One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
99. Sahabat Baik


__ADS_3

***


Sebagai sahabat yang baik, setelah mendengae kabar Jenna masuk rumah sakit, gadis itu langsung pulang dari Solo menuju Jakarta. Untungnya kedua orang tuanya mengijinkannya. Ale sudah menyelesaikan pekerjaannya secepat kilat di solo, ia sengaja seperti itu karena ingin segera menjenguk Jenna. Apalagi sebelumnya Jenna meneleponnya dan ingin bercerita, namun saat itu Ale sudah berangkat ke Solo. Jadi ia tidak bisa bertemu dengan Jenna. Baik Ale atau pun Jenna, kedua wanita itu tidak pernah bercerita panjang dan serius melalui ponsel. Mereka akan menyempatkan waktu terlebih dahulu untuk bertemu dan bercerita hingga bertukar cerita.


Siang harinya, sekitar pukul dua, Ale langsung memesan tiket dan langsung pergi ke Jakarta. Menghabiskan waktu beberapa jam, akhirnya Ale menapakan kakinya lagi di atas tanah. Ale langsung berjalan keluar bandara. Ia tidak membawa koper, hanya membawa tas selempangnya saja. Bodohnya ia lupa memesan taksi. Jadi ia harus berjalan sembari memesan taksi di ponselnya. Karena fokus pada ponsel, Ale tidak memperhatikan jalannya. Hampir saja ia menabrak tiang yang berada di dalam bandara. Namun untungnya sebelum menabrak, ada seseorang yang lebih dulu menariknya.


"Eh," ucap Ale terkejut. Ia pun melirik ke arah orang yang menariknya. Seketika matanya membulat.


"Hati hati makanya, apa ponsel lebih menarik?" Tanya Ryan.


Yap, orang yang membantunya agar tidak menabrak tiang adalah Ryan. Ryan Andreas.


"Engga gitu. Aku lagi pesen taksi, makanya gak lihat jalanan. Tadi lupa pesen," ucap Ale.


"Aku anterin aja. Sekalian aku juga mau pulang," ucap Ryan.


"Nggak usah. Saya bisa sendiri," ucap Ale. Hei, bagaimana bisa Ale satu mobil dengan pria ini?! Memang awalnya mereka dekat, namun setelah melihat berita yang beredar, Ale jadi sadar diri dan mundur teratur.


Beberapa waktu yang lalu, media membawa berita kedekatan Ryan dengan salah satu model papan atas. Bahkan mereka tertangkap beberapa kali pergi bersama. Saat itu Ale tidak mendapatkan jawaban apapun dari Ryan saat ia menanyakan hal itu. Bahkan Ale sudah lupa kapan ia mengirimkan pesan pertanyaan itu karena tidak ada balasan sama sekali dari pria ini.


Sejak saat itu Ale galau dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaannya saja. Ia bahkan rela ikut ke Solo, karena hal ini.


"Tapi aku memaksa," ucap Ryan. Ia menarik tangan Ale menuju keluar lobby. Saat di dekat mobilnya, Ryan langsung mendorong pelan tubuh Ale agar masuk ke dalam mobilnya. Ale tidak berontak, karena takut dengan tatapan orang orang bandara yang melihat ke arahnya. Mungkin karena ia bersama dengan pria yang selalu keluar masuk berita.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menjawab telepon ku? Apa sesibuk itu?" Tanya Ryan.


Mampus, sudah Ale duga pria ini akan menanyakan hal ini. Karena memang setelah kejadian dimana pesan yang ia kirim tidak dibalas oleh Ryan berhari hari membuatnya berpikir jika Ryan mendekatinya hanya karena gabut saja. Mungkin.


"Kenapa diam saja?" Tanya Ryan.


"Tidak. Saya memang sibuk di restoran," ucap Ale tenang.


"Pekerjaan di restoran apalagi seorang manager tidaklah sesibuk itu. Apa kamu marah gara gara aku tidak membalas pesan yang kamy kirim?" Tanya Ryan.


"Tidak. Sama sekali tidak, lagi pula untuk apa saya marah? Toh kita hanya sebatas orang yang saling kenal karena ketidaksengajaan kan? Itu urusan anda, maafkan kelancangan saya jika terlalu ingin tahu urusan anda," ucap Ale.


