
***
Jenna tersipu malu saat sikap gentel Zayn ia tunjukan padanya. Pria itu memasangkan gelang kaki untuknya. Jenna benar benar merasa sangat special sekali saat ini. Zayn benar benar tahu bagaimana caranya men-treat Jenna layaknya seorang ratu. Rasanya baru kali ini Jenna diperlakukan sangat baik dan sangat tulus oleh seorang pria yang menjadi kekasihnya. Sebelum sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan se-istimewa ini.
Bahkan beberapa pelayan toko juga pengunjung wanita terpekik kaget saat Zayn memasangkan gelang kaki pada kaki jenjang Jenna. Beberapa dari mereka bahkan berbisik bisik. Entah apa yang dibisikan oleh mereka, Jenna tidak tahu. Lebih tepatnya tidak mau tahu. Apapun yang mereka katakan tidak akan berpengaruh di hidupnya. Itu yang sering dia pegang supaya hatinya tidak sakit saat mendengarkan cemoohan orang untuknya.
"Cantik," puji Zayn.
"Gelang kaki atau aku?" Tanya Jenna.
"Gelang kaki," ucap Zayn. Jenna hanya mendengus saja.
"Karena kamu lebih cantik dari pada ini."
Blushhh...
Entah kenapa setiap Zayn memujinya atau melakukan hal hal yang manis, Jenna jadi cepat blushing. Padahal kan bisa dibilang apa yang dikatakan Zayn saat ini terbilang biasa saja. Tapi entah mengapa Jenna jadi sering blushing dan salah tingkah seperti ini.
"Kalo aja enggak di tempat umum, aku udah pasti bawa kamu ke atas ranjang," bisik Zayn. Jenna yang mendengarnya langsung melotot dan mencubit pelan tangan besar Zayn. Zayn hanya terkekeh saja. Tidak mungkin ada yang mendengarnya, di dekatnya hanya ada Jenna. Sedangkan pelayan tadi sedang mengurus billnya.
Tak berselang lama pelayan datang dengan memberikan bukti surat dan mengembalikan kartu milik Zayn.
"Terimakasih sudah datang," ucap pelayan toko.
"Sama sama. Salam buat pemilik tokonya, sepertinya beliau sedang sibuk di dalam. Jenna dan mas Zayn akan pulang sekarang," ucap Jenna.
"Baik nona."
__ADS_1
Zayn membawa Jenna keluar dari dalam toko tersebut. Ingatannya tentang ucapan dokter tadi seakan hilang. Padahal tadi Zayn sangat murung karena terus mengingat ucapan dokternya. Meskipun Jenna akan tetap bisa hamil, tapi tidak sekarang. Baiklah, Zayn akan menghormati keputusan Jenna. Yang penting Jenna sudah menjadi miliknya.
"Wow."
Jenna dan Zayn melihat ke arah depannya. Disana ada Yura. Iya, wanita penghibur yang sayangnya memiliki hubungan sodara dengan Jenna. Namun Jenna tidak pernah mengakuinya. Bahkan dari dulu dia tidak pernah menerima kehadiran Yura sebagai sodaranya. Jenna tetap menganggap Yura orang lain. Apalagi sikap pick me-nya yang selalu membuat Jenna jengah sekali.
"Abis morotin uang laki laki tampan ini ya? Hahaha, berarti lo sama gue sama aja. Suka morotin uang cowok," ucap Yura.
"Beda. Jenna hanya morotin uang saya, bukan semua pria. Dan lagi saya lajang, tidak beristri. Tidak ada salahnya jika Jenna melakukan hal itu, kebutuhan wanita banyak," ucap Zayn. Jenna tersenyum miring melihat ekspresi Yura yang tidak suka itu. Bodo amat, untungnya Zayn bisa membalikan ucapan Yura tanpa harus Jenna briefing dulu.
"Cih. So soan lo Jenn setia sama satu cowok. Biasanya juga bercabang, kayak gue gak tahu aja gimana hidup lo di Harvard," ucap Yura.
