
🥹✊️✊️
***
Setelah menempuh perjalanan berjam jam, akhirnya Jenna dapat bernafas lega karena kakinya sudah menapak kembali diatas tanah. Ia dan Zayn keluar dari dalam pesawat dan naik ke dalam mobil. Hari ini mereka belum ada agenda karena ini hari minggu, artinya hari libur.
Seharusnya mereka berangkat besok senin saja, namun entah mengapa hari minggu mereka sudah harus berangkat. Kemarin hari sabtu, weekend Jenna dihabiskan bersama dengan Zayn dan hari ini yang juga weekend ternyata akan ia habiskan dengan Zayn juga.
"Nyender aja sama bahu saja Jenn kalo masih ngantuk," ucap Zayn. Karena diperbolehkan, Jenna pun menyandarkan kepalanya pada bahu Zayn. Bahu lebar dan keras itu menjadi tumpuan kepalanya.
Jenna tidak tahu mereka akan menginap dimana, yang jelas Jenna percayakan tempat tinggal yang bagus untuknya pada Zayn. Jenna sudah pernah beberapa kali liburan ke Bali. Jadi ia tidak terlihat ceria seperti awal awal kesini.
Hari liburnya selalu ia habiskan untuk tidur. Jadi hari ini ia pasti akan sering tertidur.
"Sudah sampai pak," ucap supir di depan.
Mereka sampai di salah satu hotel yang akan mereka tinggali selama beberapa hari ke depan. Zayn melirik ke sampingnya, Jenna masih tertidur. Mulutnya sedikit terbuka. Pria itu perlahan memindahkan kepala Jenna dan turun dari dalam mobil.
"Tolong dibawa ke dalam," ucap Zayn pada supir itu.
"Baik pak."
Zayn sendiri beralih ke pintu mobil. Ia mengeluarkan tubuh Jenna perlahan dari dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam hotel. Zayn memangku tubuh Jenna ala bridal. Pegawai hotel menunduk memberi hormat, begitu juga dengan managernya hendak menyambut Zayn namun Zayn menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau tidur wanitanya terganggu.
Zayn masuk ke dalam lift bersama dengan Mathew. Pria itu membawa dua koper milik Zayn dan Jenna.
Sebenarnya kamar hotel mereka berbeda hanya saja bersebelahan. Zayn masuk ke dalam kamar Jenna dengan bantuan Math.
"Jangan ganggu aku. Jika ada urusan apapun, beritahu mereka aku bisa dihubungi besok," ucap Zayn sebelum tubuhnya hilang dibalik pintu kamar hotel. Sedangkan Math mengangguk patuh.
__ADS_1
Zayn perlahan menidrukan tubuh Jenna diatas kasur. Ia kemudian melepas hells yang digunakan wanita itu. Zayn juga melepas jas dan sepatunya juga sabuk di pinggangnya. Setelah itu ia ikut berbaring bersama dengan Jenna.
Beberapa menit berlalu, Zayn tidak bisa tidur karena tubuhnya terbalut kemeja. Zayn terbiasa tidur tanpa atasan. Pria itu pun membuka kemejanya dan melemparnya asal kemudian kembali tidur bersama dengan wanitanya. Zayn juga menaikan selimut untuk menutupi tubuh mereka. AC sengaja disetel dalam suhu yang dingin.
Tak berselang lama, Jenna mendekatkan tubuhnya ke dekat tubuh Zayn. Wanita itu bergerak mencari kenyamanan dan kehangatan. Tanpa sadar, wanita itu memeluk tubuh Zayn.
Zayn memiringkan badannya agar ia juga memeluk Jenna. Lagi dan lagi bibir wanita itu sedikit terbuka, seolah meminta Zayn untuk melum*tnya.
"Jangan salahkan aku jika bibir mu nanti bengkak. Kamu sendiri yang sudah menggoda ku sayang," bisik Zayn. Pria itu mendekatkan bibirnya agar menempel dengan bibir Jenna. Ia sedikit melum*tnya dan melirik ke arah Jenna. Wanita itu masih tertidur pulas.
