One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
154. Penganggu


__ADS_3

***


Jenna dan Zayn kompak melihat ke arah dimana sumber suara itu ada. Orang yang memanggil Jenna adalah Mario, mantan kekasih Jenna.


Pria itu menggunakan baju pelayan cafe. Apa mungkin dia bekerja disini sekarang? Kenapa kebetulan sekali Mario bisa bekerja di cafe yang sering di kunjungi oleh Jenna setelah beberapa waktu Jenna tidak melihat pria ini. Mario terlihat lebih tirus dari sebelumnya. Apa kehidupan pria ini ada yang berubah?


Jenna tersadar saat Zayn menarik pinggangnya. Ia pun berdehem kemudian melangkahkan kakinya bersama dengan Zayn untuk pergi dari sana. Namun lagi lagi, panggilan dari Mario menghentikan langkah keduanya.


"Tunggu Jenna," ucap Mario.


"Kenapa?" Tanya Jenna. Zayn langsung memperingati Jenna melalui tatapannya. Kemarin Ghani sekarang Mario. Kenapa harus banyak pria yang tertarik dengan Jenna? Belum lagi beberapa orang di kantor juga klien, ditambah orang yang berpapasan pasti selalu terpesona dengan wanitanya. Zayn benar benar tidak suka sekali.


"Aku cuma sayang sama kamu mas," ucap Jenna pada Zayn setelah mendapatkan tatapan peringatan. Zayn sedikit lega mendengarnya meskipun tetap takut Jenna berpaling.


Kini Jenna menatap ke arah Mario. "Apa kabar?" Tanya Mario.


"Seperti yang lo lihat. Gue baik dan semakin baik setelah sama mas Zayn," ucap Jenna.


"Kenapa? Kenapa enggak menyembuhkan diri lo sendirian? Kenapa harus sama cowok?" Tanya Mario.


Jenna mengernyit, "Emangnya urusan sama lo apa? Bukannya gue udah gak punya urusan apa apa lagi sama lo?" Tanyanya.


"Ada. Kamu masih jadi kekasih aku, aku gak nerima putus hubungan dari kamu. Bukannya putus sepihak itu dianggap tidak fair?" Tanya Mario.


"Gak tahu diri sama gak sadar diri itu beda tipis. Harusnya lo pasang kaca yang gede di rumah lo. Kalo perlu kemana mana lo bawa kaca itu biar tahu diri. Lo pikir gue masih mau sama lo yang udah s*x sama cewek murahan itu? Mikir lah, kalo gue yang kayak gitu emang lo mau nerima gue lagi? Enggak kan? Jadi manusia jangan egois, perasaan gue udah hilang seketika saat tahu lo ngelakuin itu sama Yura. Jadi stop ganggu hidup gue," ucap Jenna. Wanita itu menarik tangan Zayn untuk pergi dari sana meninggalkan Mario. Jenna sudah muak sekali, ia kira Mario sudah berubah. Tahunya masih sama.

__ADS_1


"JENNAI, AKU BAKALAN REBUT KAMU LAGI. KAMU CUMA BISA SAMA AKU, GAK BISA SAMA LAKI LAKI ITU ATAU PUN LAKI LAKI LAIN," teriaknya tidak tahu malu.


Jika saja Jenna tidak menahan Zayn, mungkin pria itu sudah kembali ke hadapan Mario dan membogem wajah pria tidak tahu diri itu. Zayn ikutan kesal, pasalnya sudah tidak tahu diri masih saja berusaha mengejar. Benar benar ada manusia seperti itu ternyata. Zayn kira tidak ada.


"Udah mas, jangan kamu ladenin orang gak punya pikiran kayak gitu. Kamu kan orang berpendidikan, aku gak akan balik sama dia lagi," ucap Jenna.


"Aku akan memastikan hidup dia gak tenang sayang, dan aku juga akan memastikan tidak akan ada pekerjaan yang akan menerima dia," ucap Zayn. Pria itu mengepalkan tangannya saking emosinya. Sedangkan Jenna hanya mampu mengelus pelan bahu tangan Zayn. Ia mencoba menenangkan pria itu. Sedangkan Zayn langsung memeluk tubuh Jenna. Mencoba meredam emosinya yang memuncak.


