
***
Sepeninggal Ale dan Ryan tadi, Jenna masih saja belum berbicara dengan Zayn. Padahal pria itu terus mengajaknya berbicara namun entah mengapa rasanya Jenna tidak mau membalas ucapannya. Mungkin karena masih kesal dengan pria itu.
Bagaimana tidak kesal, Zayn mengatakan Ryan selalu menjadikan wanita sebagai mainannya. Berarti Zayn juga seperti itu dong? Zayn dan Ryan adalah teman yang cukup dekat. Jika iya Zayn seperti itu, entah lah Jenna harus bersikap seperti apa. Jenna bingung karena ia sudah menyukai Zayn sedangkan Zayn menunjukan sifat aslinya, mungkin.
Jenna berusaha untuk tidak goyah. Ia akan tetap mendiamkan Zayn sebagai hukuman untuk pria ini. Entah dia salah atau tidak, Jenna tidak peduli. Yang jelas Zayn juga pasti pernah menjadikan wanita sebagai mainan. Jenna heran, kenapa masih ada laki laki yang seperti itu di dunia ini? Padahal kan mereka keluar dari lubang wanita, di urus dan dibesarkan oleh wanita. Lalu kenapa masih berani menyakiti wanita?
"Sayang, jangan gitu dong. Jangan diemin aku, aku gak suka di diemin," ucap Zayn.
"Sayang," ucap Zayn lagi. Namun Jenna masih dengan mode diamnya. Wanita ini benar benar sangat menguji kesabaran Zayn. Jika saja tangannya tidak terluka sudah pasti Zayn akan langsung menerkamnya saat ini juga, tidak peduli dengan keluarga wanita ini yang ada di ruang lantai satu.
Jenna bertingkah seolah tidak ada Zayn di dekatnya. Wanita itu menyimpan sisa kuenya di meja sebelah ranjang dan mengambil air minum. Setelah minum, wanita itu merebahkan tubuhnya. Cukup kesusahan namun ia masih bisa sendiri. Jenna hendak tidur. Memang niatnya itu tidur agar kondisinya semakin fit. Setelah tertembak kemarin entah kenapa Jenna selalu gampang cepat merasa lelah. Padahal ia sudah menerima transfusi darah.
Sedangkan Zayn, pria itu tidak kehabisan akal. Dia mengambil posisi tidur disamping Jenna setelah menutup pintu. Untungnya keluarga Jenna sangat pengertian padanya, mereka tidak akan masuk ketika Jenna sedang bersama dengan Zayn. Zayn bahkan sudah berniat akan libur kerja selama Jenna sakit. Karena ia yang akan merawat Jenna.
__ADS_1
Zayn merebahkan tubuhnya disamping Jenna. Namun sedetik kemudian muncul ide jenius di otaknya. Tak menunggu lama lagi Zayn pun mendaratkan kecupan cukup lama di bibir Jenna. Sedangkan Jenna, wanita itu tentu saja melotot seketika saat Zayn mengecupnya. Bagaimana jika oma atau opanya masuk?! Sudah pasti mereka akan segera dinikahkan.
Jenna berusaha mendorong tubuh Zayn menggunkan tangan kanannya yang tidak sakit. Ia mendorongnya dengan sekuat tenaganya namun nihil. Pria itu tidak bergerak sama sekali. Jenna sudah memukulinya pun masih sama, sama akhirnya ia mencubit cukup keras dada bidang pria itu. Dan ciuman pun terlepas.
"Sakit sayang, kasar," ucap Zayn memberengut.
"Yang, kamu beneran gak mau bicara sama aku?" Tanya Zayn namun Jenna masih tetap dalam mode diamnya. Wanita itu masih enggan mengeluarkan suaranya.
"Jahat banget kamu yang, padahal aku gak kayak gitu sama kamu. Diantara aku sama Ryan sama Ghani, cuma aku yang enggak pernah main wanita. Ryan posisi kedua karena dia masih memiliki sedikit kesadaran berbeda dengan Ghani yang setiap harinya harus bersama dengan seorang wanita yang berbeda. Serius sayang, aku gak gitu," ucap Zayn. Pria itu berbicara setelah ia merebahkan tubuhnya disamping Jenna. Memeluk wanita itu dan bermain main garis abstrak di perut Jenna.