Zayn tersenyum miring, sepertinya wanita ini memang ingin bibirnya dibuat bengkak.
***
Tiga jam berlalu, Jenna pun bangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya terbuka sempurna. Jenna bangun dari tidurnya namun tertahan oleh sesuatu. Ia melirik ke sampingnya, pupil matanya membulat saat melihat Zayn tidur tanpa baju. Hampir saja Jenna menjerit terkejut.
"Satu, dua, gilak! Delapan kotak," pekiknya.
Biasanya dia selalu melihat itu di dalam drama koreanya atau salah satu aktor yang meng-upload foto shirtless yang menampilkan perut kotak kotaknya. Dan ini, Jenna melihatnya real secara langsung. Tangannya terangkat untuk meraba perut kotak kotak itu, namun ia menahannya. Takut yang punya-nya bangun.
Jenna menetralkan detak jantungnya kemudian bangun. Matanya sangat jelalatan melihat pemandangan indah itu.
Namun saat ia bangun, tiba tiba Zayn bergerak dalam tidurnya dan kembali memeluk tubuh Jenna layaknya sebuah guling. Pria itu menduselkan wajahnya ke leher Jenna. Hampir saja Jenna mendes*h kegelian akibat ulah pria itu.
"Ya allah, kuatin Jenna," gumamnya.
Jenna pun menepuk nepuk tangan Zayn yang memeluk tubuhnya cukup erat. Jujur saja bukannya nyaman yang ada malah sesak. Zayn bergumam saat ada usapan lembut di tangannya. Ia pun membuka matanya menyipit
"Lepas om, Jenna bukan guling," ucap Jenna.
__ADS_1
"Kamu guling hidup punya saya," ucap Zayn. Dia semakin menduselkan kepalanya pada leher Jenna. Hal itu tentu saja membuat Jenna semakin kegelian. Pasalnya rambut pria itu bergesekan dengan leher dan ujung telinganya.
"Geli om, lepasin," ucap Jenna. Tangannya berusaha berontak namun sangat kesulitan.
Bagaimana tidak sulit, kedua tangannya dikunci pergerakannya oleh kedua tangan Zayn dan kakinya juga ikut ikutan di kunci oleh pria itu. Zayn mendengarkan ucapan wanita yang berada di dalam pelukannya. Namun bukan melepaskan, melainkan sedikit melonggarkan pelukannya.
"Nyaman gak Jenn? Saya nyaman banget. Biasanya saya gak punya wanita buat dipeluk kayak gini. Kalo meluk mama, yang ada papa marah," ucap Zayn.
"Kok gitu? Kan om anaknya. Masa marah," ucap Jenna.
"Papa posesive banget sama mama. Kata papa, sulit banget buat dapetin mama dulu. Makanya setelah dia dapetin mama sepenuhnya dalam ikatan pernikahan, dia selalu berusaha untuk membuat mama selalu disampingnya," ucap Zayn.
"Gitu. Yaudah lepasin Jenna sekarang om," ucap Jenna.
"Sebentar, ini benar benar nyaman Jenn. Saya tidak pernah sedekat ini dengan seorang wanita. Bahkan dengan mama saya sendiri. Selama ini saya hanya dekat dengan kamu," ucap Zayn.
"Ya tapi Jenna risih om," ucap Jenna.
"Kamu harus terbiasa Jenn. Apa sesulit itu menerima saya dalam hidup kamu ya?" Tanya Zayn pelan.
Entah kenapa ketika Zayn membahas soal ini, hati Jenna terasa tidak tega. Apalagi mendengar nada bicara Zayn yang seolah sedang putus asa karena mungkin Zayn juga merasa lelah karena terus menerus ditolak oleh Jenna.
Jenna mengangkat tangannya dan bangun dari pelukan Zayn.
"Maafin Jenna. Sudah dari awal Jenna bilang kan, jangan berharap lebih dengan Jenna. Jenna benar benar belum bisa menerima pria lain di hidup Jenna," ucap Jenna tersenyum namun hatinya merasa sakit saat mengucapkan hal itu.
Jenna tahu ketulusan Zayn, hanya saja ia belum siap.
Tbc.
__ADS_1