"Aku cuma sayang sama kamu mas. Gak ada yang lain, kamu ingat kan ucapan aku tadi pagi apa," ucap Jenna.


"Ingat sayang. Aku cuma gak suka aja sama cowok tadi," ucap Zayn.


"Itu hak kamu, tapi aku minta kamu jangan berurusan lagi sama dia. Bukan maksud aku bela dia dengan melarang kamu untuk menutup semua perusahaan untuk dia, aku hanya tidak mau berurusan lagi dengan dia mas. Aku harap kamu paham," ucap Jenna.


"Udah ya? Mami sama papi udah disini kayaknya. Tadi aku lihat mobil papi di parkiran," ucap Jenna. Zayn menganggukan kepalanya patuh. Pria itu pun melepaskan pelukannya dan mengecup pelan kening Jenna. Posisi mereka saat ini sedang berada di tangga. Tidak banyak orang lalu lalang, sebab untuk meja di rooftop harus booking satu jam sebelumnya.


Jenna dan Zayn pun melangkahkan kakinya menuju ke lantai rooftop. Benar saja, disana sudah ada kedua orang tua Jenna dan juga kedua orang tua Zayn. Lita dengan semangat menyambut Jenna begitu pun dengan Jeni.


"Kalian kok lama banget sih," ucap Lita. Ia menarik Jenna untuk duduk di sampingnya. Bersamaan dengan Zayn.


"Ada kendala sedikit tadi, jadi agak lama ma," ucap Zayn.


"Kendala apa?" Tanya Jeni.


"Man-,"

__ADS_1


"Ada pelayan yang hampir nabrak Jenna sama mas Zayn tadi. Untungnya gak kena tumpahan karena mas Zayn gesit menghindar," ucap Jenna memotong ucapan Zayn. Wanita itu menoleh ke arah Zayn dan menganggukan kepalanya. Jenna bukan bermaksud untuk menutupinya, hanya saja lebih baik memang tidak memberitahunya. Mario hanya orang lain untuk dia dan orang orang di sekitarnya.


"Astaga. Seharusnya memang mami gak milih cafe, pelayanannya minus ternyata," ucap Jeni.


"Tidak semua cafe seperti itu tante," ucap Zayn. Pria itu meremas tangan Jenna seolah mengkode jika Zayn memang sedikit kesal dengan wanita ini karena terkesan seperti membela Mario. Namun Zayn sebisa mungkin menghapus pemikiran seperti itu. Mungkin Jenna memiliki alasan sendiri.


"Tapi memang seharusnya kita pilih restoran aja sih Jen. Pelayanannya kok buruk gini ya? Aku harus komplain sama managernya," ucap Lita.


"Sudah, sudah. Jangan memperpanjang masalah, lagi pula Jenna dan Zayn kan tidak apa apa. Lebih baik kita bahas soal penting saja disini," ucap Rendra menengahi.


"Benar. Masalah sepele seperti itu tidak perlu diperpanjang," ucap Adam.


"Baiklah," ucap Jeni dan Lita.


Sebelum membahas soal yang sangat penting, kedua keluarga memutuskan untuk makan lebih dulu. Jenna memesankan makanan untuk Zayn sesuai yang dia katakan di mobil tadi. Ada beberapa makanan yang Jenna sukai disini. Jenna memesannya untuknya dan untuk Zayn.


Zayn tersenyum senang saat melihat Jenna makan banyak. Ternyata wanita ini menepati ucapannya. Zayn benar benar senang sekali. Setelah bersamanya, pipi tirus Jenna sedikit maju karena tembam. Belum lagi body wanita ini juga sedikit lebih montok dari sebelum bertemu dengannya. Zayn memang mekanik yang handal.


"Kenapa?" Tanya Jenna saat melihat Zayn yang sedang memperhatikannya.


Zayn menggelengkan kepalanya, "Enggak. Aku suka aja lihat kamu makan. Lahap banget," ucapnya.


"Ini enak. Makanya tadi aku gak banyak makan pagi biar disini makan banyak mas," ucap Jenna sedikit pelan. Namun Zayn tetap bisa mendengarnya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2