Demi apapun, jika Jenna disini, wanita itu sudah pasti akan menertawainya karena nada bicaranya yang sangat formal ini. Bahkan ketika bertemu dengan pelanggan restoran atau klien Ale hanya akan berbicara santai dan tidak seformal ini.


"Memangnya harus seperti apa?" Tanya Ale tersenyum sembari melihat ke arah depan, "Tolong berhenti disini. Tujuan saya sudah sampai."


Supir tidak berhenti sebelum mendengar perintah dari Ryan. Sedangkan pemuda itu terus menatap Ale lekat. Entah apa yang ada di pikirannya. Hanya saja ia cukup aneh, kenapa wanita ini berubah? Hanya karena berita seperti itu?


"Ryan? Bisa aku turun? Supir mu sepertinya tidak akan mendengarkan ku," ucap Ale.


"Kemana tujuan kamu?" Tanya Ryan.


"Rumah Jenna. Kekasih Zayn," ucap Ale.

__ADS_1


"Aku antar kesana," ucap Ryan. Tanpa diperintah supir pun langsung menuju ke alamat rumah Adam. Ia tahu Jenna adalah anak Adam. Seorang pengusaha sukses itu yang wajahnya sering kali terlihat di tv dan media lainnya.


Ale hanya mengangguk samar dan melihat ke arah lain. Jujur saja ka merasa awkard sekali, seharusnya kemarin ia tidak bertanya hal seperti itu. Jadinya kan seperti ini. Seharusnya Ale tidak perlu tahu, tapi jiwa jiwa keponya sangatlah tidak bisa dihilangkan. Rasanya jiwa jiwa kepo seperti ini sudah sangat mendarah daging.


Sementara Ryan, pria itu jadi bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Melihat sikap formal Ale membuatnya jadi kikuk. Bahkan ia jadi bingung harus bersikap seperti apa dengan wanita. Biasanya dia mudah membaur tapi kali ini, sangatlah berbeda.


Tak berselang lama mereka pun sampai di depan rumah Jenna. Ale mengucapkan terimakasih pada Ryan karena sudah mau mengantarkannya. Ale kira pria ini akan pergi tahunya pria ini ikut masuk karena ia tahu disana ada Zayn. Oh iya, sebelumnya Ale sudah diberitahu Jenna jika wanita itu sudah pulang di sore harinya.


Saat ini sudah menjelang malam, Ale langsung menuju ke rumah Jenna. Ia berjalan masuk dan menghiraukan Ryan. Menekan bel, tak lama pintu pun terbuka. Seorang ART datang membuka. Dia bi Uci.


"Malam bi," sapa Ale.


"Malam non Ale, silahkan masuk. Sudah ditunggu non Jejen di kamar," ucap bi Uci.


"Makasih bi," ucap Ale. Ia dan Ryan pun masuk ke dalam rumah. Ale sudah hafal letak kamar Jenna, jadi tanpa bertanya pun dia sudah sampai disana. Sedangkan Ryan, pria itu masih mengikuti langkah Ale. Ryan yakin Zayn masih disini. Mengingat seperti apa sikapnya pada wanita itu membuatnya berpikir jika Jenna memang wanita special untuk pria itu.


Ale mengetuk pintu beberapa kali. Cukup lama namun akhirnya pintu pun terbuka. Muncul sosok Zayn. Disana, dapat Ale lihat jika Zayn terkejut melihat ke arah Ryan. Pria itu langsung keluar dan mendorong tubuh Ryan agar tidak masuk. Sedangkan Ale, gadis itu langsung masuk ke dalam kamar.


"JENAIII, I COME," teriaknya membuat Jenna yang baru duduk pun menoleh. Wanita itu tersenyum dan merentangkan tangannya menerima pelukan sahabatnya.


"Sorry banget, gue malah kabur waktu lo butuh cerita," ucap Ale.


"Santai aja kali Le," ucap Jenna. Tiba tiba Ryan menerobos masuk diikuti Zayn. Membuat Jenna dan Ale saling pandang aneh.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2