"Bukannya elo gak keterima di universitas itu? Kenapa jadi so tahu ya? Harusnya sih tahu diri. Gue bukan lo, lo bisa jalan sama tiga cowok dalam satu hari. Bahkan mungkin lebih, sering s*x juga sama mereka. Kayaknya penyakit menular s*x gak lo takutin ya?" Ucap Jenna.
Benar, ketika berhadapan dengan Yura, Jenna selalu membahas soal ini. Selain untuk membuat wanita ini malu Jenna juga mengingatkannya. Takutnya dia terlena dengan kenikmatan sesaat dan malah terkena penyakit itu. Sebenci apapun Jenna, dia masih memiliki setidaknya satu persen kepedulian pada manusia seperti Yura. Ingat, Jenna perhatian karena dia manusia. Jenna tahu memanusiakan manusia itu memang perlu. Tapi zaman sekarang, manusia banyak yang sifatnya mirip hewan.
"Gue selalu main rapi. Masalah gue kena atau enggan ya itu urusan gue, bukan urusan lo," ucap Yura.
Zayn langsung bertindak dengan mengajak Jenna masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Yura disana seorang diri. Jenna tentu saja menurut, lebih baik menjauh dari sumber penyakit seperti Yura. Iya dia sumber penyakit. Karena bertemu dengan Yura, emosi Jenna selalu naik dan mendidih.
"Gak usah kamu tanggepin sayang, dia kan gak punya otak," ucap Zayn. Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil.
"Enggak kok mas. Males," ucap Jenna.
"Tuh lihat, udah dapet mangsa dia," ucap Zayn menunjuk dengan dagunya ke arah Yura. Disana memang Yura tengah berbincang dengan seorang pria yang sudah berumur. Pria itu memakai kacamata.
"Ya elah, harga diri dia murah banget kayaknya. Masa dipegang gitu mau," ucap Jenna. Dia melihat Yura yang sedang berpegangan tangan dengan pria itu. Sepertinya mereka sudah janjian disana.
__ADS_1
"LIMA POLOH, LIMA POLOH." Jenna berteriak ke arah Yura. Yura yang mendengarnya langsung melemparkan tatapan tajamnya. Awas saja Jenna, Yura pasti akan membuat perhitungan pada wanita itu.
Sedangkan Zayn terkekeh mendengar teriakan wanitanya. Teriakan itu bermaksud untuk mengejek Yura. Entah Jenna tahu dari mana ucapan seperti itu. Ia pun melajukan mobilnya untuk pulang ke apartement. Seharian berkeliling membuatnya lelah juga. Apalagi Jenna yang kemana mana pakai hells. Sudah pasti kakinya akan pegal.
Perjalanan dari toko tadi mengahabiskan waktu sekitar dua puluh lima menit. Cepat, karena Zayn membawa mobilnya cukup ngebut. Mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk lift untuk sampai ke kamar mereka.
"Mas, Ale katanya gak mau nikah dulu sama Ryan sebelum terbukti dia hamil," ucap Jenna.
"Semua wanita yang dipaksa pasti akan seperti itu sayang. Kamu juga dulu kayak gitu, harus dipaksa sembari di ancam. Akhirnya kamu jinak," ucap Zayn.
"Dipikir aku ular apa, pake dibilang jinak segala," ucap Jenna kesal.
Cup...
"Iya ular, ular yang selalu meliuk liuk diatas ku. Kamu tahu, aku sangat sangat tergila gila ketika kamu berada diatas ku. Kamu benar benar cantik, sexy, dan menggoda sekali. Apalagi kalo kamu udah binal, rasanya aku benar benar beruntung telah menjerat kamu waktu itu," ucap Zayn.
"Senyumnya kayak om om pedo," ucap Jenna.
Tawa Zayn menggema di lorong apartement. Pria itu mengikuti Jenna masuk ke dalam unit apartment mereka. Seperti biasa, apartement Jenna selalu harum bunga rose, wangi yang selalu Zayn sukai.
"Yang," panggil Zayn.
"Dalem mas, kenapa?" Tanya Jenna.
"Aaaa, kan jadi meleyot. S*x yuk," ajak Zayn.
Plakk..
__ADS_1
"Gak usah ngadi ngadi mas," ucap Jenna setelah menggeplak bahu tangan Zayn.
Tbc.