Jenna tetap mode diam. Justru ia malah memejamkan matanya. Sepertinya ia akan segera tidur.
"Kamu tahu yang, aku sempet trauma sama wanita. Sama kayak kamu yang trauma sama pria. Bedanya aku menyembuhkan trauma itu dengan sibuk bekerja dan banyak berinteraksi dengan orang orang. Entah kenapa rasa trauma itu hilang begitu mudah ketika aku sudah bisa menerima kenyataannya," ucap Zayn.
"Kamu marah beneran ya? Padahal aku enggak pernah melakukan apa yang kamu pikirkan," ucap Zayn.
__ADS_1
Lambat laun, pria itu pun memejamkan matanya. Ia juga kelelahan, setelah kejadian penembakan kemarin ia harus langsung mengurus urus surat perpindahan Jenna dari rumah sakit Bali ke rumah sakit Jakarta. Namun setelah di Jakarta, Jenna malah ingin istirahat di rumahnya saja. Mau tak mau Zayn pun mengeluarkan sedikit uang untuk menyogok mereka agar membiarkan Jenna dirawat di rumah saja.
Setelah mereka di Jakarta pun, Zayn masih harus mengurusi hal lain seperti pekerjaan kantor, hotelnya di Bali yang baru saja terdapat musibah karena Jenna ditembak, ditambah dengan kasusnya. Zayn ingin mengusut tuntas siapa dalangnya meskipun dia sudah mencurigai seseorang, yaitu Eliza. Namun dengan tidak adanya bukti sama saja dia akan dicap sebagai penuduh.
Energi Zayn terkuras cukup banyak kemarin. Setelah urusan kantor selesai, ia harus mengurusi hotel Jizet proyeknya dan Jenna. Hotel itu memang sudah berdiri namun gara gara insiden kemarin maka Zayn harus putar otak agar hotel tetap banyak diminati. Melelahkan, namun itu adalah pekerjaan Zayn. Mau tak mau, suka tak suka dia harus tetap mengerjakannya.
Terdengar dengkuran halus dari arah samping Jenna. Wanita itu membuka matanya dan melirik ke arah sampingnya, Zayn tertidur dengan posisi memeluk perutnya. Sebenarnya kasihan juga, tapi Jenna kesal. Meskipun Zayn tidak pernah memainkan wanita tetap saja kan dia pernah dekat dengan wanita lain setelah Eliza dan sebelum dia.
"Kasihan, kecapean ya mas? Mana harus hadapi mood swing aku, maafin aku," bisik Jenna. Ia menarik tangan kanannya agar tidak ditimpa badan Zayn. Dan beralih memeluk pria itu dari samping.
"Aku suka sama kamu, seiring berjalannya waktu perasaan mulai tumbuh di hati aku untuk kamu. Makasih karena sudah rela membuang waktu hanya demi menunggu ku. Tapi, masih ada sedikit keraguan di hati ku mas. Aku masih takut dengan kekecewaan yang diberikan oleh laki laki. Memang, tidak semua laki laki seperti itu. Tapi, aku harap kamu mengerti kenapa aku seperti ini," ucap Jenna pelan.
Benar, perasaan untuk Zayn memang sudah ada. Bahkan Jenna sudah sangat nyaman dengan pria ini. Kejadian tidak terduga, patah hati karena Mario dan Jenna memutuskan pergi ke club. Bertemu dengan Zayn dan malah kembali melakukan hubungan itu setelahnya. Masih baik Jenna melakukan itu dengan Zayn, bayangkan jika Jenna melakukan itu dengan pria hidung belang atau om om perut buncit. Membayangkannya saja sudah membuat Jenna bergidik ngeri.
Jenna hanya berharap Zayn adalah obat yang dikirimkan tuhan padanya. Jenna akui Jenna memiliki banyak dosa, tapi apa salah dia berharap memiliki pasangan yang baik dan hanya cukup dia saja?
__ADS_1
Tbc.
Weh ramein weh. Diem diem bae deh, komen napa komen hm m m ðŸ«