One Night With Mr. Z

One Night With Mr. Z
90. Dia Luka Sekaligus Obat


__ADS_3

***


Zayn menatap Jenna saat melihat wanita itu terdiam setelah mendengar ucapannya. Apa ucapannya ada yang salah? Ia mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Jenna, terlihat wanita itu sedikit terkejut.


"Why?" Tanya Zayn.


"Enggak papa. Sekarang kan kita sudah jadi sepasang kekasih, maybe. Apa boleh Jenna bertanya sesuatu hal?" Tanya Jenna.


"Hubungan kita memang sudah menjadi sepasang kekasih sayang, bukan mungkin lagi. Tanyakan saja, apa yang membuat mu tidak nyaman?" Tanya Zayn.


"Sebelum Jenna, om pernah punya wanita lain?" Tanya Jenna. Zayn menggeleng.


"Hanya kamu," ucap Zayn.


Oke, mungkin Jenna harus percaya dan menghilangkan pikiran negatif tentang pria ini. Bagaimana pun landasan hubungan awet adalah kepercayaan bukan?


"Oke kalo gitu," ucap Jenna. Ia pun meminum orange juice.


"Apa kamu tidak yakin dengan aku?" Tanya Zayn.


"Entahlah, aku hanya ingin tahu masa lalu kamu. Tapi sepertinya kamu tidak mau membaginya. Ya sudah tidak apa apa, biarkan saja kamu menyimpannya sendiri. Bukannya landasan hubungan dua orang itu kepercayaan kan? Jadi aku hanya berusaha percaya saja," ucap Jenna acuh.


Zayn tahu betul jika Jenna memang hanya ingin tahu karena Zayn juga tahu masa lalu gadis itu. Namun Zayn tidak ingin Jenna jadi ragu dengan hubungan mereka. Apalagi hubungan mereka baru saja membaik.


"Apapun yang terjadi di masa depan nanti, percayalah aku hanya mencintai kamu. Tidak dengan wanita lain, ingat itu sayang," ucap Zayn. Jenna hanya mengangguk sekilas. Mereka pun pergi dari sana dan kembali ke kantor. Zayn mengantar Jenna lebih dulu.


Di dalam mobil tidak ada percakapan sama sekali. Sebenarnya Zayn sudah mengajak Jenna berbicara namun Jenna hanya menjawabnya sekilas dan seperlunya saja. Apa wanita itu benar benar marah? Hanya karena masa lalunya saja?


Ayolah, Zayn bukan tidak mau memberitahu Jenna, ia sudah melupakan kisah kelam itu, lagi pula sekarang ia sudah menjalani kehidupannya yang baru dengan Jenna. Bahkan ia berharap jika Jenna adalah takdir masa depannya sampai maut menjemputnya.


"Tunggu dulu," ucap Zayn saat Jenna akan keluar dari dalam mobil. Kebetulan mereka sudah sampai di lobby kantor.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Jenna.


"Jangan marah," ucap Zayn. Ia mengambil tangan Jenna dan menggenggamnya.


"Jenna cuma takut, om kayak tutup tutupin sesuatu," ucap Jenna.


"Enggak sayang, aku gak nutupin apapun. Aku akan ceritakan semuanya, tapi nanti. Lagi pula itu sudah masa lalu," ucap Zayn.


"Ya terserah. Jenna bete, pergi dulu," ucap Jenna. Ia pun keluar dari dalam mobil dan pergi dari sana menuju ke kantornya. Sedangkan Zayn memukul stir mobilnya. Ia pun keluar dari dalam mobil dan melempar kunci mobilnya pada satpam di depan lobby. Ia berlari mengejar Jenna.


Sadar karena Jenna marah kepadanya, ia pun harus memperbaiki semuanya dulu sebelum pergi. Jenna masih wanita labil. Justru karena dia seperti ini Zayn jadi yakin jika wanita itu memang sudah mencintainya.


Jenna cepat sekali sampai ke ruangannya, padahal hanya selang beberapa menit saja dengan Zayn. Tapi Zayn sudah kehilangan Jenna melalui lift. Zayn pun menggunakan lift lain menuju ke lantai yang ada ruangan Jenna.


