hanya bawahan disini. Selain disuruh suruh terus kita juga akan jadi sasaran amukan atasan jika semuanya tidak sesuai," ucap temannya.
"Ya kita hanya perlu meratapi nasib sembari terus bertahan sampai ada titik terang. Semoga saja kita segera mendapatkan seorang bos yang layak," ucapnya.
Mereka hanya bisa bersabar. Selain itu sepertinya tidak ada lagi. Mereka harus tetap bekerja untuk kebutuhan mereka masing masing. Jika saja mereka mementingkan ego, sudah pasti mereka tidak akan bertahan lama di pekerjaan yang memuakan ini.
"Aku akan membuat perhitungan pada kalian. Kalian harus membayar mahal kerugian yang aku dapatkan hari ini. Awas saja kalian berdua," ucap Hendri.
***
Jenna akhirnya sampai di kantor Zayn. Ia dan Zayn langsung berjalan masuk ke dalam ruangan Zayn. Beberapa karyawan menundukan kepalanya memberi hormat, namun Zayn sama sekali tidak bereaksi apa apa. Pria itu hanya berekspresi datar dengan tatapan lurus ke depan.
"Itu bawahan om nyapa loh, kok gak di sapa balik sih? Kasihan loh," ucap Jenna.
"Buat apa? Itu hanya pencitraan saja," ucap Zayn. Mereka berdua sudah berada di dalam lift.
"Gak boleh gitu lah om, bagaimana pun om harus ramah sama mereka. Mereka kan yang bantu pekerjaan om selama ini," ucap Jenna.
"Malas. Lagian mereka hanya ingin perhatian ku saja," ucap Zayn. Pintu lift terbuka, Zayn dan Jenna keluar dari sana.
Di depan ruangan Zayn, berdiri seorang wanita yang sepertinya pekerja disana. Namun penampilannya sangat seksi sekali.
"Tuan, maaf. Saya memerlukan tanda tangan anda," ucapnya. Tatapannya penuh damba menatap ke arah Zayn sedangkan ke arah Jenna, wanita itu justru melayangkan tatapan tajam.
Jenna hanya acuh dan seolah tidak melihatnya. Sedangkan Zayn sendiri langsung menerima map itu dan dengan cepat menandatanganinya.
"Terimakasih tuan. Em, jika anda bosan dengan wanita ini anda bisa menghubungi saya. Nama saya Lisa," ucapnya malu malu.
"Jangan pernah masuk dan datang lagi ke ruangan ku. Titipkan berkas itu pada asisten ku saja. Dan lagi, kau pikir aku pria seperti apa sampai kau menawarkan diri mu yang murahan ini? Perlu kau ketahui aku hanya menginginkan wanita di sebelah ku. Dan ya, segera ajukan surat pengunduran diri. Aku menunggunya besok," ucap Zayn. Pria itu menarik lembut pinggang Jenna untuk membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"Mampus," ucap Jenna.
Wanita itu hanya mendengus pelan dan pergi dari sana dengan perasaan kesal juga marah.
__ADS_1
Tbc.