Sedangkan Jenna terdiam. Ia mudah sekali overthinking dan berakhir dengan seperti ini. Ia sulit mempercayai seseorang lagi setelah kepercayaannya dihancurkan oleh Mario. Semua itu seakan seperti trauma yang sangat dalam dan membekas di hidup Jenna. Wanita itu jadi lebih protektif dalam memberikan kepercayaan pada orang lain.


Jenna sampai di ruangannya. Ia berdiri dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja kerjanya. Sialan! Dia overthinking karena pikirannya sendiri.


Zayn. Pria itu langsung memeluk wanitanya saat Jenna berbalik arah. Ia mengelus pundak Jenna untuk menenangkan wanita itu.


"Aku harus ke psikologi om, aku gak mau kayak gini terus. Berpikiran negatif ke setiap orang, bahkan aku gak bisa kasih kepercayaan ke mereka," ucap Jenna.


"No. Kamu gak butuh psikolog, kamu cuma butuh diri kamu sendiri. Percaya dan yakin kalo enggak semua orang kayak bajing*n itu," ucap Zayn.


"Maafin sikap Jenna. Jenna gak seharusnya kayak gini sama om, Jenna terlalu kekanakan ya?" Tanya Jenna.


"Enggak. Kamu wajar kalo kayak gini, kamu cuma takut dikecewakan lagi. It's okay, aku bisa ngerti soal ini sayang," ucap Zayn.


"Maaf," ucap Jenna. Zayn yang sudah kesal dengan permintaan maaf dari Jenna pun mengurai pelukannya dan mengecup bibir pink itu agar diam. Jenna memejamkan matanya saat Zayn menciumnya.


"Gak usah kerja ya? Kamu istirahat aja," ucap Zayn.

__ADS_1


Jenna menggelengkan kepalanya, "Gak enak sama yang lain. Jangan karena Jenna anak papi dan kerja di perusahaan papi, Jenna jadi seenaknya. Jenna gak mau karyawan lain berspekulasi kayak gitu. Gak papa, Jenna kerja aja," ucap Jenna tersenyum.


"Ingat malam ini, mama dan papa mengajak mu untuk makan malam bersama. Aku akan menjemput kamu nanti pulang kerja," ucap Zayn.


Jenna menganggukan kepalanya, "Pasti bahas hubungan kita. Jenna takut nikah sama om, tiap malem di unbox pasti."


Wanita itu mengucapkan itu dan membenturkan dahinya pada dada bidang pria itu.


"Itu harus. Kamu tahu kan se-baper apa Zayn's junior kalo udah berurusan sama kamu? Jujur saja, dia baru kayak gini setelah aku kenal sama kamu. Bahkan aku jadi nakal setelah kenal sama kamu," ucap Zayn.


Buk...


"Sembarangan! Sebelum kenal Jenna juga om udah nakal. Apalagi sama temen temen kamu yang namanya Ryan sama Ghani. Pria perusak lubang pipis, apa kamu juga sering gitu?" Tanya Jenna.


"Kok nanya? Ya jelas kayak gitu lah, tapi sama kamu. Kan aku kayak gitu cuma sama kamu," ucap Zayn.


"Ih, gak gitu. Maksud aku sama wanita lain. Bukan sama aku," ucap Jenna.


"Gak ada tuh, lubang kamu lebih nikmat sayang," ucap Zayn.


"Mesum. Udah sana pergi. Jangan disini mulu, Jen a gak kerja kerja kalo kayak gini," ucap Jenna.


"Okay, tiga jam lagi aku jemput. Jatah di mobil ya," ucap Zayn sembari berjalan pelan menjauh.


"OMMM, MESUM IH!!" Ucap Jenna geram.


Zayn hanya terkekeh dan pergi pamit dari sana menuju ke kantornya lagi sedangkan Jenna menghela nafasnya. Bersama Zayn memang membuatnya selalu overthinking namun bersama Zayn juga Jenna sangat bahagia. Bahkan pria itu selalu membuatnya tersenyum. Kenyamanan yang Zayn berikan mampu membuat Jenna tenang.


"Aku tunggu soal wanita bernama Eliza dari mulut kamu, sayang."


Tbc.

__ADS_1


Swwepiiiiii hmzt


__ADS_2